Tuesday, 28 June 2022


Burasa, Kuliner Khas Tradisi Lebaran Orang Bugis Makassar

12 May 2021, 10:01 WIBEditor : Ahmad Soim

Burasa. Tradisi kuliner khas lebaran masyarakat Bugis Makassar | Sumber Foto:Suriady/Ahmad Soim

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Sulsel -- Tradisi Mabburasa atau membuat Burasa di Sulsel, selain sebagai kuliner lebaran ternyata mengandung filosofi dan budaya yang indah dan sangat bermakna.

Mabburasa adalah bahasa lokal (Bugis-Makassar) yang berarti membuat burasa, sebuah makanan tradisional yang terbuat dari beras yang dicampur santan kelapa dan diberi sedikit garam, lalu dibungkus menggunakan  daun pisang dan diikat secara khusus dengan tali rapiah, lalu dikukus. Jadilah Burasa.

Ma'burasa dilakukan pada saat menjelang hari raya atau H-1 merupakan kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Bugis-Makassar. Bukan hanya ibu dan anak perempuan yang terlibat dalam pembuatan burasa, tetapi bapak-bapak juga terlibat dalam proses pembuatan dan memasak burasa, proses membuat sampai masak membutuhkan waktu agak lama.

Bere (beras) sebagai bahan utama burasa dapat mengandung makna sebagai tindakan aksi nilai solidaritas. Bere dalam tulisan lontarak dapat pula dibaca bere, kemudian diberi awalan ma, menjadi mabbere (memberi), selain itu, bere biasa juga disebut were. Kalau kata were diberi awalan ma, maka menjadi mawere (perasaan berat). Orang  yang telah diberikan sesuatu akan melahirkan perasaan berat pada dirinya, sehingga akan membalasnya dengan memberikan juga sesuatu tindakan saling memberi melahirkan nilai solidaritas dalam masyarakat.

BACA JUGA:

Tradisi ma'burasa (membuat burasa) juga sarat dengan nilai solidaritas dan kekeluargaan, suatu kebiasaan masyarakat di kampung, yaitu saling berbagi dengan menu yang sama. Sebenarnya bukan burasanya, tetapi keinginan untuk melakukan berbagi sesama warga sekampung.

Sikap saling memberi dan berbuat baik kepada sesama akan melahirkan nilai sipakatau, selanjutnya akan memicu orang untuk sipakalebbi, saling menghargai dan saling memuji kebaikan. Hal ini tercermin dalam karakter bahan kelapa/santan yang juga digunakan dalam pembuatan burasa. Kelapa disebut sebagai pallunra, yaitu pemberi rasa enak. Karena itu, istilah Bugis paggolla dan pallunra biasa diartikan sebagai puji-pujian kepada seseorang, dalam ungkapan tersebut "Senge'ka Golla Urampeki Kaluku," yang artinya  kenanglah yang manis dariku, dan akan kuungkap yang sedap tentang dirimu".

Sikap baik yang sudah terbangun dalam rajutan budaya perlu untuk dijaga dan dilestarikan, disitulah pentingnya Sipakainge, saling mengingatkan, seumpama ikatan burasa, yang melilit daun pembungkusnya untuk menguatkan posisi bere, were, dan kaluku, agar tidak bercerai-berai, dan untuk menjaga kematangan agar nantinya tidak cepat basi.

Mungkin proses pembuatan burasa tampak cukup singkat dengan kehadiran bahan-bahan yang dapat diperoleh secara instan, akan tetapi orang tua dahulu jauh hari, bahkan sebelum bulan puasa sudah mempersiapkan beras khusus yang akan digunakan untuk pembuatan burasa. Masyarakat Bugis-Makassar dalam mempersiapkan bahan-bahan yang akan digunakan dalam pembuatan penganan pada suatu tradisi, dilakukan dengan menyertakan doa dan harapan yang dipanjatkan melalui simbol bahan-bahan tersebut, yang disebut sennung-sennungeng.

Saat Reporter tabloidinartani.com menemuinya Rabu 12 Mei 2021, Sanawiah (40)  menceritakan bahwa "Saya ingat waktu masih kecil, ibu dan tetangga (sepupu dan tante) biasanya membungkus burasa secara bersama-sama di teras rumah. Setelah itu, mereka memasak burasa dengan   membuat tungku api di halaman rumah dengan menggunakan panci yang terbuat dari tanah liat,"ungkapnya.

Lebih lanjut, Sanawiah mengungkapkan bahwa "Proses memasak burasa cukup lama yaitu sampai 8 (delapan) jam, mabburasa yang dilakukan secara gotong royong memberikan makna yang cukup dalam, yaitu membuat ikatan kebersamaan yang terjalin sangat erat antara handai taulan, cerita dan kisah saling membagi antara satu dengan lain ketika sedang ma'burasa," jelas Sanawiah.

Pandemi covid-19 pasti berlalu, dan sepertinya tidak akan mengikis tradisi ma'burasa jelang lebaran. Tradisi ini akan tetap berlangsung dalam satuan-satuan keluarga kecil, tanpa disertai massiara (berkunjung) dalam skala besar. Namun, tradisi massiara mendapat moment untuk kembali diperhitungkan sebagai media silaturahmi, sebab beberapa tahun sebelumnya, massiara mulai terpinggirkan dengan kehadiran dunia internet, banyak orang yang merasa cukup dengan mengucapkan selamat hari lebaran lewat gadget.

Tradisi ma'burasa campur aduk perasaan cinta dan kerinduan akan kampung halaman, sampai muncul sebuah ungkapan "setinggi apapun sekolahmu, jika menjelang lebaran pulanglah mengikat burasa".

  === 

 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

Reporter : Suriady
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018