Monday, 19 October 2026


Smart Farming Mulai Diandalkan KPS Muara, Layanan Uji Varietas Makin Cepat dan Akurat

15 Nov 2025, 12:34 WIBEditor : Gesha

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Ali Jamil, saat meninjau langsung fasilitas KPS Muara bersama Kepala PVTPP Leli Nuryati

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Smart farming mulai jadi andalan di KPS Muara. Teknologi sensor dan pemantauan digital bikin layanan uji varietas berlangsung lebih cepat, akurat, dan responsif terhadap kebutuhan petani maupun industri benih.

Kebun Pengujian Substantif (KPS) Muara di bawah Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PVTPP) kini bergerak semakin modern.

Pemanfaatan teknologi smart farming mulai menjadi tulang punggung operasional kebun uji ini, terutama untuk memastikan layanan pengujian varietas berlangsung lebih cepat, efisien, dan akurat.

Sistem irigasi presisi, sensor digital, monitoring berbasis aplikasi, hingga fasilitas embung terintegrasi kini menjadi bagian dari rutinitas harian di lapangan.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Ali Jamil, saat meninjau langsung fasilitas KPS Muara bersama Kepala PVTPP Leli Nuryati, menegaskan  penggunaan teknologi bukan lagi pilihan pelengkap.

“Smart farming ini penting banget. Apalagi kita punya dua musim ekstrem. Jangan sampai air jadi faktor pembatas dalam uji varietas,” ujarnya. Sabtu, 15/11 2025.

Menurutnya, kualitas hasil uji hanya bisa terjamin jika faktor agronomis seperti suplai air, iklim mikro, dan kesehatan tanaman terkontrol dengan baik.

Kepala PVTPP Leli Nuryati menyebut smart farming sangat membantu efisiensi tenaga. “Pemerintah tidak bisa lagi menambah banyak tenaga non-ASN. Jadi teknologi memang solusi. Monitoring cukup dari HP, dan air hanya keluar sesuai kebutuhan,” katanya.

Transformasi Fasilitas

Transformasi KPS Muara tidak hanya terjadi pada aspek teknologi, tetapi juga pada kepastian lahan dan penguatan fasilitas.

Kerja sama lahan antara KPS Muara dan Balai Besar BRMP Padi dimulai tahun 2023 melalui Memorandum of Understanding peminjaman lahan yang difasilitasi BSIP.

Dokumen itu berkembang menjadi Berita Acara Serah Terima (BAST) Pinjam Pakai Nomor 302/PL310/H/04/2024, dan kembali diperbarui menjadi Berita Acara Penggunaan Sebagian Barang Milik Negara (BMN) pada 20 Oktober 2025.

Dari sisi fisik bangunan, kondisi 2023 masih jauh dari ideal karena gedung belum beroperasi akibat proses perbaikan.

Tahun 2024, kantor digunakan bersama oleh unit PVT dan IP2-SIP.

Baru pada 2025 fasilitas gedung dan lahan parkir digunakan sepenuhnya untuk KPS PVT Muara dengan cakupan total 1,55 hektare.

Secara keseluruhan, luas lahan KPS Muara mencakup area awal blok O seluas 2,8 hektare yang kemudian dilakukan tata ulang menjadi 14.533,3 meter persegi dengan pembagian sebagai berikut, Cluster Blok OA: 9.000 meter persegi, Cluster Blok OA13 dengan embung seluas 1.030 meter persegi, dan Cluster Blok B2: 4.503,3 meter persegi.

Untuk memperkuat keamanan dan batas wilayah, pembangunan pagar dilakukan dalam dua tahap mengelilingi Blok OA sepanjang total 451 meter, ditambah pagar Blok OB sepanjang 44 meter.

Sistem Irigasi Terintegrasi

Air menjadi faktor krusial dalam uji varietas. Karena itu, sejak pertengahan 2025, KPS Muara memiliki embung berkapasitas 500 m⊃3; dengan dimensi 20 x 25 meter (bentuk trapesium, tinggi 1 meter).

Embung ini menampung air hujan pada musim penghujan dan menjadi sumber utama pada musim kemarau.

Dari sumber air ini, sistem smart farming bekerja mengalirkan air ke 13 petakan di Blok OA seluas 9.000 meter persegi.

