Sunday, 29 November 2020


Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (7): Belajar dari buku Bad Samaritans

25 Aug 2020, 16:21 WIBEditor : Ahmad Soim

Kerjasama dan perubahan budaya petani | Sumber Foto:Ilustrasi: Ahmad Soim

Agus Pakpahan - Institutional Economist I www.aguspakpahan.com

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Pada artikel “KEMERDEKAAN BAGI PETANI KEMERDEKAAN BAGI KITA SEMUA-6”, penulis telah menggunakan pengetahuan yang disusun oleh Profesor Hiroyosi  Kano: ”Indonesian Exports, Peasant Agriculture and the World Economy, 1850-2000”. NUS Press,  2008, Singapore.  

Membaca isi buku tersebut dan mencamkan kesimpulan yang diambil Kano, ditambah dengan data dan pengetahuan terakhir perkembangan perekonomian nasional, khususnya perkembangan petani gurem di Indonesia, maka tampak terasa kita berada dalam perjalanan yang berujung pada jalan buntu.

Apa yang bisa diharapkan apabila kita berada dalam situasi ekonomi manufaktur yang melemah di satu pihak dan guremisasi pertanian di pihak lain?  Situasi diperparah lagi dengan kedatangan Covid-19 sebagaimana yang dihadapi oleh masyarakat dunia saat ini.  Kita sedang menempuh perjalanan pada jalan buntu.

BACA JUGA:

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (6): Tantangan Kano

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (1)

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (4)

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (2)

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (3)

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (5)

Panganmu adalah Indonesiamu

Pada peringatan hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-75 tahun ini, terdapat buku penting yang menjelaskan bahwa kaum yang “menolong” kita selama ini dinamakan “Bad Samaritans”.  Mengapa dinamakan Bad Samaritans, padahal istilah Samaritans biasanya dibayangkan sebagai pihak yang baik? 

Kita bisa membaca makna dari Bad Samaritans dalam buku karya Ha-Joon  Chang dalam bukunya: “BAD SAMARITANS: THE MYTH of FREE TRADE AND THE SECRET HISTORY OF  CAPITALISM”, Bloomsbury Press 2007, pp.: 254. Chang menguraikan sangat terinci mengapa perdagangan bebas hanyalah sebuah mitos di balik perkembangan kapitalisme yang menguntungkan bagi pihak pengusungnya dan merugikan bagi negara-negara berkembang. 

Artikel ini tidak ditujukan untuk membahas buku Bad Samaritans.  Buku Bad Samaritans digunakan hanya untuk dua hal saja yaitu, pertama, mengajak kita semua untuk mencoba bisa dan membangun pemikiran mandiri agar tidak menjadi pengikut yang kemudian kita dimasukkan ke dalam perangkap yang merugikan kita semua. 

Kedua, untuk mencoba membangun optimisme bahwa apabila kita bisa membangun pemikiran mandiri maka kita selain akan bisa menjawab tantangan Kano (lihat artikel-6), juga kita akan menemukan jalan sendiri sebagaimana yang telah ditemukan bangsa lain yang berhasil maju seperti Korea Selatan dan Jepang.

Mengapa buku Bad Samaritans bisa dipandang sebagai bahan pengetahuan untuk membangun sifat dan sikap optimisme kita? 

Terus terang penulis tidak pernah mengira bahwa bangsa Jepang itu dulunya pemalas dan bangsa Jerman juga merupakan bangsa pencuri.  Chang memberikan judul Bab 9 dalam bukunya itu:” Lazy Japanese and Thieving Germans: Are some cultures incapable of economic development?”. 

Jadi, pada awal abad ke-20, orang Barat masih melihat bangsa Jepang itu sebagai bangsa pemalas.  Kalau penulis tidak pernah membaca buku tersebut tentunya akan memiliki pandangan bahwa bangsa Jepang itu adalah bangsa yang paling rajin sejak dahulu.  Mengapa hal ini membangun semangat optimisme bagi kita?  Budaya bisa berubah. 

