
Festival Rambon Elit Nusantara Chapter II sukses digelar di SMK Mualimin Kesugihan, Cilacap.
TABLOIDSINARTANI.COM, Cilacap --- Festival Rambon Elit Nusantara Chapter II sukses digelar di SMK Mualimin Kesugihan, Cilacap. Sebanyak 129 peserta dari berbagai daerah di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, hingga luar Pulau Jawa, ikut meramaikan ajang bergengsi para penghobi entog ini.
Kontes terbagi dalam dua kategori besar, yakni Jumbo dan Hias. Untuk kategori Jumbo, ada beberapa kelas seperti Dere All The Best, Jemoko All The Best, Jemoko Bobot Ekstreme, Basong All The Best, hingga Basong Bobot Ekstreme.
Sementara kategori Hias meliputi Bondol Motif, Bondol Exotik, Jali, Warna Dasar, Bondol Warna Dasar, Ripple, hingga Exotik.
Ketua Asosiasi Peternak Entog Nusantara (ASPEN), Budi Wahono, menuturkan bahwa tahun ini festival tampil lebih variatif. Terutama pada kategori Jumbo yang semakin diminati penghobi.
“Kategori jumbo lebih realistis. Selain bisa ikut kontes, entog hasil seleksi yang tidak masuk arena tetap bisa dijadikan entog pedaging,” ujarnya.
Tak heran, entog jumbo dengan postur serasi, bulu bagus, dan kualitas istimewa bisa dihargai belasan hingga puluhan juta rupiah.
“Sekarang daya beli penghobi jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pemula di luar Jawa, seperti Sumatra dan Sulawesi, berani membeli dengan harga tinggi, apalagi kalau anakan berasal dari indukan juara,” jelasnya.
Selain itu, harga entog di pasaran juga terbilang stabil. Rata-rata berkisar Rp25 ribu – Rp36 ribu per kilogram hidup, dan bisa melonjak hingga Rp50 ribu saat momen tertentu seperti Idul Fitri atau tahun baru.
Tak kalah menarik, kategori entog hias juga banyak diminati. Ada dua tipe yang dicari, yaitu dari keindahan bulu maupun motif kombinasi warna yang unik.
“Untuk meningkatkan harga jual, penghobi entog hias biasanya aktif melakukan kawin silang demi mendapatkan motif bulu yang variatif,” tambah Budi.
Salah satu peserta, Agus Halim dari Agus 2 Farm Kebumen, berhasil menyabet Juara I kategori Dere All The Best. Entog betina berwarna putih polos miliknya dinilai unggul dari sisi berat dan kualitas bulu.
“Entog dere saya masih berusia empat bulan. Pakan khusus menggunakan pur ayam seri 591 dengan takaran 3,5 kilogram, agar tumbuh optimal,” ujarnya.
Agus mengaku baru setahun lebih menekuni hobi beternak entog, namun sudah dua kali menorehkan prestasi. “Pertama juara di Kebumen, dan sekarang di Cilacap,” katanya bangga.
Ketua Panitia Festival, Sucipto Aji Wibowo, menyebut jumlah peserta tahun ini cukup merata di setiap kategori.
“Cilacap sendiri mengalami peningkatan jumlah penghobi. Ini pertanda positif bagi perkembangan komunitas entog di daerah,” ungkapnya.