Wednesday, 21 October 2026


Roti Bolen Aceh, Cara Suryati Buka Peluang Bisnis

13 Dec 2021, 10:09 WIBEditor : Gesha

Suryati tengah membuat kue bolen di dapurnya

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh Utara -- Namanya kue Bolen asal Bandung, tapi karena buatnya di Aceh diberi nama Roti Bolen Aceh. Rasanya selain gurih juga terasa nikmat membuat lidah ketagihan. Inilah yang membuat Suryati menekuni bisnis yang baru ditekuninya sebelum Pandemi COVID 19.

"Mulanya ide membuat kue hanya coba - coba karena memenuhi permintaan sang anak. Selain mencari kesibukan dan bisa menghemat uang jajan anak sekolah. Bekal yang dibawa anaknya ke sekolah rupanya dibagikan untuk teman - temannya dan mereka ketagihan sehingga setiap hari minta dibawakan kue," ungkap Suryati terharu kepada tabloidsinartani.com.

Dari situlah bisnis roti Bolen dimulai, setiap anaknya ke sekolah Suryati selalu menambah bekal lebih untuk memenuhi pesanan teman-teman anaknya di sekolah. Bahan yang dibutuhkan untuk Roti Bolen antara lain, tepung terigu, telor, gula, vanili, baking powder, pisang, coklat, mises dan tepung susu.

 

Dalam sehari Suryati sanggup membuat 100 roti Bolen tergantung pesanan. Namun sejak Pandemi Covid-19 pemasarannya menurun hingga 40 persen. "Kalau yang premium harganya saya jual Rp 3.500 dan yang biasa Rp 2.000, tapi kalau titip di cafe dan warung kopi Rp 1.500 per pics. Kami juga melayani order melalui telp/WA ke 085260158000," sebutnya berpromosi.

Selain terampil membuat kue, Suryati juga memiliki keahlian khusus membuat baju rajutan, tas, dompet, masker dan aneka hiasan manik - manik. "Ini perhiasan dan dompet saya buat sendiri, kalau dompet berbahan bekas celana jeans. Pernah rajutannya dipesan dari Batam dan Australia serta wilayah Aceh khususnya,” ungkap Suryati bangga sambil memperlihatkan hasil kerajinannya. 

Alumni jurusan Sekretaris Diploma II Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Profesi Indonesia (LP3I) Lhokseumawe tahun 2001 ini mengaku sejak tahun 2008 setelah menikah gemar membuat kue.  Suryati telah berpengalaman membuat beraneka macam kue bahkan banyak diorder tetangga untuk arisan/pengajian dan anak - anak sekolah dasar.

Dari hasil keterampilan tangannya bisa ditabung dan membeli sedikit perhiasan serta satu unit motor NMax. Sementara motor NMax jerih payah bersama suaminya digunakan untuk operasional dalam memenuhi pelayanan konsumen. Walau sempat menjadi guru kontrak di SMP selama tiga bulan di kampung halamannya namun ia tak betah, hingga akhirnya memilih berhenti dan membuka usaha secara mandiri. Namun bila ada pelajar atau mahasiswa yang ingin praktek tata boga pihaknya akan menerima sesuai jadwal waktu dan kesepakatan bersama.

Ia pun berkisah masa kecilnya setelah pulang sekolah juga suka membantu Ibunya membuat kue untuk dijual di warungnya. Sedangkan malam hari bada Maghrib belajar mengaji bersama Ayah. "Hingga sekarang Ia masih teringat pesan alm Ayahnya, jika kamu ingin melakukan sesuatu harus ada nilai tambahnya sehingga tidak sia-sia," imbuhnya.

Dia tak mengelak ketrampilan dan inovasi yang dimilikinya diperoleh dari Youtube dan aplikasi Pinterest. Sebelumnya dia juga memasarkan hasil kerajinan di Market place bersama anak keduanya yang juga senang membuat aksesoris, karena anak sulungnya sekarang sudah masuk sekolah lanjutan setingkat SMP di pondok pesantren putri Muslimat, Samalanga, Kabupaten Bireun.

Saat anak sulungnya masih duduk dibangku SD, sambil membantunya membuat kue serta belajar kerajinan/keterampilan, "Saya sering berpesan kita bisa belajar membantu orangtua sejak dini, karena hasilnya bisa dinikmati untuk bekal kita dimasa depan," ucapnya mengakhiri. 

Reporter : Abda
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018