Senin, 22 April 2019


Dengan Alsintan, Lahan Rawa Lebih Produktif

10 Peb 2019, 07:24 WIBEditor : Yulianto

Excavator di Sumsel | Sumber Foto:Humas Kementan

Berdasarkan pantauan, bantuan tersebut bekerja optimal untuk pengerukan saluran irigasi yang mengalami pendangkalan, pembuatan jalan usaha tani dan optimasi lahan rawa lebak dan lahan rawa pasang surut

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Banyuasin--- Pemerintah telah menggelontorkan bantuan alat dan mesin pertanian (Alsintan) khususnya excavator untuk optimalisasi lahan rawa lebak dan pasang surut agar menjadi lahan sawah produktif. Salah satu propinsi yang menjadi target pengembangan lahan rawa lebak dan pasang surut adalah Sumatera Selatan.

Untuk memastikan pemanfaatan lahan tersebut, Direktur Alsintan, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Kementan, Andi Nur Alam Syah menengok pemanfaatan alsintan yakni excavator di Propinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Sabtu (9/2).

Andi Nur mengatakan, Kementan telah menyalurkan bantuan excavator sebanyak 69 unit. Berdasarkan pantauan, bantuan tersebut bekerja optimal untuk pengerukan saluran irigasi yang mengalami pendangkalan, pembuatan jalan usaha tani dan optimasi lahan rawa lebak dan lahan rawa pasang surut.

"Pemantauan ini sesuai arahan menteri.  Alsintan dan excavator harus bekerja optimal sehingga lahan rawa menjadi lahan sawah produktif," tegasnya. Dengan demikian, lanjutnya, produksi pangan khususnya beras dan kesejahteraan petani meningkat. Bahkan dari lahan rawa Indonesia bisa mencukupi pangan dunia.

Sementara itu Kepala Desa Talang Rejo, Kecamatan Muara Talang, Banyuasin, Sumsel, Hendrik Kuswoyo mengatakan,  adanya excavator memberikan hasil dan nilai tambah yang begitu besar bagi pertanian dan petani itu sendiri. Dari 1 unit excavator dapat mengerjakan long storage sepanjang 20 km dengan lebar 2,5 meter. "Ini dapat mengairi sawah seluas 1.800 hektar (ha) dengan indeks pertanaman (IP) 200, yakni menanam padi 2 kali setahun," katanya.

Menurut Hendrik, produktivitas padi yang tadinya 8,5 ton naik menjadi 13 ton/ha untuk dua musim tanam. Jadi ada selisih 5 ton/ha. Jika hitungannya sebanyak 5 ton/ha nilainya mencapai Rp 20 juta. Dengan demikian, dari total lahan 1.800 ha menghasilkan tambahan pendapatan bagi petani mencapai Rp 36 miliar. "Tambahan pendapatan ini untuk dua musim tanam" ujarnya.

Hendrik menjelaskan, dalam pengerjaan optimalisasi lahan rawa menjadi lahan sawah produktif ini, pemerintah desa memanfaatkan dana desa untuk biaya BBM dan operator. Total dana desa mencapai Rp 800 juta, namun untuk membuat long storage sepanjang 20 km dengan lebar 2,5 m hanya Rp 270 juta.

"Dengan adanya bantuan excavator, pengerjaan ini bisa dilakukan hanya butuh waktu 2 bulan saja. Tapi kalau tidak ada excavator bisa 5 tahun," jelasnya.

Kemudian, sambung Hendrik, jika tidak ada excavator, pengerjaan long storage tersebut juga membutuhkan dana Rp 900 juta untuk sewa alat dan bahan bakar minyak Rp 160 juta. Belum lagi biaya operator, per meternya Rp 3 juta sehingga totalnya biaya operator untuk long storage sepanjang 20 km itu sebanyak Rp 60 juta.

"Jadi, jika tanpa bantuan excavator ini, total biaya yang dibutuhkan untuk sewa excavator dan biaya operasional untuk pembuatan long storage sepanjang 20 km dan lebar 2,5 meter sekitar Rp 3,5 miliar,"katanya.

 

Reporter : Yuli
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018