
Bantuan pakan mandiri
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pakan ikan menjadi komponen penting dalam proses budidaya ikan. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara terus menyalurkan bantuan lpakan mandiri kepada Pokdakan skala kecil di Kabupaten Banyumas sebanyak 3,5 ton.
Bantuan pakan mandiri tersebut diserahkan langsung BBPBAP Jepara kepada tujuh kelompok penerima yang ada di Kecamatan Cilongok, Kab. Banyumas. Wakil Bupati Banyumas, Sadewo mengapresiasi dukungan KKP kepada pembudidaya ikan. Diharapkan, dukungan tersebut akan mampu mendongkrak ekonomi para pembudidaya ikan yang ada, khususnya di Kec. Cilongok.
" Saya berharap ini bisa dimanfaatkan dengan baik dan tentunya bisa memberikan efek positif, sehingga proses produksi budidaya terus berjalan. Kalau produksi berjalan, akani ada jaminan suplai pangan bagi masyarakat di Banyumas," katanya.
Kepala BBPBAP Jepara, Sugeng Raharjo mengatakan, pihaknya terus menggenjot produksi pakan mandiri. Tujuannya untuk membantu pembudidaya kecil agar usahanya lebih efisien dimasa darurat seperti ini.
" Sekitar 70 persen komponen biaya produksi berasal dari pakan. Sementara dampak pandemi sangat terasa dan mempengaruhi keberlangsungan usaha," ujar Sugeng.
Menurut Sugeng, pakan dan benih, merupakan dua input produksi yang terus didorong untuk didistribusikan kepada pembudidaya ikan kecil. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi agar pembudidaya tidak terlalu tertekan lebih dalam secara ekonomi.
" Kita berharap usahanya bisa lebih efisien, sehingga ada nilai tambah keuntungan yang cukup besar," ujarnya.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, dukungan langsung berupa input produksi khususnya pakan dan benih sangat krusial dilakukan.
Bantuan pakan dan benih merupakan bagian dari upaya untuk menstimulus agar nilai tukar pembudidaya ikan naik.
" Nilai tukar merupakan indikator kemampuan daya beli masyarakat pembudidaya ikan. KKP akan terus dorong stimulus dalan bentuk dukungan langsung seperti ini. Kami berharap ini mampu mengungkit nilai tukar mereka," kata Slamet, di Jakarta, Jumat (14/8).
Menurut Slamet, apabila nilai tukar naik berarti daya beli pembudidaya juga terkerek dan tentu secara langsung akan bisa menopang PDB Indonesia. Mengingat, ekonomi Indonesia pada kuartal II ini sedang tertekan atau terkontraksi sekitar 5 persen. " Oleh karenanya, saya ingin memastikan bahwa KKP akan selalu hadir dan berupaya bagaimana pembudidaya ini daya belinya tetap terjaga di masa pandemi covid-19," pungkas Slamet.