Thursday, 06 August 2020


Perlu Menjadikan Covid-19 sebagai Landasan Menciptakan Revolusi Hijau Baru

27 Jun 2020, 17:17 WIBEditor : Ahmad Soim

Agus Pakhpahan saat di Sumedang Jawa Barat | Sumber Foto:Dok pribadi

Sebuah Pelajaran 60 Tahun Perubahan Lingkungan Desa Pertanian I Oleh Agus Pakpahan - Peneliti dan Pengamat Pertanian

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Sudah seminggu lamanya saya berada di kampung halaman tempat saya dilahirkan, dibesarkan dan tempat kembali lagi di masa tua sekarang ini.  Seharusnya kembali ke sini pada hari lebaran yang telah lewat.  Akibat Covid-19 terpaksa mudik ditunda dan baru dapat dilaksanakan minggu ini.

Kehadiran Covid-19 yang diduga berawal di Wuhan, China, dan kemudian mengglobal dalam waktu yang sangat singkat termasuk hadir di Indonesia sampai saat sekarang dan tidak diketahui secara pasti sampai kapan kehadiran Covid-19 akan berakhir, tentunya perlu menjadi bahan pemikiran untuk melihat apa yang terbaik untuk kita kerjakan, demi masa depan yang lebih baik. 

Dengan tulisan ini saya akan mencoba mengambil bahan pembelajaran dari perubahan lingkungan yang saya ketahui dengan baik dan akan menarik implikasinya terhadap pentingnya menjaga lingkungan hidup di sekitar kita.  Menjaga lingkungan hidup tersebut tentunya demi kebaikan tingkat kehidupan masyarakat setempat.  Apabila tingkat kehidupan masyarakat setempat membaik, dan itu berlaku untuk seluruh masyarakat setempat yang ada di muka bumi, maka pengertian masyarakat setempat adalah sama dengan masyarakat global.  Spirit ini yang saya coba tanamkan.

 Lokasi tempat saya tinggal berada di lingkungan kecamatan Cimalaka, kabupaten Sumedang, Jawa Barat.  Ada empat desa yang mana pada saat saya kanak-kanak dan remaria menjadi tempat bermain sehari-hari: Desa Cibeureum (sekarang sudah mekar menjadi dua desa yaitu Cibeureum Wetan dan Cibeureum Kulon; di sini saya menamatkan sekolah dasar), Desa Mandalaherang, Desa Licin, Desa Ciuyah dan Desa Cimalaka (di sini saya menamatkan SMP).  Kecuali Desa Ciuyah (sekarang sudah menjadi lokasi Kantor Kecamatan Cisarua), dan Desa Licin, semua desa yang disebutkan di atas terbelah oleh jalan Daendels yang mengalir dari Bandung ke arah Cirebon. 

 Pada masa lalu Desa Ciuyah merupakan desa penting bagi Desa Madalaherang, Licin atau Cimalaka.  Letak strategis Desa Ciuyah adalah sebagai pemasok tenaga kerja pertanian.  Tidak demikian kondisi sekarang, sebagian besar anak-anak muda dari Desa Ciuyah bekerja di Jakarta dan kota-kota lainnya.  Pada umumnya mereka bekerja di sektor informal, terutama dalam bidang jasa penyedia makanan dan minuman. 

 Untuk masuk ke Desa Ciuyah dari jalan Daendels yang terletak di dekat Kantor Balai Desa Mandalaherang ke arah selatan sekitar 3 km dapat dijangkau dengan berjalan kaki melalui jalan desa.  Kalau dulu jalan tersebut hanya beraspal tanah. Sekarang sudah berubah menjadi aspal Buton. Desa Ciuyah pada tahun 1960an masih tampak sebagai permukiman perdesaan.  Sekarang wajahnya sudah berubah total. Padat. Serba gedung. Kendaraan roda empat dan apalagi roda dua ramai kita jumpai. Dulu tidak demikian. Jalan semua terbuat dari tanah saja. Tanahnya juga berjenis tanah merah yang kalau kena hujan lengket di kaki. Dari desa ini anak perempuan yang bersekolah sampai ke sekolah di kecamatan hanya ibu saya. Glamour kota-kota besar telah mengalahkan panggilan pekerjaan dari sektor pertanian.

 Dulu, tenaga kerja dari wilayah ini mengalir ke daerah pertanian di mana kakek saya berasal yaitu kampung Cibuntu.  Kampung ini berada di punggung Gunung Tampomas bagian selatan. Waktu saya kecil, tahun 1960an, saya paling suka bermain ke Cibuntu.  Kampung ini merupakan kampung kebun. Isi kebunnya segala macam buah-buahan dan hasil pertanian lainnya. Termasuk tanaman bunga. Di kebun kakek saya ada pohon durian, nangka, rambutan, duku, menteng, bencoy, jambu, dan masih banyak lagi. 

