Monday, 21 September 2020


Pakar dan Pengamat Pertanian Rumuskan Peta Jalan Pertanian 4.0

24 Jul 2019, 11:50 WIBEditor : Gesha

Keprihatinan akan kesiapan faktor sektor pertanian ini mencetuskan gagasan dari Yayasan Pertanian Mandiri (Yapari) dan Tabloid Sinar Tani untuk menginisiasi diskusi dengan mengundang pakar pertanian dari berbagai institusi untuk menghimpun pemikiran, dan | Sumber Foto:echa

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Pertanian 4.0 sudah tidak bisa terelakkan lagi, namun kesiapan beberapa faktor pendukungnya masih dipertanyakan. Karena itu, pakar dan pengamat pertanian berkumpul bersama untuk merumuskan peta jalan (roadmap) dari seluruh faktor untuk pertanian 4.0.

Keprihatinan akan kesiapan faktor sektor pertanian ini mencetuskan gagasan dari Yayasan Pertanian Mandiri (Yapari) dan Tabloid Sinar Tani untuk menginisiasi diskusi dengan mengundang pakar pertanian dari berbagai institusi untuk menghimpun pemikiran, dan merumuskan opsi kebijakan pertanian Indonesia pada era industri 4.0. Pada Mei 2019 silam, dilakukan seminar pertama yang menyimpulkan bahwa industri 4.0 belum menjamah kesejahteraan petani di Indonesia, sehingga berpotensi mengakibatkan kesenjangan kesejahteraan pelaku usaha pertanian dibandingkan dengan pekerja di sektor lain.

Pada saat yang sama, penyuluhan pertanian yang menjadi ujung tombak dalam menyampaikan informasi teknologi dan pasar kepada petani, yang efektif pada era tahun 1970/80-an, mengalami degradasi dalam setiap aspek, baik kelembagaan, pendanaan, materi, kegiatan maupun pelatihan penyuluhnya, khususnya sesudah desentralisasi pemerintahan.

Pemberian input produksi cuma-cuma kepada petani (bantuan pemerintah) untuk mendongkrak produksi, selain berbiaya tinggi ternyata tidak mampu memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan produksi dan pendapatan kepada petani. Bahkan ada tendensi program tersebut mengakibatkan semakin meningkatkan ketergantungan petani kepada bantuan, menyimpang dari esensi penyuluhan yaitu memberdayakan dan memandirikan petani secara berkesinambungan.

Dalam seminar pertama tersebut, disimpulkan semangat pembangunan industri 4.0 dan menerapkannya untuk pertanian dengan memanfaatkan seluruh teknologi secara rasional untuk meningkatkan adopsi teknologi, termasuk teknologi digital dengan sasaran jangka panjang dalam peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani sejajar dengan kesejahteraan pekerja di sektor lain.

Dengan semangat tersebut, Yapari melakukan diskusi lanjutan dengan mengambil tema Peta Jalan Menuju Pertanian 4.0 di Museum Tanah dan Pertanian, Bogor, Rabu (24/7). Diskusi tersebut menyentuh segala aspek pendukung dalam pertanian 4.0 dengan mengundang pakar serta pengamat pertanian yang kompeten di bidangnya.

Adapun pokok bahasan dalam diskusi ini meliputi sasaran jangka panjang pertanian yang efisien yaitu tidak hanya meningkatkan produksi dan produktivitas tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani. Untuk itu, pertanian haruslah merupakan sistem pertanian yang meningkatkan daya saing petani dan pertanian Indonesia, mendorong kreativitas petani dalam berproduksi dan berinovasi untuk memperoleh nilai tambah. Karenanya, petani harus difasilitasi dengan infrastruktur yang diperlukan, didukung dengan ketersediaan sarana produksi yang diperlukan, diberikan kemudahan terkait dengan perizinan dan dibebaskan dari serba peraturan yang menggerus kemampuan berinovasi.

Tak hanya itu, Penyuluh juga tetap penting dalam Pertanian 4.0, khususnya bagi pertanian rakyat. Tetapi sistem penyuluhan kini harus diganti dengan sistem penyuluhan yang maksimal dengan memanfaatkan teknologi komunikasi digital. Pertanian Indonesia berkembang mulai dari peningkatan produksi/produktivitas dan pendapatan petani, kemudian diikuti dengan peningkatan nilai tambah melalui peningkatan kualitas, dan product development.  Penyuluhan saat ini juga harus memanfaatkan semaksimal mungkin teknologi yang tersedia agar penyuluhan dapat menghadirkan informasi yang cepat dan akurat, serta tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, dengan memanfaatkan teknologi digital yang tersedia.

Termasuk, revitalisasi kelembagaan penyuluhan dan penelitian diarahkan pada tersalurnya informasi teknologi dan peluang ekonomi kepada petani secara efektif sehingga berdampak maksimal pada pemberdayaan dan kesejahteraan petani. Pilar sistem penyuluhan baru adalah Balai Penelitian, BPTP sebagai rumah bersama peneliti dan penyuluh, serta kelompok tani

Kelembagaan sosial-ekonomi juga menjadi sarana penting dalam membangun respon positif petani dalam menghadapi tantangan usahanya yang terus berubah sesuai dengan perkembangan lingkungan sosial-ekonomi dan teknologi. Kelembagaan yang mampu mendukung dan menumbuh kembangkan upaya-upaya petani dalam berinovasi dan beraktivitas ekonomi diperlukan sebagai katalisator untuk menumbuhkan kemandirian petani.

Sebagai aktivitas ekonomi yang dipengaruhi kondisi alam, pertanian menghadapi tantangan perubahan iklim global yang sedang berlangsung cepat. Pertanyaan yang perlu mendapat perhatian dan jawaban segera adalah sejauh mana teknologi pertanian 4.0 ini dapat berperan dalam upaya mitigasi dan adaptasi sektor ini, dengan terjadinya perubahan iklim tersebut. Apalagi pertanian Indonesia dicirikan oleh usaha skala kecil dengan kemampuan permodalan yang terbatas.

Tentunya, diskusi mengenai peta jalan pertanian 4.0 ini akan berlanjut pada seminar ketiga yang direncanakan mengundang pembicara dari kalangan pebisnis yang mengalami langsung dampak dari pertanian 4.0 di masa kini maupun masa depan. Seminar ketiga ini direncanakan pada September 2019.

Pokok pemikiran dari rangkaian diskusi tersebut akan dirumuskan oleh Tim Kecil yang terdiri dari Prof Dwi Andreas, Prof Soemardjo, Prof. Pantjar Simatupang dan Dr Memed Gunawan. Rumusan hasil seminar ini diharapkan menjadi masukan yang mempunyai daya ungkit penting terhadap pembangunan pertanian, bagi kabinet dan parlemen baru, dalam menyusun kebijakan pertanian yang tidak hanya mewujudkan kedaulatan pangan, tetapi juga menyejahterakan petani, menjaga kelestarian sumber daya alam dan meningkatkan perekonomian nasional.

 

 

Reporter : TABLOID SINAR TANI
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018