Thursday, 16 July 2026


Petani Patimuan Keluhkan MT 1 Terlambat, Air Tak Surut Akibat Tandon Dangkal dan Klep Bocor

03 Jul 2026, 16:33 WIBEditor : Gesha

Petani Patimuan mengeluhkan MT 1 terlambat akibat tandon dangkal, klep bocor, dan genangan air yang menghambat tanam serta mengancam produksi padi.

TABLOIDSINARTANI.COM, Cilacap – Petani Patimuan mengeluhkan MT 1 terlambat akibat tandon dangkal, klep bocor, dan genangan air yang menghambat tanam serta mengancam produksi padi.

Petani di Kecamatan Patimuan, Kabupaten Cilacap, mengeluhkan mundurnya musim tanam (MT) 1 akibat genangan air yang tak kunjung surut di lahan persawahan.

Kondisi tersebut dipicu oleh pendangkalan tandon pembuangan air menuju Segara Anakan serta kerusakan klep air yang tidak lagi berfungsi optimal.

Akibat persoalan itu, ratusan hektare sawah di wilayah tersebut kerap mengalami genangan dengan ketinggian air mencapai 30 hingga 40 sentimeter saat musim hujan.

Dampaknya, petani harus menunda tanam hingga menunggu air surut.

Anggota Brigade Pangan Gemah Ripah Kecamatan Patimuan, Kudrat Setianto, mengatakan persoalan genangan air sudah berlangsung cukup lama dan menjadi penyebab utama keterlambatan tanam pada MT 1.

"Masalah utamanya karena air tidak bisa cepat keluar. Tandon di Segara Anakan sudah dangkal akibat sedimentasi, sementara klep air banyak yang bocor sehingga tidak bisa membuka dan menutup secara sempurna," ujar Kudrat saat ditemui di lokasi.

Menurutnya, debit air yang masuk ke kawasan persawahan sangat tinggi ketika musim hujan.

Air buangan yang seharusnya mengalir menuju Segara Anakan justru kembali ke lahan karena kapasitas tandon sudah tidak mampu menampung.

"Harusnya air dibuang ke Segara Anakan, tapi karena di sana sudah dangkal akhirnya balik lagi ke sawah. Ditambah curah hujan tinggi, akhirnya lahan terus tergenang," katanya.

Kondisi tersebut membuat petani tidak bisa langsung melakukan tanam setelah persemaian selesai. Benih yang sudah siap tanam bahkan sering kali terpaksa menunggu hingga berumur lebih tua.

"Keluhan petani itu benih sudah tua, tetapi lahan belum bisa ditanami karena masih tergenang. Setelah tanam pun masih menghadapi serangan keong dan berbagai kendala lainnya," ujarnya.

Untuk mengatasi kondisi lahan yang masih tergenang, petani di Patimuan menerapkan sistem persemaian kering.

Bibit disemai terlebih dahulu di daratan, kemudian dipindahkan ke sawah setelah berumur sekitar satu minggu.

"Kami tidak menggunakan sistem tabur benih langsung. Bibit disemai dulu di darat supaya tidak tenggelam. Setelah cukup umur baru dipindahkan ke sawah," jelas Kudrat.

Meski telah dibantu pompa air untuk mempercepat pembuangan genangan, hasilnya dinilai belum maksimal. Air tetap kembali memenuhi sawah karena tempat penampungan akhirnya meluap.

"Pompa sudah ada, tetapi kalau penampungannya sudah penuh tetap saja air balik lagi ke sini. Jadi yang harus dibenahi itu penampungannya, harus dikeruk lagi supaya kapasitasnya bertambah," katanya.

Selain persoalan air, sedimentasi juga menyebabkan lapisan lumpur di sawah semakin tebal sehingga menyulitkan proses budidaya.

"Lumpurnya sudah tebal. Kelihatannya dangkal, tetapi sebenarnya endapannya banyak sehingga pekerjaan di sawah menjadi lebih sulit," ucapnya.

Kudrat mengatakan petani kini mulai mengandalkan varietas padi yang lebih toleran terhadap genangan dan air payau, seperti Biosalin dan Cilamaya Muncul.

Menurutnya, varietas tersebut masih mampu bertahan meski kondisi lahan kurang ideal.

"Kalau varietas biasa saat air dalam pertumbuhannya kurang bagus. Biosalin dan Cilamaya Muncul lebih tahan terhadap air dalam maupun air payau," katanya.

Sementara itu, Ketua Gapoktan Sri Mulia Desa Bulupayung, Samiun, mengatakan keterlambatan tanam di wilayah Patimuan juga berdampak terhadap pengelolaan lahan di kawasan sekitarnya yang mencapai sekitar 515 hektare.

Menurutnya, penggunaan alat dan mesin pertanian harus dilakukan secara bergiliran sehingga ketika satu hamparan mengalami keterlambatan, lahan lainnya ikut terdampak.

"Kalau di sini belum selesai tanam, traktor belum bisa pindah ke hamparan berikutnya. Akibatnya jadwal pengolahan lahan ikut mundur," ujarnya.

Ia berharap pemerintah segera melakukan normalisasi tandon pembuangan menuju Segara Anakan, mengatasi sedimentasi, serta memperbaiki klep air yang rusak agar persoalan genangan tidak terus berulang setiap musim hujan.

"Kalau infrastrukturnya diperbaiki, petani bisa tanam tepat waktu sehingga produktivitas juga akan meningkat," pungkasnya.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018