Friday, 23 October 2020


Mindo Sianipar, Anggota Komisi IV DPR RI: Bio-Economy, Petani bisa Tanam Pangan Jual Ternak

06 Jul 2020, 15:12 WIBEditor : Ahmad Soim

Mindo Sianipar | Sumber Foto:Ahmad Soim

Dia peduli sama pertanian rakyat. Berkat kecintaannya itu, Mindo Sianipar Anggota Komisi IV DPR RI, sejak tahun 2006 mengembangkan Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan (P4S) Komunitas Tumbuh Bersama di Cariu Kab Bogor.

 

 TABLOIDSINARTANI.COM - Teknologi pertanian zero waste dan bio-economy dikembangkan di P4S Komunitas Tumbuh Bersama yang dikelola Mindo Sianipar ini, dari mulai untuk tanaman padi, jagung, sayuran, ternak, ikan, pupuk kompos, maggot, pakan ternak dan ikan.

Dia berharap pemerintah, yakni Kementerian Pertanian juga Kementerian Koperasi mau menggunakan P4S untuk menyebarkan inovasi teknologi pertanian seperti yang ia jalankan, yakni zero waste dan bio-economy.

Untuk mengetahui praktek zero waste dan bio-economy dan peran penyulubh pertanian yang dijalankan Mindo Sianipar, Tim Redaksi Tabloid Sinar Tani Dr Memed Gunawan, Multono Machmur, MS dan Ahmad Soim mewawancarai Mindo Sianipar di Komplek Gedung DPR RI.

 Kegiatan penyuluhan pertanian mulai dikuatkan kembali di Kementerian Pertanian. Penyuluhan seperti apa yang perlu dikembangkan?

Saya senang kalau   masalah penyuluh pertanian dihidupkan kembali. Pusat Penyuluhan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) sebagai institusi penyuluhan pertanian sudah lama tidak aktif. Padahal itu sangat perlu, bahkan wajib. P4S adalah tempat untuk mendesiminasikan teknologi kepada masyarakat melalui pertemuan pertemuan di atau yang diselenggaran P4S. Tanpa penyuluh kecepatan masyarakat menerima teknologi yang baru  akan lambat sekali. Makanya P4S itu penting sekali.

Saya punya P4S namanya P4S Komunitas Tumbuh Bersama. Tumbuh Bersama itu bahasa lain dari harus gotong royong kalau mau tumbuh bersama.

Sejak tahun 2006, saya  melakukan pelatihan untuk petani di P4S Komunitas Tumbuh Bersama yang ada di Cariu, Kabupaten Bogor.  Tagline yang saya katakan pada temen temen yang membantu saya di sana zero waste dan bioeconomy. Dari dulu P4S saya, nggak mau bergerak di situ terus pada corenya. Selalu zero waste, tidak ada limbah. Ada produk utama dan ada produk samping.

Saya kira di dunia pertanian, terutama saya bicara yang wong cilik, bukan perusahaaan yang besar. Kalau perkebunan sawait nggak saya katagorikan pertanian wong cilik. Sawit itu bukan tanaman rakyat tapi tanaman korporasi, karena kalsu sudah replanting, para petani tidak ada uangnya, berarti nggak hidup selama ini, padahal mereka sudah memiliki lahan di atas dua ha.

Yang kita bicarakan dalam pertanian ini adalah  bagaimana memanfaatkan tanah secara menyeluruh untuk mereka kembangkan secara Bersama-sama.  Saya  melakukan itu, di manapun saya ditugasi, termasuk di Sumatera Utara, di Jatim 8, dan di Cariu.

Koperasi adalah badan hukum terbaik untuk pertanian rakyat. Saya berpikir tidak harus ada dulu badan hukumnya, baru bekerja. Yang penting, semangat gotong royong mereka, kebersamaan mereka, yang terus kita pupuk.

