Sunday, 06 December 2020


Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (12)

01 Sep 2020, 14:35 WIBEditor : Ahmad Soim

Gambaran ketertinggalan industrialisasi kita | Sumber Foto:Pixabay.com/AS

  Agus Pakpahan - Institutional Economist I www.aguspakpahan.com

Gambaran Ketertinggalan Industrialisasi Kita

TABLOIDSINARTANI.COM - Dengan jumlah utang luar negeri kita sekitar USD 400.2 milyar sekarang ini dan akan menjadi dua kali lipatnya pada tahun-tahun menjelang 2045, apabila diasumsikan beban bunga yang dikenakan sekitar 3-4 persen per tahun, bunga berbunga dan pembayaran sekaligus.  Telah diuraikan pada bagian sebelumnya dalam seri artikel KEMERDEKAAN BAGI PETANI KEMERDEKAAN BAGI KITA SEMUA No. 10-11, bahwa tanpa adanya “revolusi industri Indonesia”, kemungkinan besar utang luar negeri yang jumlahnya besar tersebut tidak dapat dikembalikan tepat pada waktunya. 

 Dengan dasar keasadaran inilah kita semua berkewajiban mencari jalan keluar untuk mempersiapkan diri selama kurang-lebih lima tahun ke depan (2021-2026) agar kebangkitan industrialisasi Indonesia tercipta.  Dengan demikian, antara tahun 2026-2044, atau selama 18 tahun kedepan seluruh energi difokuskan membangun komoditas ekspor yang memberikan nilai tambah yang setinggi-tingginya bagi mendapatkan devisa agar selain Indonesia bisa membayar beban utang juga bisa memakmurkan rakyat Indonesia pada umumnya dan petani Indonesia pada khususnya. 

BACA JUGA:

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (11)

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (10)

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (9): Perspektif Melihat Bunga Bank

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (8): Beratnya Tekanan Harga Bagi Petani

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (7): Belajar dari buku Bad Samaritans 

Tulisan ini disusun untuk memberikan gambaran berdasarkan data yang ada bahwa kondisi industri kita, sebagaimana digambarkan oleh produk-produk yang kita ekspor sampai saat ini, masih jauh tertinggal dari perkembangan industrialisasi di negara-negara lain. 

Dengan pengetahuan tersebut diharapkan akan lahir patriotisme atau heroisme ekonomi dari seluruh lapisan masyarakat Indonesia, khususnya para pelaku ekonomi besar dan pengambil kebijakan bisa dan kuat meniru patriotisme atau heroisme yang telah lahir, hidup dan berkembang di Jepang, Korea Selatan, Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan negara-negara lainnya.  Mengapa istilah patriotisme atau heroisme ekonomi perlu disebutkan?  Hal ini penting mengingat banyak pendapat yang mengatakan bahwa kedaulatan suatu negara bisa hilang sebagai akibat dari tidak bisa membayar utang luar negerinya.

Tabel 1 berikut menunjukkan dengan data bahwa memang benar bahwa komoditas ekspor yang kita banggakan itu dikelompokkan dalam Product Complexity Index (PCI) yang sangat rendah. Dari 1224 peringkat kelompok komoditas yang digolongkan menurut PCI, ternyata kelompok minyak kelapa sawit berada pada posisi peringkat ke 1200 atau 24 peringkat dari yang paling rendah yaitu bijih besi dan konsentrat. 

Dengan demikian kita bisa mendapatkan gambaran dalam perpektif dunia bahwa minyak kelapa sawit dan turunannya, apakah sudah dimurnikan atau belum, tetapi tidak dimodifikasi secara kimia, maka nilai PCI-nya adalah - (minus) 2.08.  Posisinya berada dalam 24 kelompok PCI terendah, dari 1224 peringkat kelompok komoditas berdasarkan PCI yang dibuat oleh team Harvard University ini.  Komoditas pertanian lainnya yang tergolong dalam 24 kelompok PCI terendah ini adalah: sorgum, pisang, kopra, kacang tanah dan bungkilnya, wool, kakao, jute, karet, kapas, getah atau resin, kulit dan limbah kakao.

Sumber: https://atlas.cid.harvard.edu/rankings/product

Data pada Tabel 2 ditampilkan dengan tujuan untuk memberikan gambaran yang bersifat kontras antara produk dengan PCI rendah dengan PCI tinggi.  Pada Tabel 2 ditampilkan produk yang diekspor yang tergolong berada di dalam 20 kelompok produk dengan nilai PCI tertinggi.  Nilai PCI tertinggi adalah kelompok produk yang tergolong dalam HS4 Code dengan nilai PCI = 2.56.  Ternyata, dipandang dari sudut PCI produk dengan nilai indeks tertinggi adalah produk-produk terkait film dan fotografi, kemudian unit-unit yang berkaitan dengan mesin-mesin.  Secara lengkap informasi produk apa saja yang tergolong 20 kelompok jenis produk dengan peringkat i tertinggi dapat dilihat pada Tabel 2.

 Sumber: https://atlas.cid.harvard.edu/rankings/product

 Apa yang bisa kita simpulkan dari ke dua tabel di atas?

Industrialisasi bukan suatu proses alamiah.  Industrialisasi adalah hasil dari proses adanya komitmen yang kuat untuk mewujudkannya.  Perhitungannya bukan semata-mata hasil hitung dagang, tetapi perhitungan berdasarkan nilai-nilai patriotisme dan heroisme total untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia yang diproklamasikan 75 Tahun yang lalu.  Partiotisme dan heroisme total itu merupakan suri tauladan yang lahir dari para pengambil kebijakan dan pelaku besar di bidang ekonomi dan bisnis negara kita. 

 Merdeka!

 

 

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018