Wednesday, 21 October 2026


Hadapi El Nino, PT SHS Siapkan Benih Unggul Tahan Kekeringan

15 Jun 2026, 14:30 WIBEditor : Yulianto

Festival benih unggul di lahan PT SHS, Sukamandi

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Menghadapi El Nino yang berpotensi menurunkan produktivitas pertanian, PT Sang Hyang Seri menyiapkan benih unggul tahan kekeringan sebagai benteng ketahanan pangan nasional.

Ancaman fenomena El Nino yang menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan berkurangnya curah hujan kembali menjadi perhatian serius sektor pertanian nasional. Kondisi ini berpotensi menurunkan produktivitas tanaman pangan, mengganggu pola tanam petani, hingga meningkatkan risiko gagal panen di berbagai daerah sentra produksi pangan.

Menghadapi tantangan tersebut, PT Sang Hyang Seri (SHS) sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di sektor perbenihan menyiapkan berbagai strategi untuk memastikan produksi pangan nasional tetap terjaga. Salah satu langkahnya menyediakan benih unggul yang adaptif terhadap perubahan iklim dan toleran terhadap kekeringan.

Vice President Supply Chain Management PT Sang Hyang Seri, Dias Agriana mengatakan, El Nino memberikan dampak besar terhadap sektor pertanian karena menurunnya curah hujan secara signifikan. Kondisi tersebut menyebabkan ketersediaan air berkurang drastis sehingga mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan produktivitas pertanian.

"Curah hujan yang berkurang membuat ketersediaan air menurun drastis. Dampaknya bukan hanya terhadap pola tanam petani, tetapi juga produktivitas tanaman yang menurun bahkan meningkatkan potensi gagal panen," ujar Dias.

Menurutnya, tanaman padi membutuhkan ketersediaan air yang cukup besar selama masa pertumbuhan. Ketika pasokan air menurun akibat kemarau panjang, petani menghadapi berbagai tantangan mulai dari keterlambatan tanam, kekurangan air irigasi, penurunan produktivitas hingga meningkatnya biaya produksi.

Ia menjelaskan, kebutuhan air untuk budidaya padi bisa mencapai sekitar 6.000 meter kubik per hektare. Saat El Nino terjadi, volume air di waduk maupun saluran irigasi biasanya mengalami penurunan sehingga petani harus melakukan berbagai upaya tambahan seperti pompanisasi yang membutuhkan biaya lebih besar.

"Ketika musim kering berlangsung lama, petani harus menggunakan pompa air. Ini tentu membutuhkan bahan bakar yang harganya tidak murah sehingga biaya produksi ikut meningkat," katanya.

Dias menegaskan, benih menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga produktivitas tanaman saat menghadapi kondisi iklim ekstrim. Bahkan kontribusi benih terhadap peningkatan hasil produksi dapat mencapai 20 hingga 30 persen, bahkan pada kondisi tertentu bisa mencapai 40 persen.

"Investasi benih sebenarnya relatif kecil dibandingkan biaya budidaya secara keseluruhan. Namun perannya sangat besar terhadap keberhasilan pertanaman. Benih menentukan potensi hasil hingga 20 sampai 30 persen bahkan lebih," ujarnya.

Karakteristik Benih

Karena itu, PT Sang Hyang Seri terus mengembangkan dan memproduksi varietas benih unggul yang memiliki karakteristik sesuai dengan kebutuhan petani dalam menghadapi El Nino. Beberapa karakteristik benih yang dibutuhkan untuk menghadapi musim kering antara lain memiliki umur genjah, toleran terhadap kekeringan, adaptif terhadap perubahan iklim, memiliki efisiensi penggunaan air yang baik serta tetap mampu menghasilkan produktivitas tinggi.

Menurut Dias, varietas genjah menjadi pilihan penting karena membutuhkan waktu tanam yang lebih singkat sehingga penggunaan air menjadi lebih efisien. "Varietas genjah memungkinkan tanaman dipanen lebih cepat sehingga kebutuhan air selama masa pertumbuhan menjadi lebih rendah dibanding varietas berumur panjang," katanya.

Beberapa varietas unggul yang telah tersedia antara lain Cakrabuana dan Pajajaran yang memiliki karakter umur genjah. Selain itu terdapat varietas yang memiliki toleransi terhadap kekeringan seperti Inpago, Gamagora 7 hasil kerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM), Protani Unsoed serta IPB 9G. "Varietas-varietas tersebut dirancang agar tetap mampu tumbuh dan berproduksi meskipun berada dalam kondisi cekaman kekeringan," ujarnya.

Salah satu fokus utama SHS dalam menghadapi El Nino adalah pengembangan benih padi gogo atau padi lahan kering. Menurut Dias, jenis padi ini lebih adaptif terhadap kondisi minim air dibandingkan padi sawah konvensional sehingga berpotensi menjadi solusi pada daerah-daerah yang terdampak kekeringan.

Saat ini kapasitas benih padi gogo yang diproduksi SHS mampu mengakomodasi kebutuhan sekitar 57.000 hektare lahan. Ke depan kapasitas tersebut akan terus ditingkatkan seiring meningkatnya kebutuhan petani. "Kami terus memperluas produksi benih padi gogo sebagai salah satu strategi menghadapi kekeringan dan menjaga produksi pangan nasional," katanya.

Meskipun benih unggul menjadi salah satu faktor penting, Dias menegaskan bahwa keberhasilan menghadapi El Nino juga sangat ditentukan oleh kesiapan petani dalam menerapkan teknologi budidaya yang tepat.

Beberapa langkah adaptasi yang perlu dilakukan antara lain menyesuaikan kalender tanam, menggunakan benih bersertifikat, menerapkan pemupukan berimbang, meningkatkan efisiensi penggunaan air serta menerapkan pengendalian hama terpadu.

Selain itu, diversifikasi komoditas juga menjadi strategi yang dapat dilakukan petani untuk mengurangi risiko kerugian akibat kekeringan. "Petani perlu menyesuaikan pola tanam dengan kondisi iklim. Kalender tanam harus disesuaikan dengan ketersediaan air agar produktivitas tetap terjaga," katanya.

Dias menekankan untuk menjaga ketahanan pangan nasional di tengah ancaman El Nino tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Diperlukan sinergi antara pemerintah, BUMN, swasta, akademisi, lembaga penelitian, penyuluh pertanian serta petani agar berbagai strategi adaptasi dapat berjalan efektif.

Pemerintah memiliki peran penting dalam mendukung ketersediaan benih sumber dan memberikan kepastian perencanaan kebutuhan benih untuk jangka panjang.

Reporter : Gesh
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018