Di P4S Cariu sekarang lebih holistic. Pada tahun 2009, saya meyakinkan Kementan bahwa perlu unsur hara silika untuk dicampurkan pupuk kimia, bukan hanya unsur N,P dan K.  Waktu itu saya dorong membuat silika dari sekam padi, kita pirolisis maka silikanya organik, sudah terurai, siap diserap tanaman. Pengalaman menunjukkan, kalau itu diaplikasikan pada tanaman padi, maka daun benderanya akan tegak dan lebar lebar, fotosistesa lebih banyak, mau tidak mau hasilnya akan lebih banyak. Berapa ppm silakanya, itu bukan urusan saya, itu urusan penetili dan akademisi.

 Pupuk buat petani sangat penting, sepertinya harga pupuk akan meningkat bila subsidinya dicabut oleh pemerintah. Apa harapan Anda?

Kita melihat di lapangan, ada petani di Eropa menanam dengan menggunakan pupuk campuran kompos dengan arang. Ada yang namanya Terapreta, suatu pupuk yang dikembangkan Amazon untuk menanam kentang, wortel dan umbi umbian.  Mereka menggunakan arang batubara dicampur dengan kompos. Terapreta adalah campuran arang dan kompos. Arangnya dari batubara. Kalau kita, kembangkan campuran pupuk kompos dengan arang sekam, lebih baik dari batubara, karena mengandung silika.

  Saya sebagai petani belajar membuat sendiri arang sekam. Kemudian asepnya dicampur ke air, supaya jadi asap cair, untuk pestisida organik. Cara membuatnya sangat mudah, kalau sekam yang dibakar sudah merah, langsung disemprot air, sehingga arang sekamnya jadi arang aktif. Arang sekam itu bisa digunakan untuk menyerap bau di kamar mandi.   Teknologinya simpel.

Penggilingan padi, bisa membuat satu unit yang kecil sebagai percontohan, mempirolisis sekam padi jadi arang, sekaligus asap cair. Petani yang datang ke penggilingan dengan membawa gabah, bisa mengambiljuga produk non berasnya ini. Dengan demikian pendapatan dari padi, tidak lagi hanya dari beras dan katul, melainkan ada arang sekam dan asap cair. Itu yang bisa jadi bioeconomy.

 Kemudian pertanian   kita harus kaitkan langsung dengan ternak dan ikan, mestinya malah ikan air tawar dikelola Kementerian Pertanian bukan Kementerian Perikannan dan Kelautan (KKP).  Karena perikanan air tawar, langsung berhubungan dengan petani. Pernah KKP membuat mina padi. Karena hidupnya dekat seperti itu. Dengan demikian,  dalam satu daerah itu bisa diproduksi integrasi pertanian, supaya satu daerah dusun/ desa optimal hasilnya untuk orang desa tersebut.

Contoh kata kata yang sederhana untuk mengistilahkan pertanian integrasi itu adalah  menanam jagung menjual domba.   Menanam jagung, menjual telur ayam. Menanam Jagung menjual bebek.  Jadi yang ditanam itu tidak serta merta hasilnya jadi uang cash, melainkan ada nilai tambah yang lain.

Contoh lainnya kelor, dapat  dijadikan nutrisi, kalau kita fermentasi, kita larutkan dalam air,  bisa jadi campuran air minum untuk ungags, ternak ruminansia. Bisa membuat ternak  sehat. Semakin sehat ternak maka semakin   bisa melawan penyakit.  Teknologi sederhana dan tepat guna ini bisa diajarkan ke masyarakat. Yang penting  logikanya bisa jalan, jangan perhatikan dulu sekian ppm dosisnya. Lupakan dulu itu, yang penting bisa dikerjakan petani. Kalau sekian ppm dosisnya, itu terkait dengan pabrik. Kapan merdeka. 

Banyak petani yang juga memiliki kolam ikan. Inovasi teknologi yang dilakukan di P4S Anda apakah bisa jadi alternative untuk meningkatkan pendapatan petani?

Saya sudah lama mengkritisisi KKP, jangan lagi yang dibagi-bagi itu bibit lele. Kalau bibit lele, langsung dihitung pabrik pakan, ke daerah mana, dia jualan disana. Pilih lah ikan yang diberikan itu bibitnya yang memakan lumut atau dedaunan. Kembangkan sejenis itu, seperti  Gurami, Nila, ikan air tawar lainnya, jangan catfish, lele, patin.  Yang untung hanya pabrik pakannya, pembudidayanya tak dapat untung yang berarti. Ada memang manfaatnya, bisa memberi semangat, terutama senangnya saat petani memberi makan ikan. 

