Saturday, 07 November 2026


Siap Panen Perdana, Melon Premium Poktan Rawa Jaya Diburu Warga

07 Nov 2026, 09:10 WIBEditor : Herman

Melon Sweet Lavender di Green House Poktan Rawa jaya siap panen

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Dukungan program Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina membawa peluang baru bagi Kelompok Tani (Poktan) Rumah Gizi Rawa Jaya, Jakarta Timur.

Berawal dari budidaya cabai, kelompok tani ini kini berhasil mengembangkan melon premium secara hidroponik dan bersiap melakukan panen perdana.

Menariknya, buah melon yang belum dipanen tersebut sudah mulai diburu warga. Hampir seluruh calon hasil panen perdana telah dipesan masyarakat yang mengetahui keberadaan green house melon di kawasan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Rawa Jaya.

Green house melon tersebut dibangun pada Juli 2026 melalui dukungan program CSR Pertamina. Berdiri di atas lahan berukuran 21 x 5 meter, fasilitas ini ditanami 228 pohon melon menggunakan sistem hidroponik dengan talang.

Sukron, anggota Poktan Rumah Gizi Rawa Jaya yang dipercaya menjadi penanggung jawab (PIC) green house melon, menceritakan, pengembangan melon merupakan langkah lanjutan dari kegiatan pertanian yang telah mereka rintis sejak awal 2023.

Saat itu, kelompok tani menanam sekitar 450 pohon cabai di area RPTRA Rawa Jaya. Bahkan, kegiatan tersebut menjadi salah satu penanaman cabai terbesar di DKI Jakarta yang bertepatan dengan program gerakan menanam cabai Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

"Awalnya kami menanam cabai sekitar 450 pohon. Kemudian, dengan adanya program CSR Pertamina, kami mengajukan pembangunan green house melon. Kami melihat potensi melon cukup bagus," ungkap Sukron.

Menurutnya, pengembangan melon tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan buah segar bernilai ekonomi tinggi. Kelompok tani juga memiliki rencana mengembangkan produk olahan agar memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

"Kami berharap nantinya ada produk turunan dari melon ini. Rencananya, kami akan membuat dodol melon dan keripik melon untuk menggairahkan UMKM," tambahnya.

Melon Premium Sweet Lavender

Dalam budidaya perdana ini, Poktan Rumah Gizi Rawa Jaya memilih varietas Sweet Lavender. Melon premium tersebut dikenal memiliki daya tarik dari segi tampilan, aroma, dan cita rasa.

Buahnya berbentuk oval dengan kulit berwarna kuning atau oranye berjaring, sementara daging buahnya berwarna oranye cerah hingga oranye muda. Melon ini dapat dipanen sekitar 60–75 hari setelah tanam (HST).

Sukron menjelaskan, pilihan terhadap Sweet Lavender didasarkan pada potensi pasarnya yang cukup menjanjikan. Selain tengah populer, harga jualnya juga relatif lebih tinggi dibandingkan sejumlah varietas melon lokal.

"Kami memilih jenis ini karena sedang populer dan harga jualnya lebih tinggi dibandingkan melon-melon lokal. Harapannya, budidaya ini bisa menjadi peluang usaha yang menjanjikan bagi kelompok tani," jelasnya.

Perjalanan budidaya melon ternyata tidak selalu berjalan mulus. Pada awal penanaman, kelompok tani menghadapi serangan hama dan penyakit yang sempat mengancam keberlangsungan tanaman.

Kondisi tersebut bahkan membuat mereka hampir menyerah dan berniat mencabut seluruh tanaman melon yang sudah tumbuh.

Namun, melalui diskusi dengan mentor yang berpengalaman dalam budidaya melon, mereka akhirnya mendapatkan solusi untuk mengatasi serangan hama dan penyakit tersebut.

"Awalnya kami sempat ingin mencabut semua tanaman karena serangan hama. Namun, setelah berdiskusi dengan mentor, akhirnya kami mendapatkan solusi. Alhamdulillah, sekitar 150 pohon melon bisa diselamatkan hingga siap panen," ungkap Sukron.

Dari total 228 pohon yang ditanam, sekitar 150 pohon diperkirakan menghasilkan buah dan siap dipanen pada panen perdana yang dijadwalkan Senin (9/11/2026).

Dengan asumsi satu pohon menghasilkan satu buah, bobot melon diperkirakan berkisar 1–2,8 kilogram per buah. Kelompok tani menargetkan produksi sekitar 220 kilogram.

Untuk pemasarannya, melon Sweet Lavender tersebut dijual dengan harga Rp35.000 per kilogram. Menariknya, hampir seluruh buah yang akan dipanen sudah dipesan warga.

"Alhamdulillah, sekarang hampir semua buah melon sudah dipesan warga yang mengetahui kami akan panen. Ini tentu menjadi penyemangat bagi kami untuk terus mengembangkan budidaya melon," katanya.

Meski berhasil melewati berbagai tantangan hingga mendekati panen perdana, Sukron mengakui kelompoknya masih harus banyak belajar. Sebab, budidaya melon merupakan pengalaman baru bagi sebagian anggota Poktan Rumah Gizi Rawa Jaya.

Selain belajar secara autodidak, mereka juga aktif berdiskusi dengan mentor dan petani melon yang telah berpengalaman untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan dalam budidaya.

"Kami masih terus belajar, baik secara autodidak maupun berdiskusi dengan mentor dan petani melon yang sudah berpengalaman. Apalagi ini merupakan panen perdana kami," ujarnya.

Ia menambahkan, dukungan Pertamina melalui program CSR juga terus memberikan semangat bagi kelompok tani untuk mengembangkan green house tersebut.

Ke depan, mereka berharap budidaya melon tidak berhenti pada panen perdana. Pengembangan produk olahan seperti dodol dan keripik melon diharapkan mampu membuka peluang usaha baru sekaligus menggerakkan UMKM di lingkungan sekitar.

Reporter : Eko
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018