Friday, 25 September 2020


Mindo Sianipar Anggota Komisi IV DPR RI: “Saya Lebih Puas bisa Menyejahterakan Petani”

13 Jul 2020, 16:18 WIBEditor : Ahmad Soim

Mindo Sianipar dengan paket teknologi kandang ayam kampung petelur berlahan sempit yang tengah dikajinya | Sumber Foto:Ahmad Soim

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor - Terdapat 5 ha pertanaman jagung menunggu panen, dari sekitar 12 ha lahan yang dikelola Mindo Sianipar, Anggota Komisi IV DPR RI.   

Beragam paket teknologi pertanian tepat guna dihasilkan di Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S) Komunitas Tumbuh Bersama di Cariu, Kabupaten Bogor.

Di lokasi ini, Mindo Sianipar merakit paket paket teknologi aplikatif untuk meningkatkan pendapatan petani. Ada teknologi zero waste dan bio-economy berbasis tanaman padi, jagung, sorgum, ikan dan ternak. Hasil antara dan olahannya ada maggot untuk pakan, jamur, kompos, silika, asap cair dari sekam dan lain lain.

BACA JUGA:  Mindo Sianipar - Anggota Komisi IV DPR RI; Bio-Economy, Petani bisa Tanam Pangan Jual Ternak

Mindo Sianipar mengatakan saat ini P4S Komunitas Tumbuh Bersama yang dikelolanya sedang merakit teknologi budidaya ayam kampung petelur berlahan sempit bekerjasama dengan Kementerian Koperasi. Dia berharap paket teknologi ayam kampung petelur bisa diadopsi petani untuk meningkatkan pendapatan harian mereka.

“Seluruh pendapatan saya kesini,” kata Mindo Sianipar kepada Sinar Tani menjelaskan dari mana dana yang ia gunakan untuk mengembangkan paket paket teknologi pertanian. Anda tidak akan pernah lihat saya di hotel ketemu orang untuk ngopi ngopi. Anda tidak pernah lihat saya main golf, tidak ada waktu dan terlalu mahal bagi saya itu, terlalu mewah bagi saya, saya lebih bagus yang seperti ini dan memang saya lebih puas yang begini.

Saat ini Mindo Sianipar tengah merakit kandang ayam kampung petelur empat tingkat. Per tingkat diisi 7 ekor. Susunan kandangnya dibuat agar mudah membersihkan kotorannya. Biaya pembuatan kendang terus diefisiensikan dengan merakit bahan yang lebih murah dan awet.

 “Ini kandang ayam untuk rumah tangga yang lahan sempit,” tambahnya.  Saya masih konsentrasi untuk mendapatkan modelnya, kita masih menghitung keuangannya. Kotorannya dicampur dengan apa, akan bisa jadi pembiyakan maggot (larva dari lalat tantara hitam). Maggotnya jadi pakan ikan atau ternak. Jadi lihatnya harus satu kesatuan.

 Tujuan membuat usaha ternak ayam kampung berlahan sempit ini adalah untuk pemberdayaan petani, untuk meningkatkan pendapatan mereka. Artinya kalau pendapatannya lebih tinggi, maka tingkat kesejahteraannya meningkat.  Walaupun kebahagiaan itu tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan.  Dalam seluruh aktivitas petani memerlukan biaya, mereka lebih mudah melakukan aktivitas, kalau dananya cukup,

Mengerjakan usaha budidaya ayam kampung skala rumah tangga ini harus dimanajemen. Yang memanaj itu adalah usaha bersama.  Harus dalam bentuk badan usaha koperasi. “Itu semua arahnya memang kesana,” paparnya.

Mindo memilih komoditinya berupa ayam kampung, dengan alasan, pertama, ayam kampung itu selected market. Kedua, orang berbisnis ayam kampung petelur usahanya kecil kecil, kalau ayam ras itu kelas usahanya sudah sebesar gajah.

 Kita datangkan teknologi ini untuk petani di bawah, dia bisa pasarkan di lingkunagn sekitar dia. Jadi teluar ayam kampung tidak bisa dibandingkan dengan ayam ras.  Beda market. Kita hindari hadap hadapan peternak rakyat dengan peternak yang besar itu.

Mereka nanti, pakannya tidak kita serahkan masing masing beli, kita koordinasikan. Kita Kerjasama dengan pabrik pabrik pakan ternak yang mau. Kita pesan, kalau keluar dari situ, supaya tidak mengganggu merek dagangnya, kita pakai merk sendiri, jadi nggak kompetitor dengan dia.

“Itu kalau dikelola bersama akan menjadi usaha yang besar yang dimiliki oleh rumah tangga dengan teknologi zero waste dan bio-economy,” tuntasnya kepada Sinar Tani.

Reporter : Som
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018