Thursday, 22 October 2026


Warti Angkat Derajat Ketela Gunung Kidul

27 Nov 2021, 06:48 WIBEditor : Yulianto

Warti, Ketua KWT Ngudi Sari

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Ketela pohon atau biasa disebut singkong menjadi komoditas yang banyak dibudiayakan masyarakat di Kabupaten Gunung Kidul. Bahkan di kabupaten yang sempat tenar sebagai wilayah marginal tersebut, masyarakatnya mengelola menjadi gaplek.

Bahkan produk pangan gaplek menjadi ikon kabupetan yang berada di DI Yogyakarta tersebut. Mirisnya harga gaplek justru nilainya sangat rendah. Bermula dari rasa keprihatinan tersebut, Warti, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Ngudi Sari berinisiatip mengolah ketela agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi dan dikenal masyarakat.

Di tempat tinggalnya, Desa Kemiri, Kecamatan Tanjung Sari, Gunung Kidul, Warti bersama 23 anggota lainnya mencari terobosan menaikkan nilai jual ketela, sehingga dapat meningkatkan pendapatan petani. Itu dilakukan pada tahun 2015 lalu. Hingga kini ia konsisten mengembangkan pangan lokal. Bahkan belasan produk dihasilkan.

Sejauh ini upaya tersebut berhasil. Warti bersama anggotanya beberapa kali melakukan percobaan dengan pendampingan dari beberapa instansi seperti Dinas Pertanian Gunung Kidul. Selain itu pihaknya juga menerapkan hasil belajar bersama Paguyuban Pengolah Mocaf Gunungkidul.

Warti mengungkapkan, usaha awal yang dirintis KWT Ngudi Sari adalah produk olahan ketela berupa tepung mocaf. Produk ini selain laku di Desa Kemiri dan Kecamatan Tanjungsari juga sering dikirim ke luar kota. Bahkan beberapa pengguna bahan mocaf dari Yogyakarta dan Jakarta sebagian diantaranya telah langganan membeli.

“Dalam satu minggu pernah menjual hingga 1 kuintal, bahkan saat permintaan naik pernah dalam satu bulan terjual 1 ton,” ujarnya. Berdasar hitungan Warti, nilai jual ketela setelah dibikin mocaf mengalami kenaikan 4 kali lipat dibandingkan dijual dalam bentuk ketela atau gaplek.

Dengan berat bahan baku yang sama jika dibandingkan hasil produk gaplek dan harga mocaf cukup timpang. “Biaya operasional antara bikin gaplek dan bikin mocaf kami hitung hampir sama. Memang bikin mocaf membutuhkan proses lebih banyak serta adanya sarana dan alat yang harus dipersiapkan dulu,” ujar Warti.

Perjuangan 3 Tahun

Untuk tepung mocaf, Warti mengaku berjuang selama 3 tahun. Awalnya diirnya membuat tepung mocaf dengan kapasitas 10 kg/bulan. Namun dengan berjalannya waktu akhirnya tahun 2015 sudah membuat dengan kapastitas 1 kuintal/bulan.

Bahkan sejak tahun 2017, diirnya sudah bisa mengolah mocaf dan olahan dari tepung mocaf. Beberapa produk siap saji dari KWT Ngudi Sari diantaranya criping ketela, keripik daun ketela, roti brownis, keripik pare, stick mocaf. “Beberapa kue kering lainnya dan masih banyak lagi,” ujarnya.

Dalam pemasaran Warti mengaku banyak dibantu reseller. Kini reseller yang sudah bergabung sekitar 10 dengan kapastitas permintaan 2 ton/bulan. Omsetnya sebelum pandemi mencapai Rp 12 juta/bulan. Bahkan saat pandemi justru malah meningkat 2 kali lipat.

Harga jual tepung mocaf yang sudah dikemas Rp 15 ribu/kg. Sedangkan dalam bentuk curah ke perusahaan seharga Rp. 13 ribu/kg. “Untuk pengolahan mocaf selama pandemi terus berjalan, karena banyak dibutuhkan perusahaan. Tapi untuk olahan pangan berhenti total karena tidak ada pembeli,” ujar Warti.

Pemasaran mocaf sudah sampai keluar. Bahkan beberapa perusahaan sudah rutin meminta produk mocaf dari KWT Ngudi Sari yaitu PT. Lingkar Organik, PT. Gudang Rempah Indonesia, dan juga ke perusahaan di Bandung, Bogor, Bekasi, Tangerang. “Saya juga kerjasama dengan pengolah gluten free di Semarang dan Sidoarjo,” tuturnya.

Salah satu harapan Warti adalah seluruh Indonesia bisa mengenal dan mengonsumsi tepung mocaf.  Keinginan dirinya masyarakat Indonesia bisa mengubah pola makan dan  lebih mengenal mocaf.

“Sampai saat ini masyarakat belum mengkonsumsi mocaf sehingga untuk pasar mocaf masih kurang. Harapan saya masyarakat sadar bahwa banyak pangan lokal yang layak dikonsumsi pengganti nasi,” katanya.

Bagaimana Warti menyiasati ketersediaan bahan baku? Baca halaman selanjutnya.

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018