
Di tengah mahalnya harga pupuk, petani kini memiliki peluang menekan biaya produksi tanpa mengorbankan hasil panen, bahkan produktivitas bisa meningkat.
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Di tengah mahalnya harga pupuk, petani kini memiliki peluang menekan biaya produksi tanpa mengorbankan hasil panen, bahkan produktivitas bisa meningkat.
Kekurangan unsur hara mikro zink (Zn) masih menjadi salah satu persoalan yang sering luput dari perhatian petani.
Padahal, kekurangan zink bukan hanya membuat pertumbuhan tanaman kurang optimal, tetapi juga berdampak pada kualitas hasil panen hingga kandungan gizi beras yang dikonsumsi masyarakat.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini menghadirkan solusi melalui inovasi pupuk hayati Biofertizinc, yaitu pupuk berbasis mikroba pelarut zink yang mampu meningkatkan ketersediaan unsur Zn di dalam tanah secara alami.
Menariknya lagi, teknologi ini diklaim mampu menghemat penggunaan pupuk NPK hingga 25 persen tanpa menurunkan hasil panen.
Bahkan, dalam sejumlah uji lapangan, produktivitas tanaman justru meningkat.
Inovasi tersebut menjadi kabar baik bagi petani, terutama di tengah harga pupuk yang terus naik dan kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas lahan secara berkelanjutan.
Peneliti Pusat Riset Tanaman Pangan dari BRIN, Dr. Etty Pratiwi, menjelaskan bahwa persoalan defisiensi zink di Indonesia sebenarnya cukup besar.
Berdasarkan hasil penelitian, sekitar 2,9 juta hektare lahan sawah dari total hampir 8 juta hektare sawah di Indonesia mengalami masalah kekurangan zink.
Namun, yang dimaksud kekurangan bukan berarti unsur zink tidak ada di dalam tanah.
"Sebagian besar zink sebenarnya masih tersedia di tanah, tetapi terikat oleh fosfor (P) akibat penggunaan pupuk NPK yang terlalu intensif selama bertahun-tahun. Akibatnya, tanaman tidak mampu menyerap zink tersebut," jelas Etty dalam pemaparannya.
Kondisi ini banyak ditemukan pada lahan sawah intensif yang setiap musim tanam menerima dosis pupuk kimia tinggi.
Semakin tinggi kandungan fosfor di tanah, semakin kuat ikatan antara fosfor dan zink sehingga unsur mikro tersebut menjadi tidak tersedia bagi tanaman.
Padahal, zink merupakan unsur penting yang berperan dalam pembentukan enzim, metabolisme tanaman, pembentukan bulir, hingga meningkatkan kualitas hasil panen.
Di sinilah peran Biofertizinc menjadi sangat penting. Berbeda dengan pupuk kimia yang langsung menambahkan unsur hara baru ke dalam tanah, Biofertizinc bekerja menggunakan konsorsium mikroba pelarut zink.
Mikroba tersebut menghasilkan asam organik yang mampu memecah ikatan antara fosfor dan zink sehingga unsur Zn kembali tersedia dan dapat diserap akar tanaman.
Menurut Etty, mikroba yang digunakan berasal dari bakteri nonpatogen yang aman bagi tanaman maupun lingkungan.
Dalam formulanya terdapat beberapa jenis bakteri pelarut zink, di antaranya kelompok Pseudomonas, Acinetobacter, Gluconobacter, Providencia, hingga Klebsiella yang telah melalui serangkaian pengujian keamanan.
Selain melarutkan zink, mikroba tersebut juga mampu menghasilkan hormon pertumbuhan tanaman, memperbaiki serapan unsur hara lain, membantu pengomposan bahan organik, serta meningkatkan aktivitas biologis tanah.
Artinya, manfaat Biofertizinc bukan hanya menyediakan zink, tetapi juga memperbaiki kesehatan tanah dalam jangka panjang.
Hemat NPK
Salah satu hasil penelitian yang paling menarik perhatian adalah kemampuan Biofertizinc dalam mengurangi penggunaan pupuk kimia.
Dalam berbagai uji lapangan yang dilakukan BRIN di Bogor, Subang, Gunungkidul hingga Sukamandi, penggunaan Biofertizinc memungkinkan dosis pupuk NPK dikurangi hingga 25 persen.
Yang menarik, pengurangan pupuk tersebut tidak menyebabkan produksi turun.
Sebaliknya, hasil panen tetap tinggi bahkan pada beberapa lokasi mengalami peningkatan dibandingkan penggunaan NPK penuh.
Bagi petani, kondisi ini tentu menjadi peluang untuk menekan biaya produksi.
Dengan harga pupuk yang terus meningkat, pengurangan kebutuhan NPK sebesar seperempat dari dosis normal dapat memberikan penghematan yang cukup besar setiap musim tanam.
Selain itu, penggunaan pupuk kimia yang lebih sedikit juga membantu menjaga kesuburan tanah sehingga produktivitas lahan dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Hasil penelitian BRIN juga menunjukkan Biofertizinc mampu meningkatkan ketersediaan zink dalam tanah hingga sekitar 20 persen.
