Monday, 28 September 2020


Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (21)

14 Sep 2020, 20:23 WIBEditor : Ahmad Soim

Kepunahan pertanian | Sumber Foto:Ilustrasi/Dok Sinar Tani/Ahmad Soim

Agus Pakpahan - Institutional Economist I www.aguspakpahan.com

Kepunahan Pertanian Akibat Pergeseran Pola Konsumsi

TABLOIDSINARTANI.COM - Siapa yang menemukan kina sebagai obat malaria? Siapa yang menemukan kunyit sebagai obat luka? Siapa yang menemukan tempe atau oncom sebagai makanan yang sehat? Siapa yang menemukan pare (paria, bitter melon) yang menjadi lalab/sayur kesukaan orang Sunda, yang ternyata sekarang sudah dipatenkan dengan khasiat meningkatkan kekebalan tubuh dari kanker dan HIV/AIDS?

Kemudian, pikiran bergerak ke situasi sekarang: Mengapa anak-anak kita mengalami stunting, kurus kering, kurang gizi dan mengalami kematian pada masa usia bayi yang masih meresahkan? Mengapa pola konsumsi pangan kita juga semakin menjauh dari pangan yang diberikan tanah air sendiri?

Terbayanglah sekelompok ayam kampung, teringat waktu masa kanak-kanak, yang terdiri atas induk dan anak-anaknya sedang mencari makan. Sang induk menggunakan cakar sebagai teknologi untuk menggaruk-garuk tanah atau serasah daun untuk menemukan cacing dan bahan makanan lainnya.

BACA JUGA:

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (20): Kemerdekaan dan Kelaparan

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (19)

Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (18)

 Kemerdekaan bagi Petani, Kemerdekaan bagi Kita Semua (17)

Suara ramai yang dibunyikan anak-anak ayam dan suara sahutan induknya yang riang kalau mereka menemukan makanan, menandakan mereka bukanlah sekadar kelompok ayam, tetapi sebagai institusi kehidupan. Mereka pun, hidupnya mandiri dan mampu lestari, asalkan manusia tidak mencelakainya.

Mana yang lebih pandai, kita sebagai manusia ataukah ayam kampung? Kalau kita sebagai bangsa tidak mampu memberikan makanan kepada anak-anaknya yang dapat mencegah terjadinya stunting, bukankah kita kalah dari bangsa ayam kampung? Bukankah kalau kita menggantungkan diri untuk mendapatkan makanan pada pihak lain, kita ini sama dengan karakter "ayam broiler"? Diberi segala sumber kehidupan dengan tujuan satu: pada akhirnya dipotong, apakah itu untuk dimakan sendiri atau dijual untuk mendapatkan uang.

Apa saja yang menjadi sumber utama makanan kita? Penulis mencoba membuat daftar makanan dalam benak: nasi yang dibuat dari beras, daging atau telur ayam, jagung, ikan, kerupuk, oncom, tempe, dan lain-lain. Kemudian, makanan apa yang menjadi tren anak-anak muda sekarang? Big Mac, french-fries, pizza, dan jenis makanan lain yang datang dari negara maju. Makanan itu sudah menjadi simbol yang menjadikan kita orang “modern”. Pertanyaannya, mungkinkah pertanian dan industri pangan kita maju apabila sebagian besar masyarakat kita pola konsumsinya bergeser menjauhi apa yang kita hasilkan sendiri di sini?

Kalaupun itu mungkin, tentu itu akan sangat sulit sekali untuk bisa dicapai. Dalam pasar haruslah ada pembeli. Pembeli berkurang, pasar akan menciut. Karena itu, kita semua yang selalu harus makan dan minum untuk hidup, kehidupan kita akan diisi oleh makanan-minuman yang bahan bakunya dari negara lain. Hitung-dagang dari proses di atas memungkinkan secara ekonomi untuk mendapatkan keuntungan. Tetapi, dapatkah kita membayar "biaya" akibat kepunahan pertanian?

Memang, ada alternatif pemikiran yang sering mengatakan sumber daya yang tersedia dialokasikan untuk menghasilkan komoditas yang mampu berkompetisi dengan yang dihasilkan oleh negara lain. Kita konsentrasi saja di beberapa komoditas ekspor seperti kelapa sawit. Kita jual sawit dan hasilnya dipakai membeli beras atau gula.

Benar juga pandangan itu, apabila kita hanya melihat dari sudut uang. Tetapi, apakah memang pertanian yang kegiatannya bersumber dan menyatu dengan alam itu hanya dinilai sebatas dengan uang? Kalau kita ditanya: "Berapa Anda mau membayar agar kasus kelaparan tidak terjadi pada Anda?" Atau, "Berapa Anda mau membayar agar kondisi kemudahan Anda mendapatkan pangan terus berlanjut?" Nilai ini tidak sama dengan harga beras yang kita jumpai di pasar.

Salah satu upaya untuk memperoleh nilai yang digambarkan dalam wujud uang, dalam ilmu ekonomi kita mengenal istilah: Willingness to Pay (WTP) atau Willingness to Avoid (WTA), dari sesuatu, misalnya kelaparan. Walaupun masih mengandung banyak kelemahan, metode itu sudah banyak digunakan di negara-negara maju untuk menghilangkan "penasaran" terhadap keingintahuan berapa sih nilai uang dari hal seperti kelaparan tersebut.

