Wednesday, 21 October 2026


Tingkatkan Produksi, KKP Ajak Stakeholder Budidaya Udang

16 Nov 2020, 10:28 WIBEditor : Indarto

Tambak udang

Klaster ataupun kawasan tambak udang akan mempermudah manajemen kawasan berbasis kepada lingkungan.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Kurun lima tahun ke depan, nilai ekspor udang ditargetkan mampu meningkat sebanyak 250 persen. Guna mencapai target tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mulai meningkatkan produksi udang (vaname) melalui revitalisasi tambak di sejumlah daerah dan mengajak stakeholder terlibat langsung dalam budidaya udang.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, untuk meningkatkan ekspor udang pada tahun 2024 sebesar 250 persen, butuh dukungan semua pihak. “ Kita juga mendapat dukungan dari pemerintah dan diberi mandat ataupun diberi tugas nanti di tahun 2024 kita bisa meningkatkan nilai ekspor udang sebesar 250 persen,” kata Slamet, di Jakarta, Senin (16/11).

Menurut Slamet, untuk meningkatkan ekspor udang sebesar 250 persen, KKP tidak bisa berjalan sendiri sehingga membutuhkan dukungan jajaran pemerintah pusat dan pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten, serta stakeholder lainnya seperti kalangan asosiasi, para akademisi, praktisi dan lainnya. 

“Semuanya harus bersatu untuk bersama-sama bersinergi dalam peningkatan produksi udang ataupun pembangunan perudangan nasional kedepan,”ujarnya.

Slamet juga mengatakan, untuk mendukung target ekspor tersebut, pihaknya mulai membangun kawasan tambak kurun lima tahun ke depan melalui model klaster. Dengan model  klaster, pengelolaan usaha  budidaya udang dalam satu kawasan bisa dilakukan melalui manajemen teknis dan usaha yang dikelola secara bersama. Tujuannya  untuk meminimalisir kegagalan dan meningkatkan produktivitas, namun tetap ramah terhadap lingkungan.

Menurut Slamet, klaster ataupun kawasan tambak udang akan mempermudah manajemen kawasan berbasis kepada lingkungan. Disamping itu juga mempermudah dalam pembinaan, termasuk juga penguatan permodalan dan lainnya

“ Kawasan tambak udang ini dapat diintegrasikan dengan konsep silvofishery. Dengan silvofishery  kita bisa mengembangkan budidaya dengan cara polikultur secara tradisional yang terkendali yaitu polikultur dengan kakap putih, bisa kita tebarkan nila salin, rumput laut dan lainnya. Kita pastikan keberadaan mangrove sebagai barrier yang mempertahankan lingkungan agar bisa berkelanjutan,” papar Slamet.

Slamet juga mengharapkan dukungan dan bantuan dari stakeholder agar potensi perikanan budidaya dapat dioptimalkan. “Semoga dengan konsultasi ini dapat memberikan masukan-masukan ataupun pencerahan-pencerahan untuk kami kedepan, agar program pengembangan tambak udang ini bisa berjalan dengan baik sesuai dengan sasaran,” kata Slamet.

Wakil Ketua Komisi Pemangku Kepentingan dan Konsultasi Publik Kelautan dan Perikanan (KP2KP) Bidang Sinergi Dunia Usaha, Agnes Marcellina mengatakan,  revitalisasi tambak udang termasuk di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2020 – 2024 sesuai dengan arahan dari presiden kepada Menteri Kelautan dan Perikanan untuk mengoptimalkan perikanan budidaya.

Menurut Agnes, target dari pertumbuhan tambak udang  yang dikembangkan Dirjen Perikanan Budidaya sebanyak 2,5 kali lipat setiap tahunnya. Sehingga pada tahun 2024 nanti produksi udang kita bisa mencapai 1,2 juta ton, dengan nilai produksi dari  Rp 30 triliun menjadi Rp 90 triliun . 

“Kita boleh berbesar hati bahwa nilai ekspor udang Indonesia saat ini adalah peringkat ke 4 setelah India, Ekuador dan Vietnam,” kata Agnes. 

Agnes juga menekankan dengan pembukaan kawasan tambak baru akan meningkatkan permintaan benih dan pakan.  “Maka kita juga harus memikirkan ketersediaan pakan dan benih yang selama ini masih berfokus di Pulau Jawa. Dengan adanya pengembangan kawasan baru di provinsi lain, misalnya kawasan timur ada di Sulawesi Utara, Maluku atau Papua, perlu kita pikirkan juga,” jelasnya.

 Revitalisasi Tambak

Penasihat Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Kesejahteraan Stakeholder Kelautan dan Perikanan, Agus Somamiharja mengatakan, untuk mencapai target ekspor diperlukan peningkatan produktivitas dan revitalisasi lahan tambak yang tersedia.  “Karena dengan eksisting tambak yang telah ada maka kita sudah bisa mencapai peningkatan udang nasional yang ditargetkan,” katanya.

Menurut Agus,  langkah-langkah untuk menggenjot produksi udang tambak. Pertama, merevitalisasi tambak intensif dan semi intensif dengan cara mempermudah akses benur berkualitas, akses infrastruktur, akses ke agen pembiayaan, akses peningkatan SDM/SOP, pembentukan kelembagaan hulu-hilir serta mempermudah perizinan dan regulasi.

Kemudian, melalui revitalisasi tambak eks-plasma dengan cara meningkatkan sumber daya manusia yang berpengalaman dalam pengelolaannya, serta menjadikan tambak-tambak tersebut sebagai tambak milik rakyat.  “Selain itu perlu merevitalisasi tambak tradisional dengan cara meningkatkan produktivitas dan membuat permodelan tambak klaster,” ujarnya.

Agus juga mengatakan, Sustainable Shrimp Silvofishery yang diterapkan pada tambak milenial yang sedang dibangun oleh KKP di Jepara dan Situbondo diharapkan kualitas dan produksi udangnya bisa lebih sustainable dan  bisa meminimalisir risiko terjadinya serangan penyakit.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Umum AP5I, Budhi Wibowo. Menurut Budhi Wibowo, sustainable adalah harga mati, dengan pengolahan limbah, sehingga serangan penyakit dapat diminimalisir dan tentunya target kita dalam meningkatkan produksi udang nasional dapat tercapai.

“Terkait unit pengolahan udang, lokasinya tidak harus selalu berdekatan dengan lokasi tambak udang. Sepanjang masih dalam waktu kurang lebih 48 jam dari lokasi panen hingga masuk pabrik, bagi kami masih aman dan masih memenuhi standar kualitas/mutu dari buyer dan masih kita golongkan first grade quality,” kata Budhi. 

 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018