
Zubir Marzuki, owner CV Megah Tani
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Singkong merupakan salah satu komoditas sumber pangan alternatif pengganti beras yang dapat diolah menjadi berbagai produk turunan. Produk olahan ini tidak hanya mengenyangkan, namun juga menyehatkan.
Seperti Zubir Marzuki, Owner CV. Megah Tani yang kini mengolah singkong menjadi mocaf dan tapioka di Aceh Timur. Bahkan kini ia telah menggalakkan proyek pengolahan mie Aceh dengan bahan baru dari mocaf. "Kami sudah menginisiasi anggota DPR dan DPRD untuk pengembangan mie Aceh dari singkong," katanya.
Menurutnya, upaya pensubstitusian bahan ini akan berdampak tidak hanya pada aspek ekonomi dengan terciptanya kemandirian pangan lokal. Namun, sekaligus dapat menjadi solusi bagi mereka yang ingin tetap aman untuk menikmati mie Aceh, tanpa khawatir akan efek buruk karena adanya penyakit tertentu yang diidap, seperti asam lambung, celiac, alergi gandum atau autis.
Dari aspek ekonomi, pensubstitusian ini akan membuka lapangan pekerjaan yang cukup besar. Mulai dari dari hulu, yaitu petani, sampai ke hilir, para distributor. Industri berbasis mocaf ini juga nyaris tanpa limbah. "Saya melihat potensi mie Aceh dari mocaf sangat besar. Mie dan kopi bagi masyarakat Aceh sudah menjadi bagian kehidupan. Setiap ada warung kopi, pasti ada mie," katanya.
Untuk membuat mie menurut Zubir juga tak sulit. Memang perlu cara tersendiri agar tidak mudah putus, karena tepung mocaf bebas gluten berbeda dengan tepung terigu. Mie tersebut bisa dibuat 100 persen dari tepung mocaf. "Kalau saya sendiri memberikan tambahan sedikit dengan tepung maizena," ujarnya.
Ke depan, Zubir berharap mocaf menjadi raja di negara sendiri. Saat ini justru negara maju yang telah memanfaatkan mocaf. Sedangkan, masyarakat Indonesia belum banyak yang mengetahui mocaf.
Karena itu perlu didorong penyuluhan terpadu dalam pengembangan singkong untuk mocaf. "Kita harapkan kita bisa menghemat impor terigu yang mencapai 11-an juta ton pertahun," katanya.
Hitungannya, jika tepung mocaf dapat mensubstitusi tepung terigu sebanyak 5 juta ton, maka diperlukan sekitar 25 juta ton singkong. Artinya, diperlukan pengembangan usaha tani singkong cukup luas, namun berpotensi menampung tenaga kerja.
“Dengan sendirinya harga singkong akan stabil. Selama ini terjadi distorsi harga singkong. Paling tidak nanti harga singkong minimal Rp 1.000/kg,” katanya. Ke depan Zubir juga berharap daerah yang belum mengembangkan singkong memberikan bantuan bibit unggul.
Sementara itu Ketua Umum Masyarakat Singkong Indonesia (MSI), Arifin Lambaga mengatakan pihaknya selalu mendorong hilirisasi singkong. Pasalnya, kemajuan sektor hulu tergantung pada hilirnya. Karenanya, harus meningkatkan dan memperluas produk olahan singkong sehingga membuka peluang diserapnya semua hasil budidaya. "Kita mengharapkan ada bibit dengan produktivitas 30 sampai 40 ton perhektar," katanya.
Saat ini MSI telah bekerja sama dengan Direktorat Aneka Kacang dan Umbi mengembangkan demplot-demplot pembibitan singkong. Nantinya bibit unggul akan disebarkan ke masyarakat. "Kita sudah mulai di Sukabumi seluas 10 hektar. Kita berharap akan ada 5 sampai 6 demplot lagi di seluruh Indonesia," sebutnya.
Guru Besar ITB, Prof. Robert Manurung menjelaskan, tanaman singkong merupakan salah satu tanaman yang paling efisien memanen energi surya. Kemudian, integrasi budidaya tanaman singkong dengan beragam operasi pengolahan untuk membentuk suatu struktur simbiosis industrial, meniru pola interaksi simbiosis kehidupan komunitas biologis.
“Aneka ragam perangkat pengolahan maju yang tersedia, memberi pilihan merancang konfigurasi operasi pengolahan biomasa singkong yang dapat menghasilkan berbagai produk bernilai tambah tinggi dan memudahkan daur ulang nutrisi yang penting diperlukan menjaga kelestarian produktivitas lahan," katanya.
Hilirisasi Produk
Kementerian Pertanian (Kementan) tahun 2022 selain fokus meningkatkan produksi, juga gencar melakukan hilirisasi produk pangan lokal yang bernilai ekonomi tinggi. Salah satunya pengembangan produk aneka olahan singkong guna menggairahkan sektor perekonomian masyarakat pedesaan dan nasional.
Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi menuturkan upaya nyata untuk meningkatkan semangat petani singkong yakni menghadirkan hilirisasi. Pasalnya, komoditas singkong memiliki market oriented, sehingga menaikkan kelas singkong dan petani memperoleh nilai tambah yang luar biasa.
Menurutnya, singkong dapat dimanfaatkan semua bagiannya, tidak ada yang terbuang. Mulai dari daun, batang, buahnya semua dapat dimanfaatkan. "Pangan lokal harus hadir di tengah masyarakat kita, kurangilah pangan impor. Ini pekerjaan berat, tetapi harus dimulai dan saya yakin akan bisa karena kesadaran milenial sekarang sudah bagus, memanfaatkan pangan lokal dibranding supaya naik kelas," tegas Suwandi pada webinar yang mengangkat topik pangan lokal tentang Teknologi Maju Mengolah Singkong untuk Aneka UKM, Sabtu (15/1).
Suwandi menekankan pengembangan budidaya hingga hilirisasi produk olahan singkong merupakan pengejawantahan strategi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam cara bertindak 2 (CB2) terkait diversifikasi produksi dan pangan lokal seperti jagung, ubi jalar, ketela, singkong, talas, sagu dan lainnya diolah sedemikian rupa sebagai pangan pokok.
Karena itu, Kementan berkomitmen mendorong komoditas singkong hingga produk olahannya naik kelas sehingga harus dapat memenuhi standar dan kualitas yang diminati pasar termasuk di hotel-hotel.
"Perintah Pak Menteri Pertanian Syahrul Limpo agar mengangkat pangan lokal bernilai ekonomi tinggi. Ini berdampak langsung kepada kesejahteraan petani dan perekonomian nasional. Singkong ini memiliki produk olahan dan sangat menjanjikan masuk di hotel-hotel," jelasnya