Tiga petakan pertama (OA1 hingga OA3) menggunakan irigasi tetes khusus tanaman hortikultura dengan mulsa plastik. Setiap bedeng memiliki dua jalur drip tape dengan jarak lubang tetes 20 cm.

Sisa 10 petakan (OA4 hingga OA13) dioperasikan dengan irigasi sprinkler.

Total terdapat 51 sprinkler yang terbagi dalam lima baris saluran, masing-masing berisi 8 hingga 15 unit tergantung panjang petakan.

Jarak antar-sprinkler bervariasi antara 8 hingga 12 meter, dengan radius semprot 10–15 meter.

Seluruh sistem bisa dikontrol langsung dari gawai melalui aplikasi “Smart Line” yang terhubung ke jaringan internet.

Operator hanya perlu memilih zona, mengatur durasi, dan menyetujui operasi dan penyiraman kemudian berjalan otomatis sesuai kebutuhan tanaman.

Menariknya, sistem irigasi yang digunakan bukan impor, tetapi karya petani muda binaan Kementerian Pertanian.

Lonjakan Permohonan

Modernisasi fasilitas ini juga berdampak pada peningkatan layanan. Pada 2023, KPS Muara baru menangani 9 varietas dalam skema pengujian BUSS (Uji BUSS).

Angka itu melonjak menjadi 27 varietas pada 2024 dan kembali meningkat signifikan menjadi 41 varietas pada 2025. Total 61 varietas sudah mendapatkan sertifikat hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT).

Kegiatan monitoring keragaan tanaman yang mulai berjalan pada 2024 mencatat 13 varietas, dan meningkat menjadi 28 varietas pada 2025.

Kegiatan monitoring keragaan tanaman yang mulai berjalan pada 2024 mencatat 13 varietas, dan meningkat menjadi 28 varietas pada 2025.

Jenis tanaman yang diuji pun semakin beragam: padi, jagung, cabai, kacang panjang, edamame, singkong, buncis, hingga kangkung.

Koleksi tanaman tahun 2024 mencakup padi, talas, buncis, edamame, singkong, dan kacang tanah. Sementara koleksi 2025 diperkuat dengan durian (3 pohon), lengkeng lokal (1 pohon), serta varietas padi IR36 dan Sinta Nur di Blok B2.

Dengan tambahan dukungan lahan dari BRMP Padi, kapasitas pengujian ditargetkan melonjak hingga mampu menangani 50–100 varietas per tahun.

Digitalisasi Layanan

Selain smart farming, digitalisasi layanan juga menjadi faktor percepatan proses. Seluruh permohonan perlindungan varietas kini dapat dilakukan secara online melalui aplikasi Apply PVT.

Pemohon, termasuk dari luar negeri, tidak perlu lagi hadir ke kantor. Semua proses mulai dari pengajuan, unggah dokumen, pemantauan status, hingga pembayaran mengikuti sistem digital yang terintegrasi.

“Pemohon tidak perlu datang ke kantor lagi. Semua bisa dari aplikasi, termasuk untuk pemohon luar negeri,” ujar Leli Nuryati. Saat ini tersedia sekitar 50 konsultan PVT serta sembilan pemeriksa PVT yang fokus menangani KPS Muara.

Per Februari 2024, pemeriksa PVT mulai berkedudukan tetap. Tahun 2025 struktur kerja semakin solid dengan adanya Ketua Tim Kerja KPS PVT III, yang membawahi total 9 pemeriksa PVT, 1 staf, 2 tenaga honorer, dan 7 tenaga harian lepas (THL).

Untuk memastikan hasil uji relevan dengan kondisi optimal tanaman, PVTPP juga menyesuaikan lokasi pengujian berdasarkan zona agroklimat.

KPS Muara berfokus pada agroklimat tertentu, sementara kebun uji lain berada di Manoko Lembang (dataran tinggi) dan Mojosari (dataran rendah). Penyesuaian ini membantu memastikan varietas diuji sesuai habitat tumbuhnya.

Dengan dukungan teknologi smart farming, sistem digital, fasilitas lahan yang semakin tertata, serta kekuatan SDM yang lebih siap, KPS Muara diproyeksikan menjadi model kebun uji modern tingkat nasional.

Selain mempercepat proses perlindungan varietas, tata kelola ini diharapkan mendorong inovasi pemuliaan tanaman Indonesia agar lebih kompetitif di masa depan.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018