Tuesday, 18 August 2026


Budidaya Padi PM AAS Gunakan Benih Lebih Banyak, Kementan: Ketersediaan Aman

21 Jul 2026, 09:50 WIBEditor : Yulianto

varietas padi untuk budidaya PM AAS

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pemerintah kini terus menggenjot paduksi padi. Bukan hanya mengandalkan optimalisasi lahan dan perluasan areal tanam, modernisasi metode tanam pun terus dikembangkan. Salah satunya konsep Pertanian Modern Advance Agriculture System (PM-AAS).

Di era yang kian makin besar tantangannya, terutama kondisi iklim yang kian sulit diprediksi, melalui model PM-AAS, Kementerian Pertanian terus mendorong perubahan cara budidaya padi secara menyeluruh. Dari mulai pengolahan lahan, penggunaan alat mesin pertanian modern, pengelolaan air, hingga pemilihan varietas unggul yang sesuai karakteristik lahan.

Metode budidaya PM-AAS sebenarnya sudah dikembangkan sejak 2025. Namun saat Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan ke XVII di Gorontalo, beberapa waktu lalu, metode ini diperkenalkan secara luas di lokasi Gelar Teknologi. Bahkan Presiden Prabowo Subianto memberikan apresiasi metoder tersebut.

Saat Rapat Koordinasi Perluasan Pelaksanaan PM-AAS. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengatakan, tahun ini pemerintah menargetkan pengembangan teknologi budidaya PM AAS seluas 1 juta ha, terutama di lahan irigasi.

Data Kementerian Pertanian, potensi pengembangan terbesar berada di Jawa Barat seluas 120.668 ha, disusul Jawa Timur 104.360 ha, Jawa Tengah 96.535 ha, Kalimantan Selatan 78.370 ha, Nusa Tenggara Timur 62.526 ha, Aceh 60.906 ha, Sulawesi Selatan 57.746 ha, dan Sumatera Selatan seluas 55.642 ha.

Salah satu yang mendapat perhatian dari model budidaya PM AAS adalah ketersediaan benih. Pasalnya budidaya padi menggunakan sistem tabela (tanam benih langsung) menggunakan direct seeder menggunakan benih yang lebih banyak yakni 70-80 kg/ha. Padahal budidaya konvensional yang biasa petani lakukan hanya sekitar 25 kg/ha.

Direktur Perbenihan, Ditjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Ladiyani Retno Widowati mengatakan, untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan benih dalam program budidaya padi PM-AAS, pihaknya telah melakukan monitoring dan koordinasi ke seluruh penyedia benih swasta da BPSB (Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih) di masing-masing provinci.

“Kita monitoring dan updating setiap minggu. Dari mulai informasi ketersediaan benih, benih yang didaftarkan, proses sertifikasi benih hingga benih yang eksisting dan calon benih. Semua kita semua. Untuk program PM-AAS ini, insha Allah bisa terpenuh,” katanya kepada Tabloid Sinar Tani, Senin (20/7).

Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan menurut Ladiyani, telah menyiapkan antisipasi ketersediaan benih untuk pencapaian program PM-AAS 1 juta ha yakni skenario sampai September dan Desember. Untuk skenario September atau dengan hitungan waktu 3 bulan lagi dari Juli dan penggunaan benih 70 kg/ha, tersedia benih untuk penanaman seluas 1,4 juta ha.

Dengan hitungan tersebut, Ladiyani optimis jika skenario kedua yakni sampai Desember, ketersediaan benih lebih leluasa untuk program PM-AAS. ”Jadi kebutuhan benih 70 kg/ha sampai Sepetember bisa terpenuhi,” ujarnya.

Ladiyani mengakui, budidaya PM-AAS ini lebih mudah dilaksanakan pada musim kemarau. Sebab, jika pada musim hujan, maka akan terjadi kelebihan air di lahan (ada genangan), sehingga dikhawatirkan benih akan terbawa air. Pasalnya, dengan metode PM-AAS benih padi yang ditanam dengan direct seedling berada di permukaan lahan.

