
Pembudidaya Ikan Air Tawan di Cilacap Gunakan Sistem Kolam Bioflok untuk Tingkatkan Produktifitas
TABLOIDSINARTANI.COM, Cilacap – Permintaan ikan konsumsi seperti mujaer, gurame, dan lele di wilayah barat Cilacap, khususnya Kecamatan Majenang dan sekitarnya, terus meningkat. Melihat peluang tersebut, sejumlah pembudidaya mulai mengembangkan sistem kolam bundar bioflok sebagai solusi budidaya yang efisien dan ramah lingkungan.
Sistem bioflok memanfaatkan mikroorganisme seperti bakteri, alga, dan protozoa yang membentuk gumpalan kecil (flok) di dalam air.
Flok ini berfungsi sebagai pakan alami bagi ikan serta membantu menjaga kualitas air tetap stabil. Sistem ini juga dilengkapi dengan aerator untuk suplai oksigen secara optimal.
Fandi Akmal, salah satu pembudidaya sekaligus anggota Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Mina Rahayu, mengatakan bahwa ia telah memulai budidaya ikan mujaer dengan sistem ini sejak satu setengah tahun lalu.
Bibit awal didatangkan dari Jawa Timur, kemudian dikembangkan secara mandiri melalui pemijahan di kolam tanah dan plastik.
“Bibit mujaer kami beli seharga Rp35 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram, berisi sekitar 60–70 ekor,” jelas Fandi.
Setelah pengolahan air selama tiga hari dan penambahan garam perikanan, bibit ditebar dan aplikasi probiotik dilakukan secara bertahap.
Satu kolam bundar berdiameter 4 meter dengan ketinggian air 80 cm mampu menampung hingga 1.400 ekor ikan. Untuk menunjang pertumbuhan, dibutuhkan sekitar tiga karung pakan pabrikan, mulai dari jenis 781-1 hingga 781-2.
Dalam waktu sekitar 3 hingga 3,5 bulan, ikan berukuran dua jari siap dipanen dengan berat rata-rata 5–6 ekor per kilogram.
“Biaya produksi sekitar Rp5.000 hingga Rp7.000 per kilogram. Saat panen, harga jual di pasaran mencapai Rp25.000–Rp30.000 per kilogram,” tambahnya.
Saat ini, terdapat delapan kolam bundar bioflok dan puluhan kolam tanah serta plastik yang dikelola para anggota Pokdakan Mina Rahayu.
Zainal Arifin, pengelola kolam lainnya, membenarkan bahwa permintaan pasar masih sangat tinggi. “Satu pengepul bisa membutuhkan 40–50 kilogram ikan mujaer setiap harinya. Tapi pasokan dari peternak belum bisa mencukupi. Ini jadi peluang usaha yang besar,” ujarnya.
Untuk memperkuat jaringan dan meningkatkan pengetahuan budidaya, para pembudidaya di wilayah Majenang sedang merintis pembentukan Paguyuban Perikanan Majenang.
“Paguyuban ini penting sebagai tempat tukar informasi pasar, teknik perawatan, hingga strategi panen. Semua demi hasil yang maksimal,” ungkap Zainal.
Hal ini juga didukung oleh Sekretaris Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM), Sugeng Supriyanto, yang menyebutkan bahwa para pembudidaya dari Desa Padang Jaya, Mulyasari, dan Pahonjean rutin berkumpul untuk berbagi pengetahuan seputar perikanan.
“JATAM siap memfasilitasi terbentuknya paguyuban ini agar menjadi satu jaringan yang solid, khususnya untuk memenuhi kebutuhan ikan konsumsi di pasar Majenang,” pungkas Sugeng.