Kenaikan tersebut membuat tanaman lebih mudah menyerap unsur mikro yang selama ini terkunci.
Tidak hanya itu, kandungan zink pada bulir padi juga meningkat sekitar 10–22 persen, sedangkan pada sorgum peningkatannya mencapai 15–18 persen.
Dengan meningkatnya kandungan zink pada hasil panen, beras yang dihasilkan memiliki nilai gizi lebih baik dibandingkan beras biasa.
Hal ini menjadi salah satu keunggulan utama Biofertizinc karena manfaatnya tidak berhenti di tingkat petani, tetapi juga sampai kepada konsumen.
Panen Meningkat
Selain meningkatkan kandungan gizi, penggunaan Biofertizinc juga memberikan dampak terhadap produktivitas tanaman.
Pada beberapa lokasi penelitian, hasil panen padi meningkat dari sekitar 7,7 ton per hektare menjadi lebih dari 8 ton per hektare.
Di lokasi lain bahkan terjadi peningkatan produksi dari sekitar 5,95 ton menjadi 8,25 ton per hektare.
Tanaman juga memiliki batang yang lebih kuat sehingga lebih tahan rebah saat menghadapi hujan atau angin kencang.
Menurut Etty, kondisi tersebut terjadi karena tanaman mampu menyerap unsur hara secara lebih optimal selama masa pertumbuhan.
Dengan sistem perakaran yang lebih sehat dan serapan nutrisi yang meningkat, pertumbuhan tanaman menjadi lebih maksimal.
Cara Pengaplikasian
Salah satu keunggulan Biofertizinc adalah cara penggunaannya yang sederhana sehingga mudah diterapkan oleh petani.
Pupuk ini tersedia dalam dua bentuk, yaitu cair dan padat.
Untuk formulasi cair, dosis yang digunakan sekitar 2–4 liter per hektare.nAplikasinya dilakukan saat bibit akan dipindahkan ke lahan.
Akar bibit direndam terlebih dahulu menggunakan larutan Biofertizinc agar mikroba dapat masuk ke jaringan tanaman sejak awal pertumbuhan. Setelah itu bibit langsung ditanam di sawah.
Menurut BRIN, aplikasi pada fase awal ini merupakan waktu paling efektif karena mikroba akan berkembang bersama tanaman hingga masa panen.
Sementara formulasi padat digunakan dengan cara melapisi benih sebelum disemai.
Sekitar 500 gram Biofertizinc cukup digunakan untuk 25–30 kilogram benih padi.
Cara tersebut membuat mikroba sudah menempel pada benih sejak awal sehingga mampu berkembang di daerah perakaran ketika tanaman mulai tumbuh.
BRIN menyebut Biofertizinc paling efektif diterapkan pada lahan yang memiliki kandungan zink sedang hingga tinggi tetapi tidak tersedia bagi tanaman.
Kondisi tersebut umumnya ditemukan pada sawah yang selama bertahun-tahun mendapat pupuk NPK dalam dosis tinggi.
Di lahan seperti inilah mikroba pelarut zink mampu bekerja secara optimal.
Sebaliknya, apabila kandungan zink tanah memang sangat rendah, maka tetap diperlukan penambahan unsur zink terlebih dahulu.
Karena itu, analisis tanah menjadi langkah penting sebelum menentukan teknologi pemupukan yang akan diterapkan.
Penyuluh pertanian diharapkan dapat membantu petani melakukan identifikasi kondisi lahan sehingga penggunaan Biofertizinc menjadi lebih tepat sasaran.
Selain meningkatkan produktivitas, Biofertizinc juga dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus.
Mikroba yang terkandung di dalamnya membantu memperbaiki aktivitas biologis tanah sehingga kesuburan lahan tetap terjaga.
Pupuk ini juga memiliki masa simpan hingga satu tahun, baik pada suhu ruang maupun suhu dingin sekitar 4–10 derajat Celsius.
BRIN mengungkapkan bahwa teknologi Biofertizinc telah siap dikomersialisasikan dan saat ini sudah memasuki proses lisensi dengan perusahaan swasta untuk diproduksi secara massal.
Selanjutnya, produk tersebut masih harus melalui tahapan registrasi dan memperoleh izin edar dari Kementerian Pertanian sebelum tersedia secara luas di pasaran.
Apabila seluruh proses berjalan sesuai rencana, Biofertizinc berpotensi menjadi salah satu inovasi penting dalam mendukung pertanian berkelanjutan di Indonesia.
Bagi petani, manfaatnya tidak hanya berupa penghematan biaya pupuk dan peningkatan hasil panen, tetapi juga peluang menghasilkan beras dengan kandungan gizi lebih tinggi.
Sementara bagi pemerintah, teknologi ini dapat menjadi salah satu solusi berbasis riset untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus mempercepat upaya penurunan angka stunting di Indonesia.