Thursday, 06 August 2020


Pertanian Sirkular sebelum Revolusi Hijau: Masa Kejayaan Petani Indonesia

28 Jun 2020, 11:47 WIBEditor : Ahmad Soim

Petani padi | Sumber Foto:Dok Sinar Tani

Agus Pakpahan -  Penulis buku Freedom for Farmer Freedom for All

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jasmerah), begitulah satu nasihat Presiden Soekarno kepada Rakyat dan Bangsa Indonesia.  Sejarah juga ternyata seringkali isinya tergantung kepada siapa yang menulisnya dan dilihat dari sudut pandang siapa.  Artikel ini saya tulis menurut sudut pandang petani di kampung saya lahir dan dibesarkan, menurut kisah yang saya pernah dengar dan juga menurut bukti-bukti peninggalan yang bisa kita saksikan.

Pada tulisan sebelumnya https://tabloidsinartani.com/detail/indeks/tekno-lingkungan/13473-Perlu-Menjadikan-Covid-19-sebagai-Landasan-Menciptakan-Revolusi-Hijau-Baru  telah diceritakan bahwa kampung Cibuntu di mana leluhur kakek saya berasal merupakan kampung yang kaya.  Berbeda dengan penduduk kampung Ciuyah, kampung asal dari garis nenek saya, penduduk di kampung Cibuntu hampir semuanya bekerja sebagai petani.  Karena itu, apabila dikatakan penduduk kampung Cibuntu hampir semuanya kaya menurut ukuran di kampung saya, maka kekayaannya itu bersumber dari hasil pertanian.  

Konsep kekayaan berbeda dengan konsep pendapatan.  Kekayaan atau dalam bahasa Inggris disebut wealth berkaitan dengan kepemilikan aset.  Aset tersebut bisa berupa tanah, kebun, rumah, ternak, tacit knowledge, kearifan lokal dan jenis kekayaan lainnya.  Tentu kekayaan itu berkaitan dengan pendapatan.  Pendapatan yang jauh melebihi pengeluaran dan kemudian dihemat dan hanya dialokasikan untuk membeli faktor-faktor produktif akan menambah besar kekayaan pemiliknya. 

Sebagaimana telah diceritakan, rumah penduduk di kampung Cibuntu tidak ada yang jelek.  Hampir semuanya terbuat dari tembok atau setengah tembok dengan ukuran yang relatif besar.  Tentu penerangnya terbuat dari lampu minyak.  Listrik baru masuk ke kampung kami pada tahun 1971, ketika saya kelas I di SMAN Sumedang. 

Selain aset kebun yang bagus, kekayaan orang Cibuntu juga bersumber pada ternak.  Di pinggir Gunung Tampomas terdapat kawasan pengangonan yang luas. Ratusan atau mungkin juga mendekati bilangan ribuan ternak dipelihara oleh orang Cibuntu.  Sebagian dari ternak tersebut dikandangkan dan sebagian lagi digembalakan di pengangonan. 

Kakek saya selain memelihara sapi juga sudah memelihara kambing etawa untuk diambil susunya.  Yang juga tidak kalah pentingnya dari sistem pertanian yang dikembangkan oleh leluhur kami ini adalah kotoran ternak yang menjadi sumber pupuk organik yang digunakan di sawah dan di ladang.  Tercipta sistem hubungan manusia-alam yang harmoni.

Saya sangat beruntung masih menjadi bagian dari sistem tersebut mengingat sejak bayi hingga menjadi murid SMP kelas 1 saya tinggal dan diasuh oleh kakek-nenek buyut.  Dari kakek-nenek buyut inilah saya mendengarkan kisah-kisah beliau semasa kecil, muda dan tua.  Kakek-buyut saya juga mengajarkan bagaimana kita beradaptasi dengan alam, bukan merusaknya. Pertanian organik yang berkembang di Eropa sekarang, misalnya, pada generasi kakek-nenek buyut kita adalah praktek biasa. 

