Kebun kubis di Batu Malang
TABLOIDSINARTANI.COM Malang - Kubis adalah tanaman yang tumbuh subur di tanah yang kaya nutrisi dan berdrainase baik. Karena itu, pengolahan tanah dan perawatan yang tepat menjadi kunci bagi Narto petani kubis asal Junggo, Malang bisa mendapatkan hasil panen yang berkualitas.
Kubis menjadi komoditas pilihan Narto dalam menjalankan profesinya sebagai seorang petani. Dengan keuletan, pengalaman dan didukung kondisi alam yang sesuai Narto bisa menghasilkan 30-70 ton kubis per hektar.
Diungkapkan Narto, menaman kubis memang memerlukan kondisi tanah yang subur dan pengairan yang baik. Secara umum untuk mendapatkan tanaman yang tumbuh subur dan hasil panen yang berkualitas, pengolahan lahan menjadi kunci utama. Menjaga tanah tetap lembab, mengolah tanah dengan menggunakan kompos atau pupuk kandang dengan baik sebelum tanam atau penyemaian wajib dilakukan.
“Penanaman benih kubis harus paham pada waktu yang sesuai, tergantung pada kapan ingin memanennya, biasanya petani pertama kali menanam kubis di musim panas. Untuk tanah yang sudah subur hanya perlu dilakukan pengolahan lahan 1 kali saja, sedangkan lahan yang kurang subur pengolahan lahan dilakukan sebanyak 2 kali,”katanya.
Untuk memulai menanam kubis, Narto menjelaskan penyemaian dilakukan dengan merendam benih selama 30 menit sampai 1 jam dengan air hangat, kemudian dibiarkan sebentar di udara terbuka agar benih tidak terlalu basah sebelum disebarkan secara merata pada lahan. Penyemaian benih dapat dilakukan dengan jarak antar deretan kurang lebih 10 cm, bibit yang telah tumbuh dan berdaun empat sampai lima helai sudah dapat dipindahkan.
Bibit yang siap dipindah ke lahan adalah yang sudah daun 3-4 lembar, dengan membuat lubang tanam yang sesuai jarak tanam sekitar 50 cm - 60 cm. Saat masih awal masa tanam, penyiraman rutin dilakukan setiap pagi dan sore hari.
Setelah tanaman berumur sekitar 30 hari, penyiraman dilakukan dengan cara lebih dan dilakukan 2-3 kali sehari atau disesuaikan dengan kondisi lahan, jika ada tanaman yang layu atau tumbuh tidak normal maka dilakukan penggantian dengan tanaman baru.
Dijelaksn Narto, penting untuk melakukan pengamatan terhadap tanah sebelum penggunaan pupuk dengan mengetahui unsur hara tanah yang tepat karena kubis membutuhkan tanah yang kaya zat hara untuk tumbuh.
“Hama kubis berupa kupu-kupu putih kecil atau besar, biasanya bertelur di bawah daun kubis, jika larva muncul akan memakan daun, kutu daun kubis berwarna abu-abu hijau juga memakan daun. Penyakit bercak daun berupa jamur mempengaruhi bibit dan tanaman tua dengan bintik-bintik pada batang, jika tidak segera mengelolanya, daun yang terinfeksi akan menguning dan jatuh, cara untuk mengendalikan hama dan penyakit dengan selalu melakukan pencegahan,”jelasnya.
Kubis dipanen setelah usia 80-100 hari, waktu memanen tanaman kubis tergantung pada varietas yang berbeda. Beberapa varietas ada yang perlu ditahan di ladang beberapa minggu lagi setelah mereka membentuk kepala yang kokoh dan rapat. Sebaliknya, beberapa varietas perlu dipanen segera setelah mereka mencapai kematangan, pemanenan harus dilakukan ketika kubis mencapai ukuran penuh, kubis siap panen ketika kepalanya kokoh dan terbentuk penuh, setelah panen tanaman kubis harus segera disimpan di tempat teduh.