Sunday, 12 April 2026


Tahun 2026, Kementan Siapkan Bantuan 38.969 Unit Alsintan

10 Mar 2026, 12:18 WIBEditor : Yulianto

Bantuan alsintan kepada petani untuk mengatasi kekurangann tenaga kerja

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Kementerian Pertanian terus mengakselerasi modernisasi pertanian melalui penguatan alat dan mesin pertanian (alsintan) guna mendukung target swasembada pangan. Mekanisasi ditempatkan sebagai strategi utama untuk menjawab tantangan berkurangnya tenaga kerja pertanian dan meningkatnya usia petani di berbagai daerah.

Untuk tahun 2026, pemerintah menargetkan penyaluran 38.969 unit alsintan yang terdiri atas 2.950 unit traktor roda empat, 1.270 unit traktor roda dua crawler, 7.102 unit traktor roda dua, 11.000 unit pompa air, 13.759 unit handsprayer, 2.750 unit rice transplanter, dan 138 unit drone pertanian. 

Peran alsintan dalam menyokong usaha tani kini tak bisa diabaikan lagi. Bahkan alsintan memiliki peran sentral dalam transformasi pertanian. Artinya, alsintan bukan sekadar alat bantu, tapi menjadi instrumen penting mempercepat tanam, meningkatkan produktivitas, dan menekan kehilangan hasil.

”Ini adalah fondasi menuju pertanian modern,” ujar Kapoksi Kelembagaan Direktorat Alsintan, Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian  Gunawan Suhendro saat webinar PERTANIAN GO MODERN, SWASEMBADA PANGAN MAKIN KUAT yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Rabu (25/2).

Gunawan mengatakan, proses penyaluran bantuan alsintan dilakukan secara terstruktur dan transparan. Tahapan dimulai dari usulan kebutuhan penyuluh dan dinas pertanian kabupaten atau kota yang diverifikasi melalui aplikasi e-Banper. Analisis kebutuhan didasarkan pada luas lahan, data penyaluran sebelumnya, serta kinerja alsintan di lapangan.

Prosesnya, Dinas Daerah kabupaten/kota mengusulkan CPCL (Calon Penerima Calon Lokasi) setelah berkoordinasi dengan Kementerian melalui Ketua Tim Kerja Penyuluh Pertanian kabupaten/kota.

Kemudian, Dinas Provinsi memverifikasi usulan Dinas Daerah kabupaten/kota melalui eBanper. ”Nantinya hasil verifikasi dari Dinas Daerah provinsi dilakukan verifikasi lanjutan pada eBanper oleh Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian,” katanya.

Pengadaan dilaksanakan melalui e-Katalog LKPP dengan pengawalan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah, BPKP, dan aparat penegak hukum guna memastikan akuntabilitas. Setelah pengadaan, distribusi dilakukan hingga ke titik bagi, bahkan dapat langsung ke kecamatan atau kelompok tani sesuai kebijakan terbaru.

Pengawasan dan pelaporan secara berjenjang melalui aplikasi DITA sehingga seluruh data pemanfaatan terdokumentasi secara digital. “Semua tercatat, mulai dari lokasi, jenis alsintan, hingga penerima manfaat. Ini bentuk transparansi dan akuntabilitas kami,” tegasnya.

Menurutnya, penggunaan alsintan mampu mengatasi keterbatasan tenaga kerja di lapangan. Selain mempercepat proses olah tanah dan tanam, mekanisasi juga meningkatkan indeks pertanaman dan efisiensi biaya produksi. “Dengan mekanisasi, biaya bisa ditekan, waktu kerja lebih singkat, dan hasil lebih optimal. Juga mendukung transformasi pertanian modern,” kata Gunawan.

Kementerian Pertanian mengalokasikan anggaran alsintan sekitar Rp4,19 Triliun untuk mendukung kegiatan optimalisasi lahan yang telah berjalan sejak 2024 melalui Brigade Pangan, cetak sawah dan juga program strategis lainnya. ”Dukungan ini difokuskan untuk mempercepat peningkatan luas tanam dan produktivitas lahan sawah,” ujarnya.

Untuk program cetak sawah baru mendapat alokasi sekitar Rp1,1 triliun untuk alasintan panen dan pasca panen. Dukungan tersebut berupa traktor roda empat, traktor roda dua, traktor crawler, drone pertanian, rice transplanter, pompa air, serta handsprayer.

“Seluruh bantuan diarahkan untuk mempercepat pembukaan dan pengolahan lahan sawah baru agar segera produktif,” katanya. Sedangkan lanjut Gunawan, untuk optimalisasi lahan, anggaran sebesar Rp 2,43 triliun untuk alsintan prapanen dan sekitar Rp 666 miliar untuk pascapanen.

Reporter : Herman
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018