
Sekretaris Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Mulyadi Hendiawan (tengah) menuturkan AUTP semakin menunjukkan tren positif dan semakin luas lahan yang dilindungi
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Semenjak diluncurkan, realisasi Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) menunjukkan tren positif dengan semakin banyaknya lahan yang terlindungi.
"Sampai saat ini tidak ada kendala, baik klaim maupun pembayaran premi, dan Kementan bersama perusahaan asuransi Jasindo terus mengajak para petani padi untuk mengasuransi lahannya,” ujar Sekretaris Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan, Mulyadi Hendiawan.
Tercatat sejak 2015 hingga 2018, total lahan sawah yang diasuransikan mencapai 2,5 juta ha dari target 3,5 juta lahan. Sedangkan klaim kerugian mencapai 53.340 ha.
Mulyadi merinci, setiap tahunnya realisasi AUTP meningkat. Misalnya pada tahun 2015, target AUTP 2015 yang ditetapkan 1 juta ha, terealisasi 233.499,55 ha (23,35%) dan klaim asuransi 3.858 ha (1,65%).
Di tahun 2016, ditargetkan 500 ribu ha dan mampu terealisasi sebanyak 499.962,25 ha (99,99%) dan klaim asuransi mencapai 13.192 ha (2,64%).
Sedangkan target AUTP 2017 adalah 1 juta ha, dengan realisasi 997.666,53 ha (99,99%), sementara klaim asuransi 24.096 ha (2,41%).
AUTP menawarkan ganti rugi Rp6 juta/ha/musim tanam (MT), masa pertanggunggan sampai panen selama empat bulan. Premi asuransi sebesar Rp 180.000 /ha/MT.
“Pemerintah memberi subsidi Rp 144.000 dan petani hanya dibebani Rp 36.000/ha. Sejauh ini, respon petani terhadap program asuransi pertanian cukup baik,” kata Mulyadi.
Mulyadi optimistis peserta asuransi pertanian akan terus meningkat. Pasalnya, PT Jasa Asuransi Pertanian (Jasindo) sebagai pengelola sudah meluncurkan aplikasi Sistem Informasi Asuransi Pertanian (SIAP).
Aplikasi SIAP merupakan hasil kerja sama antara Kementerian Pertanian dengan Jasindo untuk mempermudah pendaftaran dan pendataan asuransi.
Dikatakannya, aplikasi SIAP menjadi salah satu jawaban atas keluhan para dinas pertanian di seluruh Indonesia dan beberapa pihak lainnya mengenai penyajian data atau pendaftaran asuransi tani.
“Beberapa catatan audit itu tidak boleh berulang. Baik administrasi maupun manajerial, bahkan sampai menimbulkan kerugian negara. Khusus asuransi pertanian, aplikasi SIAP ini dapat mengatasi permasalahan tersebut,” tambahnya.
Adanya aplikasi SIAP ini tentunya dapat menyempurnakan penyajian data, memudahkan pendaftaran petani, bahkan mengatasi masalah kurangnya tenaga dari Jasindo yang sempat menjadi keluhan di berbagai daerah.
Perkembangan asuransi tani kini sudah jauh lebih baik. Manfaat asuransi tani telah nyata dirasakan terutama di daerah endemik potensi kegagalan panen.
Bahkan kesadaran masyarakat sekarang justru sudah timbul dan secara swadaya mengakses asuransi pertanian tersebut.
“Sekarang mereka datang ke Jasindo menanyakan skema bagaimana asuransi tani untuk komoditas lain, seperti bawang merah, cabai. Tidak hanya pada padi saja,” katanya.
Ditjen PSP pun telah berkoordinasi untuk mulai menyusun teknis asuransi diluar komoditas padi, karena memang sekarang hanya padi dan ternak yang mendapat anggaran APBN untuk premi, yaitu sebesar 80%.