Monday, 06 December 2021


Persoalan Makanan Masih Panjang

29 Dec 2020, 13:18 WIB

Makanan dan imunitas | Sumber Foto:Memed Gunawan

KOLOM - Memed Gunawan

SOAL MAKANAN DAN PENYAKIT, FAO punya slogan yang menarik, kira-kira begini, ’Dalam kebanyakan kasus, makanan adalah satu-satunya obat yang diperlukan untuk menyembuhkan penderita’. Makanan pula yang menentukan tingkat imunitas dan daya tahan seseorang terhadap suatu penyakit. Lebih dari itu, makanan sangat berperan, tidak hanya unsur genetik, yang berpengaruh pada pembentukan postur dan ukuran fisik seseorang, apakah seseorang akan menjadi kuat, tinggi, gagah atau kecil mungil. Memang small is beautiful, tapi di banyak bidang dan kegiatan, seperti olah raga yang memerlukan kekuatan atau tentara misalnya, ukuran dan postur tubuh menjadi persyaratan. Di pusat latihan olahraga atau pendidikan militer, akan selalu diperlukan seorang ahli gizi agar kebutuhan energi dapat dipenuhi.

Nah, ini semua terkait dengan makanan. Dan soal makanan itu, di belakang sana ada aktivitas pertanian yang memproduksinya, karena makanan tidak atau belum bisa diproduksi lewat pabrikan dari bahan lain selain hasil pertanian. Porsi pengeluaran untuk makanan terhadap pendapatan di negara-negara Asean pada tahun 2019 ada di sekitar 40 persen, kecuali di Singapura dan Malaysia yang angkanya lebih rendah. Sementara di negara-negara maju angkanya di sekitar 10 persen atau bahkan lebih rendah lagi. Artinya penghasilan mereka lebih tinggi sehingga mempunyai keleluasaan menggunakan penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan lainnya selain makanan. 

Mungkin dengan menggunakan kriteria yang berbeda, menurut angka Susenas, 2016, porsi belanja makanan dari pendapatan di Indonesia secara rata-rata adalah 59 persen dengan rentang antara 74 persen (golongan pengeluaran per kapita sebulan kurang dari Rp 100 ribu dan 41 persen (golongan pengeluaran per kapita sebulan lebih dari Rp 1000.000).  Apakah yang dikonsumsi semakin sehat dengan semakin tingginya pendapatan? Itu tergantung kepada pola makan dan selera konsumen. Ternyata, menurut data Susenas 2016 tersebut, semakin tinggi tingkat kesejahteraan masyarakat, semakin rendah pengeluaran untuk padi-padian dan semakin tinggi untuk daging (ini perubahan yang umum terjadi), semakin rendah porsi pengeluaran untuk sayuran dan semakin tinggi untuk makanan dan minuman jadi (ini berbeda dengan yang terjadi di negara-negara maju yang menunjukan peningkatan konsumsi makanan segar, buah dan sayuran  dengan semakin meningkatnya kesejahteraan/pendapatan). Untuk negara yang boleh dibilang gudangnya berbagai jenis sayuran tropis, data ini cukup mengagetkan.

Hal lain yang perlu mendapat perhatian serius adalah pernyataan Bank Dunia, dalam laporan terbaru Prospek Ekonomi Indonesia (IEP), yang menyebutkan harga pangan Indonesia terbilang paling mahal di kawasan Asia.  Lebih lanjut Pejabat Bank Dunia ini mengatakan bahwa tantangan ke depan terkait ketahanan pangan bagi Indonesia akan berhubungan dengan peningkatan keterjangkauan dan ketahanan gizi, terutama bagi segmen masyarakat yang lebih miskin. Jadi, semakin tinggi upaya yang harus dicurahkan untuk menanggulangi kasus stunting yang sangat dikuatirkan akan menyebabkan menurunnya daya saing SDM kita di masa depan.

Pejabat Lembaga Internasional itu menilai, harga pangan yang tinggi ini disebabkan oleh pembatasan perdagangan domestik dan internasional serta tingginya biaya pemrosesan, distribusi dan pemasaran. Soal dampak pembatasan perdagangan boleh diperdebatkan, karena ada tujuan lain di balik itu. Tetapi biaya pemrosesan, distribusi dan pemasaran memang masih terbilang tinggi. Transparansi harga produk pertanian hulu hilir masih lemah, kekuatan petani di bidang pemasaran rendah karena kelembagaan petani lemah, dan kondisi infrastruktur menjadi kendala besar. Ada senjang harga yang besar antara produsen dan konsumen, terutama di perkotaan. Tepat sekali jika infrastruktur fisik terus dikembangkan, kelembagaan petani dipupuk dan pemasaran ditata menjadi lebih efisien.

Fakta kurang menggembirakan, Indonesia menempati peringkat rendah di dunia dalam hal konsumsi sayur dan buah per kapita. Data Susenas mengindikasikan bahwa pola makan rendah gizi yang relatif tidak terdiversifikasi tidak selalu terkait dengan pendapatan, tetapi juga pola makan dan selera. Negeri yang merupakan surga sayuran dan buah-buahan ini belum menjadikan penghuninya penikmat sayuran dan buah-buahan. Solusi peningkatan kualitas gizi masyarakat tidak cukup mengharapkan terjadi begitu saja dengan meningkatnya pendapatan tetapi juga diperlukan pendidikan dan pengetahuan masyarakat tentang gizi. Peningkatan produksi dan kualitas bahan makanan adalah salah satu upaya, tapi memasyarakatkan pola makan yang baik dan bergizi tidak bisa diabaikan. Menyedihkan memang, jika terjadi penyesatan pikiran sehingga makanan domestik yang sehat, segar dan bergizi menjadi kurang diminati dan tidak diperhatikan. Pesan tulisan ini jelas. Pertanian itu terlalu penting untuk tidak diutamakan..

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018