Friday, 07 May 2021


Dari Daun Singkong, KWT Cengek Raup Omset Kingkong

10 Apr 2021, 14:35 WIBEditor : Yulianto

Siti Hasanah, berkerudung | Sumber Foto:Regi

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor---Jangan anggap sepele potensi daun singkong. Berkat keterampilan mengolah daun singkong menjadi keripik, Kelompok Wanita Tani (KWT) Cengek, Lingkungan Kapu Denok Julalen, Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon Banten, mampu raup omset hingga Rp 40 juta/bulan.

Omset sebesar itu bagi kalangan ibu rumah tangga ibarat kingkong (sangat besar). Bahkan sangat membantu kelompok dan meningkatkan perekonomian keluarga anggota KWT Cengek.

Ketua KWT Cengek, Siti Hasanah  mengaku ide mengolah daun singkong menjadi camilan renyah dan gurih menggugah selera, serta bernilai ekonomi tinggi dimulai tahun 2012. Dilatarbelakangi banyak petani didaerahnya yang membudidayakan singkong.

Selama ini daun singkong hanya digunakan sebagai bahan sayuran atau lalapan yang tidak semua orang suka, terutama anak-anak. Padahal daun singkong banyak kandungan gizinya, tuturnya. Karena itu, KWT Cengek mengolah menjadi camilan seperti kripik daun singkong.

Keripik daun singkong yang diproduksi KWT Cengek dikemas dengan brand Hanna Koe. Harganya Rp 15.000/bungkus dengan ukuran 125 gram. Ada tiga varian rasa yakni, original paru, rasa rendang dan pedas.

Selain pasar lokal, KWT Cengek pemasaran keripik daun singkong ini sudah keluar negeri melalui pihak ketiga. Mereka biasanya membawa sebagai buah tangan kerabat di luar negeri.  Bahkan kini sudah ada perusahaan yang mengajak kerja sama untuk ekspor.

Kami bisa memproduksi 50-100 kilogram kripik paru daun singkong per bulannya. Pemasaran sudah masuk supermarket di Jakarta dan mini market, ujarnya Jum’at (9/4).

Selain daun singkong sebagai bahan utama bahan lain yang terbilang sederhana adalah telur, tepung mocaf (Modified Cassava Flour),  minyak nabati, garam dan rempah-rempah. Cara membuatnya pun tidak sulit. Bahan kripik ini  campuran daun singkong,  telor,  tepung mocaf. Bahan baku mocaf nya diperoleh dari Pandeglang, katanya.

Selain anggota KWT, kelompok ini memberdayakan masyarakat sekitar sebagai tenaga kerja. Bahkan kini sudah mampu mendatangkan ahli masak untuk menjaga kualitas rasa dan kualitas produk.

Mengacu pada instruksi Presiden RI Joko Widodo bahwa pertanian Indonesia ke depan harus berbasis korporasi selaku korporasi petani yang dikelola dengan manajemen profesional. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) dalam beberapa kesempatan menyampaikan pengembangan korporasi ke depan akan diperluas dimensinya. 

Dengan demikianm tidak hanya mengelola seluruh rantai produksi usaha tani dengan teknologi modern, pengolahan, budidaya, pasca panen dan pemasaran. Tapi hingga mampu menciptakan produk turunan dari komoditas yang ada.

“Korporasi petani juga ditargetkan berimplikasi pada penumbuhan semangat generasi milenial untuk terjun memajukan sektor pertanian yang inovatif dan berdaya saing,” kata SYL.

Sementara itu Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Dedi Nursyamsi mengajak  petani di seluruh Indonesia jangan lagi menjual hasil panen mentahan. Proses dahulu menjadi produk olahan bernilai tambah, sehingga petani meraih laba setelah dilepas ke pasaran, ucapnya.

---

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANI. Atau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klik: myedisi.com/sinartani/

Reporter : Regi (PPMKP)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018