Suasana di kebun sangat ramai oleh suara-suara orang bekerja.  Beragam nyanyian disuarakan untuk menghibur diri mereka sambil bekerja. Ubi jalar, talas, jagung, kacang tanah, singkong dan masih banyak lagi jenis tanaman pangan yang diusahakan.  Kakek saya mengandalkan kentang dan bawang merah untuk memperoleh sumber kekayaan. Kakek juga menanam jeruk garut.  Kalau pisang, hampir setiap hari kami memanennya. Walau begitu ada satu hal yang saya heran dan keheranan tersebut saya tanyakan kepada kakek saya ketika itu, yaitu mengapa banyak bekas rumah bagus dan besar, terbuat dari tembok dan kayu kokoh, ditinggalkan para penghuninya sehingga menjadi seperti rumah hantu?

 Kakek saya menjelaskan bahwa para penghuninya pindah, termasuk kakek saya juga, ke lokasi yang lebih aman, ke kota atau ke pinggir jalan raya Daendels.  Apa yang terjadi? Rupaya pada masa 1950an s/d 1960an awal, gerombolan DI/TII sering mengganggu kehidupan di kampung Cibuntu.  Mereka bukan hanya merampok dan membakar rumah, juga sampai tega membunuh penghuninya.  Dari peristiwa itulah lahir rumah hantu dan migrasinya penduduk pegunungan di kaki Gunung Tampomas pindah ke pinggir jalan Daendels. 

Ibu saya bercerita, pada saat itu juga saya mengenakan pakaian anak perempuan seperti rok dan blus perempuan supaya menyamar menjadi anak perempuan.  Kalau diketahui sebagai anak laki-laki, takut diculik dan dibawa lari ke hutan oleh gerombolan tadi.  Pagar betis di sekeliling Gunung Tampomas telah berhasil mengalahkan gerombolan tadi, tetapi migrasi balik tidak terjadi.  Yang terjadi adalah peristiwa yang lebih mengharukan lagi yaitu rusaknya ekosistem Cibuntu akibat penggalian pasir hingga sekarang ini. 

Daerah ini bukan hanya menjadi daerah mati tetapi juga menjadi daerah yang membahayakan bagi daerah-daerah lainnya melalui perubahan tata air dan iklim mikro serta pencemaran air tanah atau bentuk polusi lainnya sebagai akibat dijadikannya lubang bekas galian pasir sebagai tempat penimbunan sampah kota.

 Kegiatan pada hari pertama selama saya mudik kali ini adalah pergi ke makam leluhur di  pemakaman Cibuntu.  Pergi ke makam kali ini bukan skedar untuk berziarah tetapi juga untuk melakukan “penelitian kecil” tentang usia harapan hidup dan beragam penyakit dari suatu komunitas pada periode waktu tertentu.

Dengan mengisi benak saya oleh pikiran Covid-19 saya bertanya kepada saudara-saudara di kampung apakah ada korban Covid-19 di kampung kami.  Alhamdulillah tidak ada.  Saya bertanya seperti itu mengingat di makam Cibuntu banyak dijumpai kuburan kanak-kanak. Menurut kakek saya makam kanak-kanak tersebut adalah korban pada waktu terjadinya peristiwa wabah pes zaman dulu, mungkin yang dimaksud adalah peristiwa pandemik influenza dunia pada 1918.  Di pemakaman Cibuntu saya juga tidak melihat ada makam baru.  Bersyukur kepada Tuhan, 102 tahun setelah tahun 1918 kampung kami selamat dari wabah Covid-19.  Semoga untuk selanjutnya demikian.

 Sambil berjalan kaki menanjak ke arah pemakaman Cibuntu di kaki Gunung Tampomas, tentu saja banyak kenangan lama muncul dalam bayang-bayang.  Selama perjalanan dari rumah ke makam, menelusuri jalan setapak yang tidak bersih seperti 60 tahun yang lalu, tetapi penuh dengan rerumputan atau bahkan dapat dikatakan perlu dibersihkan terlebih dahulu dari tanaman perdu yang menghalangi untuk bisa melewatinya, kami mencoba membuat pengamatan kecil. Hasilnya: burung sri gunting, tidak ada. Burung kepodang, tidak ada. Burung kutilang, tidak bertemu. Burung ese nangka, tak ada. Turaes atau cicada, tidak ada. Kumbang, tidak ada. Gangsir, tidak ada. Suara orang bernyanyi, tidak terdengar.  Oh…sepi sekali kebun kami ini. 

 Apa yang telah terjadi di kampung Cibuntu selama 60 tahun tekahir? Buku Rachel Carson, “Silent Spring”, benar adanya.  Lingkungan menjadi sangat sunyi akibat dari banyak faktor.  Bekas kampung Cibuntu yang dulunya subur-makmur dan ramai sekarang sunyi senyap, kecuali satu hal: Suara bising oleh mesin-mesin penggali pasir dan kendaraan pengangkutnya, truk-truk besar.  Bukan hanya itu, lubang-lubang bekas galian pasir dibiarkan menganga, menggantikan bekas-bekas lahan pertanian subur yang mengidupi banyak orang pada masa lalu.  Bahkan, bekas galian pasir pada bukit-bukit di kaki Gunung Tampomas tersebut tampak terlihat dari pekarangan Mesjid Agung Kecamatan Cimalaka, dekat Kantor Kecamatan. 