Pertanian Sirkular Era 1950-1960

Saya masih ingat, dan saya mencoba membuat replikanya  sekarang, bagaimana fungsi dapur dirancang terintegrasi dengan kebutuhan usahatani. Dengan menggunakan kayu bakar maka dihasilkan tiga produk utama: panas, asap dan abu.  Panas untuk memasak. Asap untuk mengasap. Abu untuk pupuk. 

Api yang menghasilkan panas untuk memasak sudah sangat jelas pemaknaannya.  Tetapi asap untuk apa? Dengan mengganti bahan bakar untuk memasak dengan minyak tanah, apalagi gas, maka manfaat asap menjadi hilang. Apa yang hilang dari kehilangan asap itu? Utamanya yang hilang adalah teknologi pengawetan benih. Pada masa kakek-nenek kita benih, khususnya palawija, biasa disimpan di atap tungku (para seuneu).  Hasilnya adalah benih yang awet dari serangan berbagai hama serangga.  Asap ini juga digunakan untuk mengawetkan makanan seperti dendeng daging atau dendeng ikan. 

Bagaimana memanfaatkan abu dapur untuk pupuk?  Tacit knowledge leluhur kita luar biasa hebatnya. Abu diambil setiap sore dari tungku (hawu) dan disimpan dalam suatu wadah khusus.  Apa yang dikerjakan kemudian? Kami setiap pagi atau kapan saja kalau akan membuang urine, maka  urine tersebut kita kocorkan ke dalam abu dapur yang dipersiapkan tadi.  Dengan hilangnya teknologi dapur maka hilanglah suatu model siklus tertutup kehidupan pertanian-permukiman-dan proses produksi pertanian pada umumnya. 

Dalam sistem modern semua input dirancang tergantung dari luar.  Dengan demikian bukan hanya terjadinya ketergantungan, tetapi yang lebih penting lagi adalah terjadinya proses entropy  eko-sosial yang sangat cepat.  Bangsa Eropa sekarang sedang giat-giatnya mempromosikan pembangunan model sirkular (circular).  Dulu kita sudah menerapkannya dan sekarang malahan meninggalkannya.

Dengan menerapkan model sirkular tersebut orang Cibuntu berhasil menjadi para petani kaya.  Dari hasil pertanian pada lahan sekitar dua hektar tegal dan satu hektar sawah kakek saya bisa membuat rumah besar, lengkap dengan segala fasilitas yang diperlukan untuk mengolah hasil panennya.

Hasil usaha tani lebih dari cukup untuk menyekolahkan anak-anaknya.  Bahkan membeli rumah di kota Bandung untuk menjadi tempat tinggal anaknya selama bersekolah juga bisa. Bisa membeli kendaraan pribadi dan juga truk untuk mengangkut hasil bumi.  Semuanya itu diperoleh kakek saya dari hasil usahatani sebelum Revolusi Hijau digelar. Hasil menjual kentang, bawang merah, ternak dan juga gabah.

Kakek sangat berbahagia ketika mendengar saya diterima di IPB pada 1974.  Saking bahagianya, kakek mengantar saya ke Bogor. Ingin tau IPB itu seperti apa? Kakek sangat mencintai profesinya sebagai petani. Mendengar IPB adalah “pabrik” insinyur pertanian, beliau sangat berharap banyak.

Revolusi Hijau, Petani dan Beban Industrialisasi

Tahun 1974 adalah tahun di mana Revolusi Hijau sedang gencar-gencarnya digalakkan Pemerintah.  Kalangan Pemerintah dan kita pada umumnya melihat Revolusi Hijau itu sebagai keajaiban dunia yang bisa melipatgandakan produksi pangan.  Artinya, tak akan ada lagi kesulitan hidup bagi rakyat Indonesia.  Perubahan total terjadi diperdesaan.  Model sirkular sebagaimana yang saya sedikit ceritakan di atas langsung mati. Kita sekarang berbicara Panca Usaha.  Semua input menjadi tergantung pada pihak luar (industri). Kecuali tenaga kerja saja.