Chang berpendapat bahwa pembangunan bisa mengubah budaya dan budaya juga mengubah pembangunan.  Keduanya saling berinteraksi.  Jepang adalah contohnya. Demikian juga Korea Selatan dan negara-negara maju lainnya.  Hal ini merupakan kesimpulan penting untuk menyukseskan industrialisasi Indonesia yang sekaligus bersifat anti-guremisasi petani sebagaimana yang telah terjadi juga di Jepang, Korea Selatan dan negara maju lainnya.

Platt (1973) dalam artikelnya “Social Traps”, American Psychologist, 28(8), 641–651, menyatakan bahwa untuk bisa keluar dari suatu perangkap sosial atau perangkap budaya diperlukan hadirnya pahlawan atau heroes. 

Jangan dilupakan bahwa kemerdekaan Indonesia yang kita nikmati sekarang ini adalah hasil pengorbanan para pahlawan dari pelbagai lapisan, golongan dan lini perjuangan kemerdekaan. 

Penulis pikir hal yang sama juga diperlukan apabila kita berkehendak kuat agar ingin bisa dan kuat mengatasi belenggu-belenggu pembangunan nasional sebagaimana yang dihadapi selama ini demi kepentingan Indonesia mendatang.

Dalam ruang-lingkup kepahlawanan ekonomi apa yang berkembang di Jepang juga dapat dijadikan bahan pembelajaran kita.  Dalam hubungannya dengan pertanian, Kaisar Tokugawa menempatkan petani sebagai lapisan ke-2 dalam tatanan masyarakat Jepang, setelah Samurai sebagai lapisan pertama dan industriawan serta pedagang masing-masing sebagai lapisan ketiga dan keempat. 

Dalam era modern, yaitu pada 1999 Jepang menentukan pilihan dalam kebijakan di bidang moneter: bunga bank nol persen.  Kebijakan yang telah berusia 21 tahun ini sekarang sudah diikuti oleh banyak negara di Eropa Barat.

Dari perspektif ideologi kebijakan tersebut adalah kebijakan yang mengandung jiwa patriotisme yang sangat tinggi dari bangsa Jepang, khususnya para orang kaya Jepang. 

Orang kaya Jepang merelakan bunga atau interest rate yang bermakna sebagai pendapatan bukan dari hasil bekerja (unearned income) tidak mereka nikmati lagi.  Mereka merelakan pendapatan dari bunga yang sebelumnya mereka nikmati itu tidak menjadi beban bagi para investor yang meminjam dana dari dunia perbankan. 

Mengingat pertanian merupakan investasi yang bersifat jangka panjang, apalagi investasi di bidang kehutanan, maka bunga nol persen merupakan kebijakan yang mendukung dijalankannya investasi jangka panjang seperti di bidang pertanian.  Bunga nol persen, ini juga bermakna sebagai penciptaan budaya baru dalam pembangunan atau ekonomi mengingat dalam pelajaran arus utama ekonomi bunga adalah representasi dari “harga” atas barang modal. 

Apa implikasi dari uraian di atas terhadap industrialisasi yang bersifat anti-guremisasi petani?  Pertama, kita harus mampu membangun pemikiran sendiri yang cocok buat kita agar bisa dan kuat mengatasi segala hal yang membelenggu kemajuan dalam proses industrialisasi Indonesia;

Kedua, belenggu pembangunan itu bisa disebabkan oleh belenggu sosial-budaya yang ditanamkan pada masa lalu termasuk mitos pasar bebas dan kapitalisme; Ketiga, pembangunan ekonomi perlu dilandasi oleh suatu idealisme atau ideologi yang melahirkan kerja keras dan inovasi terus menerus;

Keempat, bangsa Jepang yang dulunya dipandang sebagai bangsa pemalas oleh bangsa Barat ternyata mampu mengubah dirinya menjadi bangsa paling rajin dan  paling inovatif di antara bangsa-bangsa lainnya di dunia;

Kelima, kebijakan pembangunan membentuk karakter bangsa Jepang tersebut, antara lain, adalah melembagakannya budaya anti-rente, yaitu budaya anti-mendapatkan pendapatan bukan hasil dari bekerja;

Keenam, masa depan suatu bangsa tergantung dari sifat dan sikap kepahlawanan bangsa itu sendiri.

Merdeka!

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018