Karena itu, menurutnya, penyiapan lahan dalam budidaya padi PM-AAS, petani harus mempersiapkan lahan dan mengatur air dengan baik. “Karena padi bukan tanaman air, lahan yang mancak-mancak. Jadi lahan tidak terlalu banyak digenangi air, yang penting air cukup. Ini juga menjadi tantangan tersendiri jika dibudidaya pada musim kemarau,” tuturnya.

Selain itu Ladiyani juga mengingatkan, saat budidaya padi pada  musim kemarau penggunaan pupuk urea jangan sampai terlalu banyak. Sebab, biasanya organisme pengganggu tumbuhan (OPT) akan menyukai tanaman padi yang penggunaan pupuk ureanya banyak.

Varietas Benih

Ada beberapa jenis varietas padi telah direkomendasikan dalam budidaya padi PM-AAS ini. Benih padinya, tidak hanya mempertimbangkan produktivitas semata, tapi juga memperhatikan ketahanan terhadap penyakit, kemampuan beradaptasi dengan lingkungan, umur panen, serta kualitas beras yang dihasilkan. Apalagi dengan kondisi ancaman iklim ekstrem.

Varietas yang direkomendasikan umumnya memiliki karakter batang kokoh sehingga tahan rebah, malai lebat, tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri (HDB), tahan penyakit blas, memiliki toleransi terhadap genangan sementara, serta berpotensi menghasilkan lebih dari 10 ton /ha

Namun Ladiyani mengatakan, pemilihan jenis padi disesuaikan juga dengan lokasi. Misalnya, jika di lokasi penanaman rata-rata produktivitasnya hanya 4 ton/ha, maka paling tidak dengan metode PM-AAS bisa naik menjadi 6 ton/ha.

“Jadi yang kita kejar adalah delta kenaikan produktivitasnya. Kalau di lokasi penanaman biasanya 4 ton/ha, bisa naik sampai 10 ton/ha, akan sangat sulit,” ujarnya.

Saat ini menurut Ladiyani, ketersediaan benih yang saat ini cukup tinggi adalah Inpari 32. Benih ini potensinya bisa mencapai 10 ton/ha. Varietas lainnya adalah yang potensinya mendekati 10 ton/ha.

Data yang Tabloid Sinar Tani dapatkan dari BRMP, varietas lain yang direkomendasikan adalah Inpari 42 Agritan GSR. Varietas ini mempunyai rata-rata hasil sekitar 7,11 ton/ha dengan potensi produksi mencapai 10,58 ton/ha.

Umur panen sekitar 112 hari setelah tanam, sedangkan tinggi tanaman mencapai sekitar 93 sentimeter. Varietas ini dikenal tahan rebah, cukup tahan terhadap wereng batang cokelat, serta memiliki ketahanan terhadap penyakit hawar daun bakteri dan blas.

Pilihan berikutnya adalah Cakrabuana Agritan yang memiliki umur panen relatif genjah, yakni sekitar 104 hari. Produktivitas rata-ratanya mencapai 7,5 ton/ha, sedangkan potensi hasilnya sekitar 10,2 ton/ha. Varietas ini memiliki ketahanan terhadap wereng batang cokelat biotipe 1, 2, dan 3, cukup tahan terhadap hawar daun bakteri, agak tahan terhadap tungro, serta menghasilkan nasi pulen dengan kadar amilosa sekitar 21,98 persen.

Bagi petani yang ingin menghasilkan beras dengan nilai gizi lebih tinggi, BRMP juga merekomendasikan Inpari IR Nutri Zinc. Selain memiliki potensi hasil hampir 10 ton/ha, varietas ini mengandung zinc rata-rata 34,51 ppm pada beras pecah kulit. Keunggulan lainnya adalah memiliki ketahanan terhadap wereng batang cokelat, hawar daun bakteri, blas, dan tungro.

Selanjutnya terdapat Inpari 47 WBC yang memiliki rata-rata hasil sekitar 7,71 ton/ha dengan potensi mencapai 9,52 ton/ha. Varietas ini dikenal memiliki ketahanan terhadap beberapa biotipe wereng batang cokelat sekaligus cukup tahan terhadap penyakit hawar daun bakteri dan blas.

Ketersediaan varietas unggul menjadi salah satu faktor utama keberhasilan budidaya padi PM-AAS.  

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018