Friday, 18 June 2021


Sawah Memukau di Kelok Maninjau

12 May 2021, 11:25 WIBEditor : Ahmad Soim

Persawahan di kelok Maninjau | Sumber Foto:Memed Gunawan

Oleh: Memed Gunawan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Cerita pertanian tidak hanya cerita produksi, teknologi dan hama penyakit. Cerita juga tentang pesona dan keindahan. Walaupun mulanya hanya berupa kepuasan batin, tetapi keindahan dan kepuasan batin ternyata bisa dijual dan menghasilkan rupiah. Percaya?

Pemandangan sepanjang Kelok 44 dari Bukittinggi ke danau Maninjau yang  spektakuler adalah contohnya. Perpaduan kontur bukit, gunung, danau, hutan dan lahan pertanian, dipadu dengan jalan berkelok menjadi kesatuan pemandangan yang sulit dilukiskan. Kondisi pertanian dan sawah yang bertingkat diselingi rumah arsitektur melengkung, dilatarbelakangi danau Maninjau seakan memberi jawaban tentang multifunctionality in agriculture   yang dibahas di buku-buku. Multifunctionality in agriculture menyebutkan begitu banyaknya manfaat yang diberikan oleh pertanian, tidak hanya produksi dan pangan, tetapi mencakup keindahan, pemeliharaan alam, kepuasan rohani atau ketenteraman yang tidak bisa diukur dengan uang. Walaupun akhirnya aktivitas ekonomi terkait keindahan berkembang di kawasan ini. Dan itu bisnis yang memberikan monetary benefit.  

Karena alamnya yang memukau itulah, sangat pas Kelok 44 dijadikan bagian dari route Tour de Singkarak (bahasa Prancis untuk Tur Singkarak), kejuaraan balap sepeda resmi dari Persatuan Balap Sepeda Internasional yang tiap tahun dilaksanakan di Sumatera Barat. Pesertanya semakin meningkat dari tahun ke tahun.

BACA JUGA:

Jalan menurun dari arah Bukittinggi ke Maninjau berkelok-kelok mencapai 44 kelokan adalah sensasi tersendiri. Jalan yang tidak begitu lebar memaksa pengemudi jalan ekstra hati-hati, bermain di transmisi gigi rendah. Sambil menikmati indahnya padi mengombak di sawah berterasering bertingkat-tingkat. Di bawah sana terlihat Danau Maninjau membiru dan gerombolan pohon kelapa. Danau Maninjau yang diperkirakan terlahir dari letusan raksasa gunung api berjuta-juta tahun lampau itu sebagian dinaungi mega putih. Spektakuler.  

Padi yang hampir bunting menghijau, batangnya gemuk dan anaknya banyak, berombak di kotak-kotak sawah yang dibelah pematang. Di kejauhan terlihat Rumah Gadang, berwarna merah kecoklatan dengan bagonjong mengkilat terkena matahari. Ada kendaraan bergerak perlahan merayap pertanda jalan yang dilaluinya  menanjak cukup curam. Melelahkan kendaraan tapi menenteramkan pemandangan dan perasaan.

Padi di kawasan ini memang tidak seistimewa padi Solok yang di terkenal dengan bahasa setempat Bareh Solok. Tapi rasakanlah nikmatnya di rumah makan di beberapa kelokan yang dikelilingi sawah dan bukit. Masakan khas Sumatera Barat berbahan ikan dan daging serta sayuran terasa aslinya dibandingkan dengan di rumah makan di Jakarta. Pedas dan berbumbu pekat. Di sini pula berbagai hasil perkebunan, terutama kayu manis dijual dengan harga tidak murah tetapi dengan kualitas prima. Masih tercium wangi, berwarna coklat segar dan dalam gulungan berukuran besar.  

Sepanjang perjalanan dari Bukittinggi menuju danau ini memang istimewa, pemandangannya sangat indah, sehingga perjalanan ke sini merupakan pengalaman menyusuri hijaunya deretan Bukit Barisan. Itulah Multifunctionality in Agriculture.

=== 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/  

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018