Ada yang bilang gurami lama, memang untuk mendapatkan satu kilo dua ekor, perlu waktu satu setengah tahun, tetapi sudah ada kearifan lokal di petani pembudidaya, itu dalam 1,5 tahun ada lima kali transaksi. Pertama,  saat jual telur sama sarangnya.  Kedua saat dijual dalam bentuk literan.  Ketiga saat dijual dalam bentuk ekoran.  Keempat, dijual dalam bentuk satu kilo sudah sekian ekor. Dan  yang kelima, dijual ukuran konsumsi.  Akhirnya di mereka kan tidak sampai tiga bulan juga. Yang ini yang harus disampaikan. Ini kewajiban pemerintah menyampaikannya kepada masyarakat. 

Dimana tempatnya  itu, di P4S. Usaha P4S adalah, usaha gotong royong, yang badan hukumnya nanti koperasi. Untuk sementara ini yang harus dikejar adalah Bumdes, harus dibuat badan hukum, sekarang ini banyak hanya sengan SK Kepala Desa. Badan hukumnya pilihannya PT, firma atau koperasi. Kalau dalam bentuk koperasi,  bisa ada simpanan sukarela atas nama pemerintah desa tiap tahun, katakan dari dana Rp 1 miliar lebih, untuk pemberdayaan masyarakat dikasih Rp 50 atau 100 juta per tahun. Dalam dua periode akan ketemu banyak Bumdes yang tangguh di seluruh Indonesia.  

Dengan Kementan, kita Komisi IV DPR RI setuju Bumdes yang badan hukumnya koperasi menjadi kios pengecer pupuk bersubsidi. Di desanya hanya dia, dia dapat fee walau kecil, pupuk Indonesia setuju. Bulog siap kalau pembeliaan gabah yang selama ini lewat kontraktor, bisa langsung dengan Bumdes. Petani desa, selain sebagai produsen juga konsumen. Karena itu, Bumdes, bisa dipakai jaringan Bulog, tidak hanya jual beras, bisa juga jual gula, telur dan sebagainya.  

Yang ada dibenak saya yang saya tawarkan ke Direktur Pembiayaan Kementan, bisa dikembangkan KUR domba dan ayam kampung petelur. Nanti ayam kampungnya tidak boleh dibeli dari DOC , karena perlu 4 bulan atau 5 bulan untuk samapi masa bertelur. Itu kelamaan, jadi transaksinya, KUR dalam bentuk pullet, satu minggu lagi bertelur ditransaksikan.  Satu rumah tangga itu 50 ekor ayam, kita buat kandang yang murah untuk 50 ekor. Mereka hanya terima tanda tangan, berapa harga pullet dan pakan. Kalau beli pakan sendiri sendiri harganya pasti tinggi. Penerimanya membentuk koperasi, kredit itu tetap pribadi transaksinya, supaya bisa masuk bantuan pemasaran dari Kementerian operasKi. Ini Kerjasama Kementan dan Kemenkop.

Ajari peternak, beli konsentrat, ditmbah jagung berapa persen, dedak berapa persen, itu diajarkan kepada mereka, bisa akan banyak mengurangi biaya, dengan  demikaian kalau masyarakat menggiling padinya dia minta dedaknya, tanahnya bisa ditanam jagung dijual ke koprasi, kan hidup desa itu. Jadi kementerian pertanian lewatnya dengan P4S.  Dari segi anggaran, karena itu  binaan resmi Kementan boleh dong, karena jelas bagian dari dirinya. Pada masa Pandemi ovid-19, penjualan bisa melalui   HP. Jangan pikir ke pasar mana mana. Ada perumahan sekitar petani tinggal.