Kakek tidak berani berbicara kepada pihak lain, kecuali kepada saya, sebagai mahasiswa IPB ketika itu.  Saya sendiri sering membantah beliau karena memang kiblat pengajaran di IPB juga diarahkan untuk mempelajari pertanian modern ajaran Barat. Isi kepala ini langsung penuh dengan NPK dan pestisida serta bibit unggul.  Komunikasi saya dan kakek tentang teknik budidaya tanaman tidak harmonis.  Tapi saya juga sering berpikir dan khawatir akan situasi yang sering disampaikan kakek saya: Sekarang ini kehidupan menjadi petani semakin sulit saja.

Apa yang sering digunakan sebagai argumen dasar oleh kakek saya sehingga beliau berani mengatakan bahwa “sekarang ini kehidupan menjadi petani semakin sulit saja”. 

“Coba kamu pikirkan berapa harga gabah sekarang? Kalau dulu tahun ‘60an awal 1 kw gabah bisa membeli 10 gram emas.  Sekarang, 1 kw gabah hanya bisa dapat satu gram emas”, kakek menyampaikan argumennya ketika suatu kali saya kembali ke kampung untuk liburan kuliah tahun 1970an. 

“Kamu harus tahu, sekarang untuk membayar upah satu orang mencangkul sehari ditambah kebutuhan lauk pauk dan rokoknya tidak cukup dengan menjual 10 kg gabah”, tambahan argumen beliau.

Ungkapan tersebut terus disampaikan setiap kali kami bertemu.  Saya mengamati juga kehidupan petani di kampung saya sampai sekarang.  Rumah-rumah mereka yang pada tahun 1960an  merupakan rumah-rumah mentereng untuk kehidupan di perdesaan, sekarang sangat tampak kusam, tak terawat atau bahkan ditinggalkan. 

Sudah banyak rumah-rumah tokoh-tokoh petani tahun 1960an, sekarang sudah berganti fungsi oleh generasi berikutnya.  Barusan, saya coba Googling mencari data berapa harga emas sekarang.  Harga emas per 1 gram di Antam pada hari Kamis, 18 Juni 2020, adalah Rp 900.000.  Sedangkan harga gabah menurut Kepala BPS pada 1 April 2020 adalah Rp 5766 per kilogram atau sekitar Rp 576,600 per kuintal.  Artinya, dengan menjual satu kuintal gabah baru didapat jumlah emas 0.64 gram.  Jadi, kakek saya benar bahwa nilai gabah diukur oleh daya tukarnya dengan emas jauh menurun. Memori beliau mencatat kalau tahun 1960-an menjual satu kuintal emas bisa mendapat 10 gram, sekarang hanya mendapat 0.64 gram.

Gambar yang saya sajikan berikut memperkuat argumen kakek saya yaitu harga riil beras di pasar dunia tampak semakin menurun.  Dalam buku Freedom for Farmer Freedom for All saya menyatakan  bahwa pertanian itu baik untuk peradaban tetapi ternyata buruk untuk petani. Pernyataan tersebut sejalan dengan kisah kakek saya dan warga Cibuntu pada umumnya; dan juga sejalan dengan kisah petani di dunia, kecuali para petani di negara maju. 

Petani di negara maju, walaupun harga komoditas yang diusahakan menurun di pasar dunia, sumber pendapatan mereka bisa mencapai 80 persen berasal dari transfer pendapatan dan hanya 20 persen dari hasil usahataninya.  Mengapa bisa begitu? Industrialisasi berjalan mulus di negara maju sedangkan di negara berkembang tidak.  Apa artinya? Petani dan pertanian harus memikul kegagalan industrialisasi di negara berkembang yang terjadi pula di Indonesia.

Sumber: D. Dawe, “The changing structure of the world rice market, 1950–2000”, Food Policy 27 (2002) 355–370

Covid-19 yang terjadi sekarang ini mudah-mudahan bisa menjadi momentum perubahan besar untuk menciptakan Revolusi Hijau Baru, yang benar-benar bisa dan kuat meningkatkan kesejahteraan petani.  Petani dan pertanian baik untuk kemajuan peradaban dan jangan lupa harus pula menjadi sumber kesejahteraan para petaninya.

 

  

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018