Yrjölä dan Kola (2004) melaporkan, bangsa Finlandia menilai hal yang paling penting dari fungsi pertanian adalah menjaga viabilitas perdesaan, menghasilkan pangan yang baik, dan mempertahankan swasembada pangan. Ketiga hal itu menempati masing-masing 28 persen, 27 persen, dan 23 persen dari penilaian responden.

Berapa mereka mau membayar peran pertaniannya untuk tetap lestari? Hasil penelitian Yrjölä dan Kola (2004) menunjukkan, nilai rata-rata WTP (2002) adalah € 93,81/kapita.

Andaikan, penduduk Indonesia bersedia membayar untuk mencegah terjadinya kelaparan 25 persen dari penduduk Finlandia, yaitu € 23,4 per kapita/tahun. Dengan penduduk Indonesia 262 juta jiwa akan diperoleh angka senilai € 6,130,800,000 atau senilai Rp 108.6 triliun. Anggaran Kementerian Pertanian pada 2020 hanyalah Rp 21,05 triliun, hanyalah 19.4 persen dari nilai keinginan membayar untuk mencegah terjadinya kelaparan.  Tentu angka ini mengandung banyak kelemahan, tetapi paling tidak dengan menggunakan WTP Indonesia = 0.25 WTP Finlandia, kita sudah mencoba mencari angka perkiraan.  Tentu saja penelitian empiris untuk mengetahui akan hal tersebut diperlukan agar kita mendapatkan justifikasi alokasi anggaran sesuai dengan aspirasi masyarakat Indonesia sendiri.

Jadi, apabila anggaran Kementerian Pertanian hanya 19.4 persen dari keinginan konsumen untuk mencegah kelaparan maka apabila terjadi benar-benar kelaparan, sebagaimana tergambar dalam GHI (global hunger index) jangan-jangan anggaran yang disiapkan oleh Pemerintah untuk mengatasi masalah kelaparan tersebut kurang dari jumlah yang diperlukan.

Kita sering mendengar sumber pertumbuhan itu adanya di industri, perdagangan, dan jasa. Itu benar, tetapi perlu disimak, sebelum sesuatu itu bertumbuh, sesuatu itu harus ada terlebih dahulu. Kekuatan dan kesehatan serta vitalitas pertanian dan perdesaan inilah yang membuat industri dan sektor hilir lainnya lahir dan kemudian bertumbuh.

Sekarang, kita cermati industri pengolahan yang memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB nasional. Ternyata, kontribusi terbesar dari sektor ini adalah industri makanan, minuman, kelapa sawit dan tembakau. Artinya, kalau pun kita berbicara industri, perekonomian kita masih bermuara pada bidang agraris.

Fenomena di atas sudah menjadi pengetahuan umum. Yang menjadi persoalan adalah mengapa dukungan terhadap pertanian lemah? Itu adalah suatu hal yang paradoksal, yaitu kita tidak menyayangi siapa yang menghidupi kita: petani dan pertanian dalam arti luas. Karena itu, kebijaksanaan revitalisasi pertanian sebagaimana yang sudah dicanangkan harus menjadi kenyataan yang menyegarkan pertanian.

Dari mana kita mulai? Kita harus mulai dengan belajar dari "ayam kampung". Yang dimaksud adalah kita harus belajar mandiri dan memanfaatkan segala yang ada dalam lingkungan kita untuk membangun sistem kehidupan yang adaptif dan inovatif. Jenis tanaman dan hewan yang ada di sekitar kita melebihi dari cukup apabila kita bisa memanfaatkannya. Budaya lokal harus kita gali untuk bisa menjadi sumber inspirasi, adaptasi dan inovasi.

Satu atau dua warna pertanian kita perlu kita ganti dengan warna-warni pertanian tropis. Kebijakan yang didasarkan atas kerangka satu pikiran (monokultur dalam alam pikiran) harus kita ganti dengan warna-warni alam pikiran keindonesiaan.

Karena itu pula, langkah awal investasi kita dalam revitalisasi pertanian bukanlah dimulai dari investasi dalam bentuk fisik-mekanik, tetapi dalam investasi pengetahuan dan kearifan yang mampu menginternalisasikan dan mengelola keanekaragaman yang hidup dalam alam pikiran masyarakat kita.

Gairah hidup itu ada dalam warna-warni kehidupan, bukan dalam arahan menuju satu sasaran yang ditentukan. Sumpah Pemuda, Bhinneka Tunggal Ika, dan Pancasila adalah nilai warisan warna-warni akal budi dari leluhur kita yang perlu kita teladani, kita pelihara, dan dilanjutkan sebagai landasan menuju warna-warni kehidupan kita mendatang yang lebih bergairah. Kemerdekaan bagi petani adalah kemerdekaan bagi kita semua.  Kepunahan petani dan pertanian kita harus dicegah. Merdeka!

 

Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018