
Pasar Ngasem Yogyakarta
TABLOIDSINARTANI.COM, Yogyakarta---Daerah Ibukota Yogyakarta bukan hanya dikenal sebagai Kota Pelajar, tapi juga sebagai kota wisata yang bikin kangen. Bahkan Kla Project mengabadikan dalam lantunan lagu berjudul Yogyakarta. Bait-bait lagu yang puitis tersebut kerap membawa angan ingin kembali ke kota tersebut.
Bukan hanya lokasi wisata budaya, Yogyakarta juga terkenal dengan kulinernya. Dari mulai Gudeg, Bakmi, Yogyakarta juga terkenal dengan bakpia-nya. ”... Di persimpangan langkahku terhenti. Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera. Orang duduk bersila...” Demikian kutipan bait lagu Yogyakarta.
Selain Malioboro, lokasi jalan-jalan yang bisa dikunjung wisatawan adalah Pasar Ngasem. Berbeda dengan pasar pada umumnya, Pasar Ngasem menjadi salah satu destinasi kuliner yang berlokasi di sekitar Taman Sari.
Lokasi Pasar Ngasem berada di Jalan Polowijan Nomor 11, Patehan, Kecamata Keraton, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Menurut sejarahnya, kawasan Pasar Ngasem dahulunya merupakan danau yang sering digunakan Sultan Hamengku Buwono II berpelesir sambil melihat-lihat keindahan keraton dari luar benteng.
Namun, sekian waktu berjalan danau tersebut beralih fungsi menjadi perkampungan dan di tengah-tengah kampung tersebut menjadi sebuah pasar yang khusus menjual burung. Setelah pasar burung direlokasi ke Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY), Pasar Ngasem berkembang menjadi pasar seni, kerajinan, bahkan kini menjajakan sejumlah kuliner yang bisa dicicipi wisatawan.
Kini, pasar tersebut menjadi salah satu destinasi wisata kuliner para wisatawan maupun warga lokal. Berbagai kios menjajakan makanan dari yang ’berat’ maupun ’ringan’ khas Yogyakarta. Misalnya, Warung Bu Sirep yang menyediakan menu seperti bubur krecek, gudeg basah, brongkos, pepes, berbagai lauk, hingga minuman segar seperti wedang uwuh, bandrek, jahe sereh, serta kunyit asem.
Ada juga Warung Makang Yu Ngademi. Tempat makan dengan menu berat lainnya yang berada dekat pintu masuk Pasar Ngasem. Kuliner yang satu ini memang menjadi incaran para pengunjung karena menunya beragam. Jika ingin menikmati, maka harus siap antri.
Bagi wisatawan yang hanya ingin menikmati makanan ringan. Bisa mampir ke Warung Yu Jumilah. Menunya utamanya adalah jenang dengan berbagai jenis dan rasa dengan harga Rp 10 ribu-an per porsi jenang ukuran sedang. Pengunjung juga harus bersabar antri untuk menikmati jenang khas Warung Yu Jumilah ini.

Makanan ringan lainnya adalah apem yang menjadi salah satu makanan legendaris di Pasar Ngasem. Rasanya yang manis dan gurih membuat banyak orang rela mengantri meski sangat panjang. Kuliner yang satu ini buka mulai jam 06.00 WIB hingga habis.
Jika ingin membeli oleh-oleh, di Pasar Ngasem juga banyak yang menjual makanan ringan khas dengan kemasan plastik. Satu lagi yang tidak boleh terlewatkan adalah membeli oleh-oleh Bakpia Pathok dan Wingko Pak Bambang Wiwid. Wisatawan bisa menikmati bakpia rasa kacang ijo dan keju, serta wingko hangat.
Harga Bakpia Rp 20.000/boks isi 10, sedangkan wingko Rp 30.000/boks isi 10. Saat musim liburan, untuk bisa mendapatkan Bakpia dan wingko, kita harus rela antri. Rasanya tak kalah dengan merek bakpia pathok lain yang sudah sangat terkenal.

Di balik tembok Njeron Beteng, kawasan yang sarat sejarah di Kota Yogyakarta, Pasar Ngasem menyimpan cerita panjang tentang perjalanan waktu. Lebih dari sekadar pasar, tempat ini menjadi saksi bisu transformasi budaya dan sosial selama lebih dari dua abad.
Kini Pasar Ngasem telah bertransformasi menjadi pusat kuliner yang tak hanya dikunjungi wisatawan lokal, tapi juga mancanegara. Berbaur dalam pasar sambil lesehan menikmati kuliner khas Yogyakarta. Bagi wisatawan jangan lewatkan jika berkunjung ke kota yang terkenal dengan sejarah budayanya tersebut.