Saturday, 29 January 2022


Korban Politik, Solikhah Ciptakan Aneka Camilan Tiwul

07 Jan 2022, 11:30 WIBEditor : Yulianto

Solikhah, ciptakan aneka tiwul | Sumber Foto:Echa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Tiwul. Pangan olahan berbahan baku singkong ini kerap dikesankan sebagai makanan masyarakat yang hidup di daerah tandus untuk mengatasi kelaparan saat musim kemarau berkepanjangan. Namun kesan tersebut kini mulai terkisis. Bahkan menjadi camilan menyehatkan dan digemari masyarakat.

Salah seorang yang berusaha mengangkat pamor tiwul adalah Solikhah, S.Pd. Wanita berusia 54 tahun ini membangun Griya Tiwul BUEKA yang beralamat di Kampung Sukajawa, Kecamatan Bumiratu Nuban, Kabupaten Lampung Tengah. BUEKA merupakan singkatan Bina Usaha Ekonomi Keluarga Aisiyah (binaan Muhammadiyah). Dibawah naungan KWT Kenanga.

Usaha Bangkrut

Berawal dari usaha mobil yang bangkrut karena ikut masuk ke dunia politik, Solikhah menekuni usaha tiwul. Bukan hanya dirinya, suami (Sugeng) yang sempat menjadi lurah juga mencoba menyalonkan diri, tapi gagal.

“Sebetulnya dulu saya adalah pengusaha yang cukup lumayan berhasil dalam bidang variasi mobil, tapi karena korban politik saya mencoba menyalonkan diri sebagai anggota dewan hingga 3 kali, harta saya habis, kalau saya orang yang gak beriman mungkin saya sudah gila,” cerita Solikhah.

Hal lain yang mendorong Solikhah membuat inovasi tiwul adalah pada tahun 2016 harga singkong anjlok sampai Rp 500/kg. Namun saat ada pertemuan dengan Bupati Lampung Tengah, dirinya diminta memasak olahan tiwul. Karena tidak bisa membuat tiwul, ia mencari ke pasar, tapi ternyata tidak ada yang menjual tiwul.

“Di mobil saya ngelamun kok Lampung Tengah yang notabene banyak singkong, tapi di pasar gak ada tiwul. Berarti gak ada yang buat tiwul, ada apa? Pernyataan dalam diri saya saat itu, apa saking susah buatnya atau bagaimana?” ungkapnya.

Dari berbagai kejadian tersebut, dari mulai gagal masuk dunia politik hingga sulitnya mencari tiwul, Solikhah kemudian terbesit membuat tiwul yang berbeda dari selama ini. “Tiwul yang kami buat kelasnya beda. Kami mencoba masuk swalayan,” katanya.

Solikhah mengaku, bahan baku singkong diperoleh sangat mudah. Di Lampung banyak sekali petani singkong, bahkan industri singkong skala besar sudah ada lima kecamatan di Lampung Tengah. Namun melimpahnya singkong atau ubi kayu hanya diolah petani menjadi bahan tepung tapioka.

Usaha membuat inovasi tiwul yang dilakoni Solikhah memang tidak mudah. Setelah mengalami kegagalan beberapa kali, akhir ia berhasil juga. “Belajar dari kegagalan ekonomi, saya terus belajar. Saya mencoba kuat tekun, telaten, iklas menerima kegagalan. Dengan cara itu mudah-mudahan bisa sukses,” tuturnya.

Aneka Produk Tiwul

Merintis usahanya sejak tahun 2016, namun produk tiwul Solikhah baru mulai dikenal di pasar tahun 2017. Beberapa produk tiwul produksinya yakni, tiwul instan, snack pedas tiwul, jipang tiwul, dodol tiwul, cookies tiwul, kerupuk tiwul dan tepung mocaf.

Dari enam varian yang diciptakannya semua laku dipasaran. Saat ini sudah masuk ke 15 pasar swalayan yang menyediakan toko oleh-oleh. Bahkan sudah banyak toko kue di Bandar Lampung yang meminta produk olahan tiwul, tapi Solikhah mengakui, belum bisa memenuhi.

Proses pembuatan tiwul ini paling susah sedunia, 13 hari baru bisa diproduksi. Jadi harus benar-benar sabar dan tekun. Untuk memproduksi tiwul saya dibantu tetangga 6 orang,” katanya.

Solikhah berharap produknya bisa masuk pasar internasional. Ke depan dirinya juga berniat mengembangkan usaha dengan membuat mocaf. Apalagi tepung singkong tersebut banyak diminati pasar internasional sebagai pengganti gandum.

Dirinya akan terus belajar dari pengalaman. Bisa menciptakan varian menu baru dari tiwul merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Solikhah. “Masih banyak yang saya inginkan lakukan. Kalau produk saya masuk pasar internasional otomatis saya bisa membantu tetangga saya,” harapnya.  

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018