
Wisatawan Jepang berkunjung ke agrowisata petik jambu agrowisata
TABLOIDSINARTANI.COM, Kota Batu---Pesona Kota Batu, Malang, Jawa Timur selalu menjadi primadona destinasi wisata bagi pelancong dalam negeri dan luar negeri, bukan hanya saat liburan, tapi juga di akhir pekan . Bagaimana tidak? Tempat ini adalah surga obyek wisata, mulai dari Jatim Park, Agrowisata Apel, hingga desa wisata dan wisata organik yang mulai booming saat ini.
Segudang wisata alamnya tak pernah habis untuk dijelajahi, termasuk wisata petik buah yang menjamur di kawasan pegunungan tersebut. Jika selama ini kita banyak disuguhkan petik apel atau strawberi, kini di Kota Apel pelancong mendapat suguhan wisata petik buah jambu kristal yang berada di Bumiaji, Kota Batu.
Wisata petik jambu kristal pertama kali diinisiasi Rakhmad Hardiyanto. Kerap dipanggil Hardi merupakan pioneer wisata jambu kristal. Hardi merupakan petani muda yang dikenal sebagai pegiat wisata di Bumiaji. Petani dan pelaku wisata adalah bagian dari gaya hidup sarjana Teknik Mesin Universitas Brawijaya angkatan 2003 itu.
Hardi memulai karir menjadi petani jambu kristal dari nol pada 2012 lalu dengan bimbingan ayah mertuanya Imam Ghozali. Dalam mengembangkan wisatanya, ia tidak berjalan sendiri dan bekerjasama dengan banyak pihak.

Hardi bercerita , tanaman jambu kristal sebenarnya sudah ada sejak tahun 2006 lalu. Namun, dirinya mengembangkan sebagai tempat wisata baru pada tahun 2012. Dari hanya 60 pohon, kini berkembang menjadi 8.000 pohon.
Kebun milik Hardi ada menjadi obyek wisata sekitar setengah hektar. Di lokasi agrowisata dilengkapi dengan fasilitas aula dan gazebo. Pengunjung yang baru datang akan mendapat welcome drink, snack, serta edukasi yang langsung diberikan oleh Hardi.
"Pengunjung wisata petik jambu kristal ini pun terbilang cukup banyak. Satu tahunnya bisa mencapai 1.000 wisatawan," katanya. Namun, jika ingin membawa pulang untuk oleh-oleh, pengunjung harus membayar sesuai harga yang ditentukan.
Hardi membandrol harga jambu kristalnya ini seharga Rp 15 ribu/kg. Namun, bagi pengunjung yang datang langsung ke kebun, cukup membayar Rp 20 ribu/kg saja dan bisa menikmati nikmatnya jambu kristal sepuasnya.
Tidak hanya menerima kunjungan wisatawan, jambu milik Hardi juga telah didistribusikan ke beberapa toko modern. Antara lain ke Jakarta, Surabaya, Bali, Banjarmasin, dan Balikpapan.
Hardi mengatakan, kelebihan dari jambu kristal ini yakni renyah ketika digigit. “Jadi lebih crunchy, daging tebal, dan tanpa biji,” ujarnya.
Tak main-main, jambu milik Hardi ini telah bersertifikat organik, karena sama sekali tidak menggunakan bahan kimia dalam perawatannya. “Perawatan pertanian organik, beda dengan konvensional. Kami utamakan aspek kesehatan. Perlahan tidak ketergantungan dengan kimia sintetis,” tuturnya.