Senin, 16 September 2019


Produksi Terdongkrak Berkat Alsintan

18 Des 2018, 09:14 WIBEditor : Yul

Dengan adanya alsintan mampu menekan biaya operasional 35-48%.

TABLOIDSINARTANI.COM -- Upaya pemerintah mendorong modernisasi pertanian dengan bantuan alat mesin pertanian (alsintan) telah berdampak pada peningkatan produksi pangan, khusus padi. Bukan hanya itu generasi muda mulai tertarik terjun ke dunia pertanian.

Direktur Alat dan Mesin Pertanian, Direktorat Jenderal Prasaranan dan Sarana Pertanian, Kementerian Pertanian, Andi Nur Alam Syah menegaskan, program mekanisasi pertanian melalui alat mesin pertanian berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan petani dan tingkat produksi tanaman pangan Indonesia.

Menurutnya, dengan adanya alsintan mampu menekan biaya operasional 35-48%. Dan waktu kerja petani. Sebelumnya tanpa mekanisasi, petani membajak sawah seluas 1 ha harus berhari-hati, tapi kini cukup 2-3 jam.

Keuntungan lain penggunaan alsintan menurut Andi Nur adalah penyusutan hasil panen (losses) sebesar 10?pat diselamatkan dan meningkatkan nilai tambah. Petani juga bisa menanam padi hingga tiga kali dalam setahun karena proses pengolahan dan panen yang cepat. "Dengan demikian, produksi yang dicapai petani lebih tinggi, pendapatan petani pun ikut naik," ujarnya.

Dengan makin intensifnya kegiatan usaha tani dan berkurangnya kehilangan hasil panen, berdampak pada produksi komoditas tanaman pangan utama yaitu padi, jagung dan kedelai. Rata-rata produksi padi naik 4,07%, jagung 12,5%, dan kedelai 8,79% selama lima tahun terakhir.

Kepala Bidang KSPHP Agung Prabowo Balai Besar Pengembangan Mekanisasi mengatakan, penggunaan alat mesin pertanian secara nyata telah meningkatkan produksi padi. Contoh nyatanya, panen perdana di area pengembangan pertanian modern di Desa Kalikebo, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, menghasilkan 10 ton/ha. Ini bukti nyata penggunaan alat mesin pertanian. Kami bekerjasama dengan pemerintah daerah, produksi naik dan petani tentunya sejahtera,” ujarnya.

Dampak terhadap tenaga kerja

Program mekanisasi pertanian tidak hanya berperan nyata dalam meningkatkan produksi pangan. Namun di sisi lain juga terbukti menjadi solusi dalam kelangkaan tenaga kerja pertanian.

Berdasarkan hasil analisis Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementan jumlah terbanyak tenaga kerja pada sektor tanaman pangan adalah petani yang sudah berusia lebih kurang 60 tahun kemudian disusul usia antara 40-45 tahun. Dampak kelangkaan dan tenaga petani yang sudah usia lanjut menyebabkan rendahnya kapasitas kerja tanam padi per satuan luas lahan dan mahalnya biaya tanam. “Masalah yang muncul pada kegiatan tanam tersebut dapat ditangani dengan menerapkan mesin tanam pindah bibit (transplanter,red) padi,” kata Andi Nur.

Mesin transplanter lanjutnya, sebagai solusi makin intensifnya kegiatan tanam padi. Dengan rice transplanter akan lebih menghemat tenaga kerja, mempercepat waktu penyelesaian kerja tanam per satuan luas lahan. Faktor tersebut akhirnya mampu menurunkan biaya produksi budidaya padi.

Selain itu, lanjutnya, penggunaan alsintan ini pun mendorong generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian. Sebab, mekanisasi pertanian telah mengubah pandangan masyarakat mengenai bertani. Dulu petani miskin, kumuh. Sekarang sejahtera. Lihat saja, dengan alat yang modern, petani bisa olah tanah, tanam, panen sambil telepon dan pakaian yang rapih. Ini mengubah mindset,” tuturnya.

Dampak nyata penggunaan mesin tanam padi ini, terlihat dari hasil pengamatan di tingkat petani. Pengguna mesin transplanter menunjukkan rata-rata kinerja satu mesin transplanter dengan satu orang operator dan dua asisten dapat menggantikan 15-27 hari orang kerja (HOK). Sedangkan kemampuan kerja tanam mencapai 1-1,2 ha/hari.

Andi Nur yang pernah menjabat sebagai Kepala Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BBP Mektan) mengungkapkan, BBP Mektan telah menghasilkan mesin transplanter yang dinamai mesin Transplanter Jarwo 2:1. Secara umum rata-rata biaya tanam padi secara manual sekitar Rp 1,72 juta/ha, sedangkan dengan mesin transplanter jarwo 2:1 hanya sekitar Rp 1,1 juta/ha.

Keuntungan lain dari cara tanam dengan mesin transplanter munculnya usaha pembibitan padi. Pasalnya, alsintan tersebut memerlukan bibit khusus, yaitu umur bibit harus kurang dari 18 hari dan bibit harus ditaruh pada kotak mesin (tipe dapog,-red) sesuai ukuran mesinnya. Rata-rata kebutuhan bibit sebanyak 250 sampai 300 dapog per hektar,” ujarnya.

Andi Nur mengungkapkan, rata-rata persepsi petani pengguna mesin transplanter jarwo 2:1 mengakui alsintan sebagai solusi mulai munculnya kelangkaan tenaga kerja tanam, sekaligus meningkatkan efisiensi waktu dan biaya tanam yang akhirnya menurunkan biaya usaha tani. Penggunaan mesin transplanter juga mendorong tumbuhnya usaha pembibitan secara dapog sehingga dapat membuka peluang kerja tenaga tanam yang tersisih adanya mesin transplanter.

“Dalam meningkatkan hasil panen petani, kami terus meningkatkan jumlah bantuan alat mesin pertanian. Tahun ini, pemerintah memberikan sekitar 80 ribu unit alat mesin pertanian untuk disebar di seluruh wilayah di Indonesia,” tegasnya.

Data Ditjen PSP, tahun 2018, Kementerian Pertanian memberi anggaran sebesar Rp 2,81 triliun untuk membeli 70.839 unit alsintan yang berfokus pada subsektor padi, jagung dan kedelai. Per November 2018, anggaran dan target sudah terealisasi sebesar 98%. Artinya, sekitar Rp 2,75 triliun dana untuk alokasi total 69.196 unit alsintan yang diberikan kepada 69.196 kelompok tani. Sedangkan tahun lalu, ada sebanyak 84.356 unit alsintan yang dialokasikan.

Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018