Sabtu, 19 Oktober 2019


Balitbangtan Lakukan Percepatan Akreditasi Laboratorium dan Penguatan SDM

23 Apr 2019, 11:31 WIBEditor : GESHA

Badan Litbang Pertanian selama 5 tahun terakhir, telah berupaya membangun dan melengkapi sarana fisik laboratorium serta meningkatkan dan mengembangkan kompetensi laboratorium melalui kegiatan percepatan akreditasi laboratorium | Sumber Foto:indarto

Badan Litbang Pertanian pun telah melakukan pendampingan dalam rangka akreditasi terhadap 19 satker, dan 2 laboratorium rujukan ( Balittanah dan BB Litvet), serta pendampingan akreditasi pada tahun 2019 terhadap 6 satker dan 1 lab rujukan.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang--- Sekitar 130 laboratorium yang berada di bawah lingkup Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Badan Litbang Pertanian) idealnya dilakukan akreditasi tiap tahun dan SDM-nya ditingkatkan.

Untuk itu, Badan Litbang Pertanian selama 5 tahun terakhir, telah berupaya membangun dan melengkapi sarana fisik laboratorium serta meningkatkan dan mengembangkan kompetensi laboratorium melalui kegiatan percepatan akreditasi laboratorium. 

Badan Litbang Pertanian pun telah melakukan pendampingan dalam rangka akreditasi terhadap 19 satker, dan 2 laboratorium rujukan ( Balittanah dan BB Litvet), serta pendampingan akreditasi pada tahun 2019 terhadap 6 satker dan 1 lab rujukan.

"Kami juga mendorong agar lab yang sudah terakriditasi untuk dipertahankan. Sebab, kalau kapabilitasnya menurun pengelola lab harus melakukan akreditasi lagi. Sehingga, penguatan SDM lab juga sangat penting," kata Kepala Bagian Umum, Sekretariat Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Edy Sugianto, mewakili Sekretaris Badan Litbang Pertanian saat membuka acara Pelatihan Sistem Mutu ISO 17025:2017 (Analisis Resiko Validasi Metode dan Estimasi Ketidakpastian), di Malang (22/4).

Menurut Edy Sugianto, untuk meningkatkan dan mempertahankan kompetensi laboratorium terakreditasi perlu usaha terus menerus seluruh SDM lab dalam meningkatkan kemampuannya.

Karena itu, pelatihan/workshop terkait sistem manajemen mutu lab maupun teknis lab juga dilakukan untuk meningkatkan kompetensi SDM laboratorium. "Badan Litbang Pertanian pada pelatihan tahun ini sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Pelatihan kali ini khusus akan mempelajari validasi metoda, estimasi ketidakpastian dan identifikasi risiko. Materi pelatihan ini dipilih berdasarkan kebutuhan penguasaan materi tersebut , yang telah diidentifikasi oleh tim percepatan akredtasi Badan Litbang Pertanian dalam melakukan tugasnya mendampingi laboratorium selama ini, " papar Edy.

Edy mengatakan, penguasaan materi tersebut sangat besar pengaruhnya terhadap keakuratan hasil pengujian yang secara langsung atau tidak langsung terhadap kehandalan hasil-hasil penelitian yang dilakukan.

Berbasis Risiko

Menurut Edy Sugianto, dalam standar terbaru ISO 17-25:2017 terdapat konsep baru berupa pemikiran berbasis risiko, yaitu pada klausul 8.5. Manajemen risiko harus melekat pada seluruh proses laboratorium karena setiap proses laboratorium menghadapi risiko yang dapat menyebabkan sasaran tidak tercapai.

"Karena itu manajemen risiko tidak hanya menjadi tanggung jawab kepala satker atau kepala laboratorium, tetapi juga menjadi tanggung jawab seluruh bagian laboratorium, " ujar Edy.

Edy juga mengatakan, penelitian harus dihasilkan dari proses yang dapat dipertanggungjawabkan metodenya secara valid. Melalui validasi metode tersebut kemudian dilakukan konfirmasi bahwa suatu metode mempunyai unjuk kerja yang konsisten, sesuai dengan apa yang dikehendaki dalam penerapannya.

Menurut Edy, operator/analis yang melakukan validasi haruslah kompeten dan memiliki pengetahuan yang cukup dalam bidang pengujian terkait, sehingga dapat membuat suatu keputusan yang tepat dari hasil pengamatan yang diperolehnya.

"Kami juga berharap melalui pelatihan ini akan semakin meningkatkan kompetensi laboratorium lingkup Badan Litbang Pertanian untuk mewujudkan hasil penelitian unggulan yang berkelas dunia," pungkas Edy. 

Reporter : INDARTO
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018