Bukan hanya itu saja rupanya, lubang-lubang bekas galian pasir itu pun dijadikan tempat pembuangan sampah kota Sumedang.  Ini Tempat Pembuangan Sampah Resmi! Masya Allah. Bahkan di bekas galian pasir yang berdekatan dengan Mushola dan tempat pemandian yang dulu sangat bersih dan airnya segar pun dijadikan tempat pembuangan sampah. Seharian di hari pertama ini saya habiskan di seputar kaki Gunung Tampomas. Hasilnya: rasa sedih zaman sekarang, rasa rindu masa lalu.  Tidak perlu menunggu satu abad lamanya untuk menyaksikan kerusakan parah di lingkungan di sekitar kita.

 Hari kedua di kampung halaman saya habiskan di sekitar persawahan.  Antara jalan Daendels dengan kaki Gunung Tampomas di sekitar kampung saya terdapat hamparan sawah yang luasnya sekitar 85 hektar.  Sawah ini berada di Desa Cibeureum Kulon, Mandala Herang, Licin dan Cimalaka.  Persawahan di wilayah ini merupakan persawahan yang airnya berasal dari sumber mata air.  Mata air besar berada di kampung Ciburial, Desa Licin, yang kemudian mengalir melalui semacam sungai kecil membelah persawahan menjadi dua bagian besar.  Pada sekitar hamparan sawah juga banyak keluar mata air. 

Salah satu mata air yang cukup besar keluar di sawah milik orang tua kami.  Semakin dekat jaraknya ke sungai kecil tadi, sawahnya semakin menyerupai rawa.  Kedalaman sawah milik kami pada pinggir sungai kecil tadi rata-rata setinggi dada orang dewasa.  Jadi, kalau mengolah tanah sawah di sini bukan dengan cara mencangkul sisa-sisa jerami tetapi dengan mencabut jerami tersebut dan kemudian menenggelamkannya ke dalam lumpur dengan cara menginjaknya.  Pekerjaan yang berat!

 Jenis padi yang ditanam pada masa kecil saya adalah jenis padi yang tinggi, usia panennya sekitar 6 bulan.  Karena padinya tinggi dan airnya dalam maka disukai oleh burung-burung air dan juga berbagai jenis ikan berkembang biak dengan baik di persawahan.  Sambil berjalan di pematang sawah, sekarang saya hanya bisa membayangkan apa yang saya lihat dan nikmati 60 tahun yang silam.  Kalau mau makan daging burung pecuk atau beker, saya tinggal membawa sumpit dan berburu burung air di persawahan. 

Kalau mau ikan gabus, belut atau betok, tinggal memancing atau ngurek.  Kalau mau cepat dapat banyak ikan, ya cukup menggunakan alat penangkap ikan kecil seperti impun, tak perlu waktu satu jam sudah dapat ikan impun lebih dari satu kilogram.  Kakek-buyut kami bahkan memelihara ikan dan sekaligus bebek yang diangon ke persawahan.  Sawah bukan hanya sebagai sumber beras tetapi lebih jauh dari itu, sawah sebagai sumber protein dan juga sawah sebagai pusatnya kehidupan.  Perubahan yang terjadi di persawahan selama kurang-lebih 60 tahun membuat sawah-sawah hanyalah sebagai tempat menanam padi, yang sepi, bahkan menjadi tempat kita mempolusi. 

 Jadi, satu hari di kebun dan satu hari di sawah hasilnya sama. Makna lingkungan sebagai sumber kehidupan telah berganti menjadi lingkungan yang telah kita rusak sendiri. Kata kita di sini perlu diartikan sebagai kita dalam konteks kebijakan publik. Mengapa? Sebab semua perubahan tersebut merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kebijakan yang dijalankan oleh Pemerintah.

 Covid-19 mudah-mudahan bisa dan kuat menyadarkan kita untuk belajar dan menerima bahwa kehadirannya bukanlah datang tiba-tiba tanpa alasan kuat.  Pernah kita belajar dari datangnya hama wereng pada tahun 1970an.  Datangnya hama wereng adalah akibat dari hilangnya pemangsa atau musuh alami dari insek tersebut.  Kita bisa bangun hipotesa yang sama. Dewasa ini pertanian sudah dicap sebagai sektor yang paling mempolusi, khususnya dalam menghasilkan dampak negatif dari Nr (reactive nitrogen) sebagai akibat dari pemupukan dan peternakan. Demikian pun halnya dengan penggunaan pestisida dan herbisida. Ditambah lagi dengan penggalian pasir yang merusak fungsi Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai pengatur tata air. Apalagi kalau sisa-sisa galian pasir dijadikan tempat pembuangan sampah.  Lengkapkah sudah kita merusak lingkungan yang mana anak-cucu kita akan menerima akibat buruknya.

Jadi, Covid-19 perlu dijadikan dasar untuk membangun Green Revolution yang baru.  Revolusi Hijau yang benar-benar hijau yang pas untuk iklim tropika dan struktur geografis kepulauan. 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018