Friday, 10 July 2020


KWT Anyelir Bahalap Raup Berkah Jahe Merah Saat Covid-19

27 May 2020, 14:45 WIBEditor : Yulianto

Mariati (kiri) di lokasi kios penjualan produk KWT Anyelir Bahalap | Sumber Foto:Dewi R

TABLOIDSINARTANI.COM, Kota Palangka Raya---Suatu berkah bagi KWT (Kelompok Wanita Tani) Anyelir Bahalap, di masa pandemi Covid-19 ini. Dari hasil budidaya jahe merah mampu meraup keuntungan sampai Rp 21 juta/minggu. Bahkan permintaannya datang dari berbagai wilayah, baik dari wilayah sekitar maupun luar Kota Palangka Raya.

Siapa di balik suksesnya KWT Anyelir Bahalap yang berlokasi di Kelurahan Kalampangan, Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya itu? Tak lain adalah Rj. Mariati (51). Dari menanam jahe merah dan tanaman obat-obatan lainnya, wanita paruh baya ini membangun home industri bersama 15 anggota KWT.

Mariati mengatakan, kegiatan mengolah jahe merah sudah dijalankan sejak 3 tahun lalu. Ide mengolah tanaman jahe merah ini berawal dari kesuksesannya membuat olahan tanaman rosella dalam bentuk teh celup, sirup dan kopi.

Namun ia mengakui, dalam memproduksi jahe merah tak luput dari kegagalan. Selama memproduksi jahe merah, menurutnya sudah lebih dari lima kali kegagalan yang dirasakan. Tapi berkat semangat dan ketekunannya, Mariati akhirnya dapat meraih kesuksesan.

“Terus mencoba dan belajar dari teman-teman dan tentunya belajar dari kegagalan, barulah kesuksesan itu dapat kita raih,” ucap Mariati. Bahkan lanjutnya, jahe merah yang berlogo “Rossemi” kini tidak hanya mendapat pesanan dari dalam kota, tapi pesanan juga datang dari luar Kota Palangka Raya sampai ke Kalsel, Jakarta, Surakarta, Solo, Medan, Malang dan beberapa kota lainnya.

Mariati menjelaskan, produksi jahe merah yang awalnya rata-rata mencapai 18 kg/minggu atau 62 bungkus, kini melonjak hingga 14 kali lipat dan harus dipenuhi dalam satu pekan. “Adanya corona menjadi berkah, karena menambah penghasilan anggota dan tentu dapat menyejahterakan keluarga,” katanya.

Sukses mengolah jahe merah dan beberapa tanaman lainnya, Mariati mendapatkan beberapa penghargaan dari pemerintah maupun swasta atas keahliannya. Pertama, Lomba mengoperasionalkan alat panen madu (Juara III, 2015). Kedua, Lomba membuat sirup dari Rosella  (Juara III, 2017). Ketiga, Lomba Inovasi Teknologi Tepat Guna ke-1 Tingkat Kota Palangka Raya (Juara II, 2012).

Keempat, Lomba Mengupas kulit Telor dalam rangka HUT Provinsi Kalteng (Juara III, 2013). Kelima, Lomba Membuat jajanan khas Palangka Raya Kerjasama antara Katolik RI Cabang Santa Maria P. Raya dengan Pemerintah Kota Palangka Raya (Juara II, 2012). Keenam, Lomba Merangkai Buah dan Sayur dalam rangka HUT Kalteng ke-56 (Kalteng Expo) Juara I, 2013. Ketujuh, Lomba Kelompok UPPKS Dalam rangka peringatan hari keluarga Nasional ke-XVIII Tingkat Kota Palangka Raya, (Terbaik I, 2011).

Meski telah menuai sukses, namun Mariati tetap berharap perhatian pemerintah. Ia mengharapkan adanya bantuan dari pemerintah, khususnya pemerintah daerah untuk dapat memberi bantuan berupa alat pengolahan atau mesin giling jahe yang dilengkapi dengan cara penggunaannya atau pelatihannya. “Karena selama ini proses pengolahan jahe menjadi jahe serbuk masih dengan alat manual,” ujarnya.

Sebagai komandan KWT, Mariati, tak hanya menanam jahe merah, tapi juga beberapa tanaman obat-obatan lain. Bahkan  hingga dalam bentuk olahan. Diantaranya, daun kelor yang telah dibuat dalam bentuk kapsul, teh dan cemilan.

Bawang dayak dalam bentuk cincangan kering yang dapat diseduh langsung dengan air panas. Tanaman katuk yang diolah menjadi teh. Tanaman kelakai yang juga diolah dalam menjadi teh dan kripik, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Mudah ditanam

Dewi Ratnasari, Penyuluh BPTP Kalteng mengatakan, jahe merah merupakan salah satu jenis tanaman sangat mudah ditanam dan umur panen rata-rata antara 3-4 bulan. Bahkan tidak memerlukan perawatan khusus, hanya dengan penyiraman, pemupukan dan penyiangan gulma bisa tumbuh dengan baik.

Untuk pemupukan dapat dilakukan saat tanaman berusia 1-2 bulan sebelum panen. Cara memanennya dengan mencabut seluruh tanaman beserta umbinya, kemudian batangnya dipotong dan di bersihkan,” tuturnya.

Jahe merah yang memiliki nama ilmiah Zingiber Officinale Var Rubrum Rhizomaini adalah tanaman rimpang yang berbentuk jemari dan bergelembung. Tumbuhnya di bawah tanah dan menjalar seiring pertambahan umurnya. Jahe merah dengan kandungan zat gingerol dan shogaol memiliki khasiat sebagai antioksidan.

Manfaat lainnya menurut Dewi, dapat meredakan rasa mual, nyeri dan peradangan, meringankan gejala flu, demam, batuk, membantu menurunkan berat badan. Jahe merah ini ternyata dapat meningkatkan imunitas tubuh. “Di tengah pandemi Covid 19, jahe merah sangat cocok untuk dikosumsi,” ujarnya.

Namun demikiam. Dewi juga menyarankan agar KWT dan masyarakat dapat menanam tanaman apa saja yang dapat bermanfaat di perkarangan rumah sendiri. Tidak harus memiliki lahan yang luas, perkarangan rumahpun dapat di manfaatkan yang penting ada niat pasti bisa,ujarnya.

Sementara itu, Penyuluh Pertanian Kalampangan. Lelaini menambahkan, para KWT juga dapat menanam tanaman umbi-umbian yang sifatnya tahan lama. Dengan demikian, dapat menjadi pengganti makanan pokok seperti tanaman singkong, ubi jalar, dan ubi ungu, talas dan semua tanaman umbi-umbian

Reporter : Dewi Ratnasari (BPTP Kalteng)
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018