Thursday, 01 October 2020


Milenial Cantik ini Tangkap Manisnya Peluang Aren Saat Covid-19

22 May 2020, 20:27 WIBEditor : Yulianto

Siti dengan produk gula arennya | Sumber Foto:Myta

TABLOIDSINARTANI.COM, Sleman---Ramadhan tahun ini tampak berbeda dari biasanya. Kondisi waspada akibat wabah Covid-19 membuat masyarakat lebih banyak berdiam diri di rumah, termasuk bekerja dan sekolah (work from home).

Meski begitu, saat Puasa tak lengkap rasanya saat berbuka puasa jika tidak diawali dengan mengonsumsi yang manis. Banyak pemanis yang bisa dimanfaatkan, salah satunya gula aren.

Gula aren berbeda dengan gula Jawa. Selain aromanya lebih khas, umumnya gula aren berwarna lebih gelap dari gula Jawa. Namun demikian seringkali gula aren sering disebut gula merah.

Gula ini terbuat dari cairan nira yang dikumpulkan dari pohon aren. Memiliki tekstur yang lebih mudah dihancurkan dan terdapat butiran-butiran kecil yang menyerupai kristal.

Sebagian orang lebih menyukai gula aren untuk membuat kue, karena dianggap lebih harum, enak, dan bersih. Gula aren lebih sering digunakan pada campuran minuman seperti es cendol, es cincau dan wedang ronde.

Siti Wulandari, petani milenial dari Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, D.I Yogyakarta membaca peluang usaha dalam olahan dan pemasaran gula aren ini. Siti merupakan petani binaan Polbangtan Yogyakarta yang bergerak di bidang olahan hasil pertanian.

Bekerjasama dengan adiknya, Siti memproduksi dan mengolah aren menjadi gula aren.  Di tengah suasana pandemi Covid-19, walau hanya dari rumah, Siti tetap berproduksi dan berjualan online memanfaatkan media sosial.

Untuk menambah minat konsumen, Siti mengatakan, dirinya mulai berkreasi dengan menjual gula aren dalam bentuk cair. Tanpa diduga, ternyata peminat gula aren cair cukup banyak. “Selain praktis juga memudahkan konsumen untuk dijadikan campuran olahan-olahan masakan,” ujarnya

Seiring dengan banyaknya permintaan, Siti memberlakukan sistem pre order (PO). Dalam sehari, ia bisa menjual gula aren cair sebanyak 50 botol isi 500 ml, gula aren padat 400 kg/minggu dan gula aren semut 10 kg (50 bungkus)/minggu. Selama masa pandemi Covid-19, omset yang diperoleh Siti mencapai Rp 20-25 juta.

Siti mengatakan, gula aren cair yang dipasarkan secara online sudah merambah dari Yogyakarta ke Surabaya, Madiun, Kediri, Malang, Semarang, Solo, Mataram, Bali, Jepara, Jambi, Sumatra, dan Kalimantan Selatan.

Bakwan kering

Selain menekuni usaha gula aren, Siti juga membuat produk olahan makanan yaitu bakwan kering lengkap dengan bumbu sambalnya. Saat ini pemasaran bakwan kering ini masih seputaran Yogyakarta.

Bakwan kering dengan isian sayuran dan telur ini bisa bertahan hingga 5 hari di suhu ruang. Setiap kemasan 175 gram ini di banderol dengan harga Rp6.000. Selama bulan puasa ini Siti tiap hari berhasil menjual 60 bungkus bakwan kering. 

Dengan kreativitas dan pantang menyerah, Siti bisa membuktikan bahwa pandemi Covid-19 bukan sebagai penghalang untuk mendapatkan rejeki.

Sementara itu dalam berbagai kesempatan, Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo menegaskan, Kementan akan terus optimalkan SDM Pertanian untuk menggenjot produksi dan produktivitas, bahkan ekspor.

“Pertanian tidak berhenti dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional, serta meningkatkan kesehatan masyarakat Indonesia agar lebih baik. Sektor pertanian memiliki potensi yang sangat besar dalam menumbuhkan ekonomi nasional," ujar Mentan.

Sejalan dengan arahan Menteri Pertanian, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, juga menegaskan pangan adalah masalah yang sangat utama. Masalah pangan adalah masalah hidup matinya suatu bangsa.

Menurutnya, sudah waktunya petani tidak hanya mengerjakan aktivitas on farm, tapi mampu menuju ke off farm, terutama pasca panen dan olahannya. Banyak yang bisa dikerjakan untuk menaikkan nilai pertanian, khususnya pasca panen. Tuntutannya adalah petani harus berinovasi. Buat terobosan agar hadir produk-produk baru," katanya.

Reporter : Myta Sugara/ Yeniarta (BBPP Ketindan)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018