Rabu, 18 September 2019


Budidaya Nila Bioflok Raup Untung Rp 24,8 Juta/Siklus

14 Mei 2019, 13:20 WIBEditor : GESHA

Keuntungan bersih budidaya ikan nila sistem bioflok per kolam mencapai Rp 3,1 juta per siklus | Sumber Foto:indarto

keuntungan bersih budidaya ikan nila sistem bioflok per kolam mencapai Rp 3,1 juta per siklus

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Sukabumi --- Budidaya nila dengan teknologi bioflok tak hanya menguntungkan. Nila yang dibudidaya dengan sistem bioflok, komposisi dagingnya (karkas) lebih gemuk dan kandungan airnya lebih sedikit.

Seperti yang diakuii oleh Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Indra Makmur Sukabumi, Syamsul Bahari, dengan periode pemeliharaan selama 3 bulan,  produksi ikan nila yang dapat diperoleh sebanyak 270 kg, dengan ukuran panen 200 gram/ekor.

Apabila harga ikan nila Rp 26 ribu/ekor,  Syamsul Bahari bisa meraup  pendapatan kotor sebesar Rp 7 juta/siklus/kolam.

Syamsul juga mengatakan, keuntungan bersih budidaya ikan nila sistem bioflok per kolam mencapai Rp 3,1 juta per siklus. “Kami punya 10 unit kolam dengan rincian 2 bak tandon dan 8 kolam budidaya. Sehingga pendapatan bersih selama periode budidaya yang kami lakukan mencapai Rp 24,8 juta.

Biaya untuk investasi budidaya sistem bioflok, kata Syamsul, relatif sangat terjangkau. Untuk pembuatan kolam beton ukuran 15 m3 sebesar Rp 2 juta dan pompa air hanya butuh biaya Rp 500 ribu.

Sedangkan biaya operasional untuk benih sebanyak 1.500 ekor, pakan 283,5 kg dan probiotik dan molase sebanyak 3 liter, serta kebutuhan listrik sebesar Rp 3,9 juta.

Menurut Syamsul, ikan yang dibudidaya sistem bioflok relatif cukup mudah. Media budidaya seperti air hanya sekali dimasukkan dalam wadah dan dapat digunakan sampai panen, Penambahan air hanya untuk mengganti penguapan dan pengontrolan kepadatan.

“Budidaya nila bioflok pun tak perlu lahan luas dan bisa diterapkan di pekarangan rumah. Sehingga,  budidaya nila sistem bioflok ini menjadi sumber pendapatan keluarga,” jelas Syamsul.

Ia juga mengatakan, ikan yang dibudidaya sistem bioflok bisa dijual dijual ke sejumlah pedagang ikan, rumah makan, jasa rekreasi pemancingan, dan pengolahan fillet. Karena itu, usaha budidaya nila bioflok ke depannya sangat prospektif.

Seperti diketahui, produksi ikan nila secara nasional terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2016 produksi ikan nila sebesar 1.114.156 ton. Sedangkan tahun 2017 meningkat sebanyak  1.265.201 ton.  

Hingga triwulan III tahun 2018,  produksi ikan nila tercatat sebanyak 579.688 ton. Sentra budidaya ikan nila di Indonesia diantranya Jawa Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Sulawesi Utara dan Sumatera Utara.

Terus Dikembangkan

Lantaran prospektif,  Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Ditjen Perikanan Budidaya terus mengembangkan teknologi bioflok  ke masyarakat. Sebab, produksinya meningkat signifikan.

Menurut Dirjen Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto, kelangsungan hidup atau survival rate (SR) ikan yang dibudidaya sistem bioflok cukup tinggi, yakni  hingga 90%.

“Selain itu, tingkat penggunaan pakan semakin efisien, dimana nilai feed conversion ratio (FCR) mampu mencapai 1,05. Artinya untuk menghasilkan 1 kg ikan nila hanya dibutuhkan 1,05 kg pakan,” ujar Slamet.

Ia juga mengatakan,  angka ini menurun drastis jika dibandingkan dengan pemeliharaan di kolam biasa dimana FCR-nya mencapai 1,5. Padahal, kepadatan juga meningkat tajam, yakni sebanyak 100 ekor/m3 atau 10 kali lipat dibandingkan dengan sistem konvensional hanya 10 ekor/m3.

“Dengan keberhasilan ini, kami yakni pengembangan budidaya nila sistem bioflok merupakan salah satu terobosan untuk meningkatan produksi nila secara nasional. Nila sistem bioflok juga bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan pendapatan pembudidaya secara signifikan, namun tetap mengedepankan prinsip-prinsip keberlanjutan,” jelas Slamet.

Ia juga mengatakan, penerapan teknologi bioflok terbukti efektif dan efisien dalam penggunaan sumberdaya air dan lahan serta adaptif terhadap perubahan iklim.

Sedangkan ikan nila sendiri merupakan salah satu komoditas air tawar yang potensial untuk dikembangkan karena tahan terhadap perubahan lingkungan, pertumbuhannya cepat serta lebih resisten terhadap penyakit. “Jadi ini memang kombinasi yang sangat tepat”ujar Slamet.

Menurut Slamet,  ikan nila semakin diminati masyarakat sehingga permintaan pasar meningkat tinggi. Selain untuk konsumsi lokal juga merupakan komoditas ekspor terutama ke Amerika Serikat dalam bentuk fillet.“Oleh karena itu produktivitasnya harus dipacu terus-menerus,” ujar Slamet.

Slamet juga menjelaskan,  penguasaan teknologi budidaya nila bioflok kini terus diperluas di berbagai daerah melalui unit pelaksana teknis (UPT) perikanan budidaya.

Karena itu, aplikasi teknologi bioflok di masyarakat akan terus dikawal UPT-UPT dan para penyuluh agar tidak keliru menerapkannya.

“Aplikasinya juga harus diterapkan secara benar sesuai kaidah-kaidah cara budidaya ikan yang baik seperti penggunaan benih unggul, pakan sesuai SNI, serta monitoring kualitas air budidaya,” ungkap Slamet. 

Reporter : INDARTO
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018