Penyuluh itu lah motornya P4S, kalau selama ini saya menempatkan diri sebagai penyuluh, penyuluh swadaya. Sewaktu pemilihan legaslatif, saya ke sawah sawah, saya menyuluh petani, begini cara tanamnya. Saya jelaskan Jarwo. Itu modal saya, saya dipilih karena itu. Saya keluar uang banyak, ya, untuk membuat percontohan percontohan, beli benih, buat contoh contoh di lapangan.

Harga pakan ternak dan ikan sangat fluktuatif, karena tergantung pada jagung impor. Apa yang sudah Anda lakukan untuk mengatasi problem pakan ternak?

Untuk kemandirian pakan ternak, jangan kita berpikir bagaimana memenuhi kebutuhan pakan seperti perusahaan besar, tapi kita di desa adalah satu kesatuan. Dia memelihara ayam berbagai jenis, memelihara tanaman berbagai jenis, di situ saja tempatnya, sehingga zero waste. Jagung termasuk batang dan daunnya, bisa kita cincang, kita  fermentasi, jadi pakan ruminansia, tidak perlu capek ngarit. Kelemahan kita di industry pakannya, padahal alatnya nggak mahal, saya kasih contoh di Cariu. Tinggal kasih temen temen perguruan tinggi untuk mengembangkannya.

Dulu waktu direkruitmen penyuluh saya senang, karena dia akan menjadi wirausaha  di desa itu, minimum lahanya 200 ha, dia yang memimpin, produk yang masuk ke des aitu tergantung dia.  Jadi yang saya nggak setuju, penyuluh itu harus menjadi pegawai  PNS. Kita gagal kalau 4 tahun, kita biayai, dia tidak bisa jadi entrepreuner. Gagal mebina dia. Kita harus bisa.

Saya sedang kembangkan alga, di Jawa Timur untuk pakan lele, untuk pakan ikan tawar. Ada usahawan dan peneliti dari Rusia. Dia berhasil mengembangkan  chlorela air laut, bisa tumbuh 10 kali lipat dalam sehari, hasilnya bisa untuk pangan dan pakan. Saya kembangkan di Cariu, ada kolam khusus algae, di sebelahnya kolam untuk memelihara  nila. Itu kan nggak tergantung orang luar. Penyuluh pertanian masuk disitu. Dia selain menguasai teknologi berbagai hal, dia harus dididik tata usaha Bersama. Karena harus masuk ke skala ekonomi.

 Mungkin akhirnya tidak sulit mengajak petani berproduksi. Namun seringkali bila itu sudah berhasil, produk impor masuk ke Indonesia. Akibatnya harga jual produk tersebut anjlog dan petani tidak lagi bergairah. Apa yang harus dilakukan untuk mengatasi hal itu?

Kalau rasa gotong royong sudah kuat, rasa desanya sudah tinggi, dia tdak membeli ayam potong dari luar yang lebih murah, lebih mahal, kan punya sendiri, dari desa ini. Jangan takut, ini yang harus ditumbuhkan. Rasa bisa memproduksi sendiri.  

Yakin kalau kita kembangkan dari desa, kita tumbuh, apalagi sekarang ini, covid-19. Siapa yang kita harapkan. Perusahaan besar bangkrut, perbankan negara minta suntikan, berapa triliun. Kalau sebagian triliun itu masuk ke desa, desa masih  punya potensi, dia masih punya alat produksi, yakni tanah. Dia masih punya tenaga, SDM, semangat gotong royong ada, masukkan teknologi, manajamen dan uang sedikit, jadi.

Kita juga kembangkan maggot sumber protein. Bahan dari kernel kelapa sawit, tapi susah dapatnya. Anggota DPR saja sudah dapatnya. Kita kejar, agar 40 persennya untuk kita. Sebagai alternative, saya membuat medianya sampah organik dari pasar ditambah sumber lemak dari ampas kelapa. Jadi bagus. Pengembangbiakkan maggot ini saya ingin jatuh ke rakyat. Ada dua step caranya, satu isolasi, kita kembangbiakkan sampai bertelur, itu pakai inti sawit murni atau kopra. Kalau sudah bertelur kita pindahkan ke sampah organik.  Saya sudah pakai untuk pakan ayam arab. Proteinnya 43 persen.   Som

Reporter : Som
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018