Friday, 18 June 2021


Antara Perang Mu’thah dan Strategi Bisnis

12 May 2021, 11:47 WIBEditor : Ahmad Soim

Masjid saksi perang Mu | Sumber Foto:Memed Gunawan

  

Oleh: Memed Gunawan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Kita tidak ingin mengalami peperangan, tapi mendambakan kehidupan yang damai.

Perang adalah pilihan terakhir pihak yang terlibat konflik. Perang pasti memperhitungkan kekuatan, tapi ketika terkait di dalamnya keyakinan dan prinsip kehidupan, perang bisa saja berkobar. Modalnya adalah tekad dan semangat. Itulah yang membawa kemenangan pasukan Islam dalam beberapa peperangan yang terkenal. Juga yang terjadi ketika kita berperang merebut kemerdekaan yang hanya bermodalkan senjata seadanya dan pasukan yang jauh dari layak untuk disebut tentara. 

Dalam perang di bukit Uhud pasukan Islam menderita kekalahan karena ketidakdisplinan pasukannya. Strategi dan kedisplinan sangat diperlukan, termasuk menyelamatkan pasukan apabila diperlukan. Perang Mu’thah yang melibatkan tentara Islam yang berjumlah 3000 orang melawan tentara Romawi yang dikabarkan berjumlah 100.000 orang lebih, adalah perang yang paling pahit bagi pasukan muslim. Yang gugur dalam peperangan ini, sahabat Rosul, panglima pertama, bernama Zaid bin Haritsa, lalu panglima penggantinya Ja’far bin Abi Thalib dan panglima pengganti lainnya Abdullah bin Rawahah yang juga mati syahid menyusul kedua rekannya. 

Seolah sudah memperhitungkan keadaan, sebelum perang Rasulullah sudah berpesan, agar apabila Zaid bin Haritsa gugur, maka Ja’far bin Abi Thalib menggantikan, dan apabila Ja’far bin Abi Thalib gugur, Abdullah bin Rawahah mengambil alih menjadi panglima. Ketika Abdullah wafat kehilangan semua tangan yang memegang bendera,  Khalid bin Al Walid akhirnya membawa bendera perang dan memimpin pasukan. 

BACA JUGA:

Dengan kecerdasan dan siasat baru, Khalid bin Al Walid menarik mundur pasukannya dengan selamat hingga ke Madinah. Musuh tidak mengejar karena khawatir mundurnya pasukan Islam adalah siasat untuk mengajak tentara Romawi menuju medan perang yang lebih terbuka di padang pasir yang akan merugikan Romawi. 

Bisnis memang bukan perang. Strategi perang adalah memenangkan peperangan dengan kerugian minimal, sedangkan bisnis adalah mengedepankan persaingan dalam memberikan yang terbaik kepada pelanggan. Bisnis bahkan bisa merangkul saingan untuk bekerjasama menghasilkan sesuatu yang terbaik untuk pembeli, dan kepuasan pembeli merupakan cermin dari keberhasilan bisnis tersebut. Dalam bisnis juga ada strategi. Modalnya adalah semangat dan ketekunan, dan strateginya adalah trust dan kejujuran. 

Bisnis mengalami pasang-surut. Ada alternatif, ada opsi, semua diperhitungkan karena semua kemungkinan bisa terjadi. Ada saat ketika harus mundur teratur untuk maju atau loncat lebih jauh. Seperti strategi Khalid bin Al Walid, yang menyelamatkan pasukannya, membawa mundur tetapi tidak untuk menyerah kalah. Siapa pun yang melakukan usaha pasti pernah mengalami situasi seperti ini. 

Bau peperangan itu seakan masih tercium di masjid megah itu.  Kuburan para sahabat berjajar di lingkungan mesjid, perjuangan mereka terbayang,  semangat mereka terasa. Arsitektur mesjid itu memang istimewa. Membangun semangat dan keyakinan. Pesan bahwa, maju dan mundur dalam kegiatan apa pun pasti terjadi, tetapi semangat untuk memenangkan perjuangan tidak akan pernah berhenti. Wallahualam.

 

(Bahan dari Catatan Perjalanan dan informasi dari Google. Foto-foto dokumentasi pribadi)

=== 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/  

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018