Senin, 18 November 2019


Di Malang, Yuk Intip Peluang Budidaya Sapi untuk Pembesaran

15 Okt 2019, 13:22 WIBEditor : Yulianto

Pedet sapi | Sumber Foto:Dok. Sinar Tani

Pengembangan peternakan sapi (pembesaran) masih terbuka lebar, lantaran ketersediaan lahan yang cukup luas, ditambah besaran permintaan dari peternak lain

TABLOIDSINARTANI.COM, Malang---Budidaya ternak sapi di Desa Tulungrejo, Kecamatan Ngantang, bertambah lagi. Kelompok Ternak (Poknak) Jabon Sae telah menyelesaikan membangun 12 kandang sapi anakan/pedhet.

Sudori, Ketua Poknak Jabon Sae mengatakan, ada 12 kandang sapi yang dibuat. Pembuatannya sendiri membutuhkan waktu seminggu, dan diletakkan berderet. Tiap kandang berukuran panjang 5 meter, dan lebar 2,5 meter. Secara keseluruhan, kandang terbuat dari kayu, dan bambu,” katanya.

Peternakan sapi tersebut mulai dirintis Februari lalu. Anggota Poktan Jabon Sae tercatat 53 orang. Menurut Sudori, Oktober ini, memasuki masa penjualan tahap kedua. Sedangkan masa penjualan tahap pertama atau perdana dilakukan Agustus lalu.

Budidaya yang peternak lakukan, bukan untuk pemenuhan pangan konsumen atau dalam artian kebutuhan daging, melainkan pembesaran. Sapi-sapi itu dijual pada usia 5 bulan dan dibeli dari peternak lain (pemilik sapi induk yang melahirkan,red) ketika masih berusia beberapa hari,” tuturnya.

Gianto, yang juga anggota Poktan Jabon Sae menjelaskan, harga dari tangan peternak lain sebesar Rp 2.500.000 hingga 3.000.000/ekor. Namun diakui, harga beli tersebut naik turun, tergantung ketersediaan sapi dari peternak lain.

Sedangkan harga jual sapi kepada peternak lain (dibesarkan hingga usia layak) sebesar Rp 6.500.000 hingga 7.500.000/ekor. Harga jual tersebut bisa naik turun, tergantung besar kecil pasokan ke peternak lain,” kata Gianto.

Gianto menjelaskan, untuk pemerliharaan tiap bulannya dibutuhkan biaya pembelian pakan kosentrat sebesar Rp 300.000/ekor. Jika dikalkulasikan, maka ketika usia sapi yang siap dijual yakni 5 bulan, diperlukan biaya sebesar Rp 1.500.000/ekor.

Dalam hitungan matematika, per-ekor sapi akan menghasilkan laba kotor sebesar Rp 2.500.000 hingga Rp 3.500.000 dalam kurun waktu 5 bulan. Laba kotor tersebut sudah termasuk biaya pembelian sapi anakan (baru lahir), dan pakan sentrat,” ujarnya.

Gianto dan Sudori mengakui, untuk pemasarannya sendiri masih skala lokal atau seputaran Malang. Namun, tidak menutup kemungkinan pemasaran bisa masuk ke Kediri atau Jombang. Kedepan, Sudori berharap pengembangan budidaya sapi (pembesaran) masih terbuka lebar, lantaran ketersediaan lahan yang cukup luas, ditambah besaran permintaan dari peternak lain.

Reporter : Dodik
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018