Saturday, 23 January 2021


Budidaya Ikan Sistem Minapadi

01 Dec 2020, 11:56 WIBEditor : Yulianto

Sistem mina padi menjadi rujukan dunia | Sumber Foto:Humas Ditjen Perikanan Budidaya

TABLOIDSINARTANI.COM, Pringsewu---- Di tengah pandemi covid-19, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tetap komitmen membangun perikanan budidaya untuk ketahanan pangan maupun pemulihan ekonomi nasional.
 
“Karena kita sadar betul meski kita masih dibayangi wabah corona, tapi penyediaan pangan harus terus berjalan. Apalagi ikan sebagai kebutuhan pokok manusia, terutama kebutuhan akan protein hewani. Karena itu, meningkatkan produksi perikanan sudah menjadi keharusan,” kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto.
 
Menurut Slamet,  saat ini dan masa mendatang, perikanan budidaya menjadi tumpuan utama bagi masyarakat dunia. Karena sektor perikanan budidaya mempunyai dua nilai strategis yaitu untuk menunjang ketahanan pangan nasional, melalui pemenuhan produk pangan berbasis ikan. Sedangkan dari sisi ekonomi, perikanan budidaya memiliki potensi besar sebagai penggerak perekonomian nasional dan masyarakat, terutama masyarakat pedesaan.
 
Slamet menambahkan, perikanan budidaya saat ini dihadapkan pada tantangan besar terutama dengan kondisi perubahan iklim dan penurunan kualitas lingkungan global yang mempengaruhi produktivitas perikanan budidaya.  Hal ini akan menjadi pekerjaan bersama, bagiamana menciptakan perikanan budidaya agar terus berkelanjutan.
 
“Saya selalu tekankan, untuk mendorong kegiatan usaha budidaya ini secara bertanggungjawab dan berkelanjutan, melalui penerapan praktek-praktek budidaya yang lebih efisien dan berwawasan lingkungan,”  kata Slamet.
 
Sejalan dengan kebijakan KKP, Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) telah menerapkan kebijakan pembangunan perikanan budidaya yang mandiri, berdaya saing dan berkelanjutan. Kebijakan tersebut diimplementasikan melalui strategi industrialisasi berbasis inovasi teknologi produksi (efisiensi, market-oriented dan food safety (quality), keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan, serta integrasi hulu hilir dan sinergitas stakeholders.
 
“Kebijakan dari pusat tidak akan bisa berjalan tanpa ada dukungan dari daerah. Untuk itu, kembali saya tekankan sinergitas pusat maupun daerah perlu ditingkatkan lagi guna meningkatkan produktivitas perikanan budidaya,”  papar  Slamet.
 


Minapadi Sebagai Rujukan Dunia
 
Pada  era modern saat ini, inovasi dan teknologi harus terus ditingkatkan guna menciptakan produk yang berdaya saing. Seperti salah satu produk inovasi perikanan budidaya yang sudah diakui dunia yaitu sistem budidaya minapadi. Bahkan, Badan Pangan Dunia (FAO) telah menetapkan Indonesia sebagai rujukan model pengembangan minapadi level Asia-Pasifik.
 
“Karena, Indonesia dinilai telah berhasil mengembangkan minapadi sebagai program prioritas nasional untuk mendukung ketahanan pangan,” ujar Slamet.
 
Setidaknya ada 13  perwakilan negara-negara Asia-Pasifik telah belajar minapadi di Indonesia. Ketiga belas negara tersebut yakni Bangladesh, Kamboja, China, India, Laos, Myanmar, Nepal, Pakistan, Philipina, Sri Langka, Thailand, Timor Leste, dan Vietnam.
 
Menurut Slamet, sistem budidaya minapadi telah dimulai sudah cukup lama, karena sistem ini memiliki banyak keunggulan untuk petani dan pembudidaya ikan. “ Negara lain sudah banyak yang belajar dari kita. Oleh karenanya kita harus mempertahankannya,” kata Slamet.
 
Minapadi sangat efisiensi dalam penggunaan pupuk. Budidaya minapadi tidak menggunakan pestisida, sehingga padi yang dihasilkan adalah padi yang sehat, bebas pestisida dan juga lingkungan tidak tercemar, dan yang tidak kalah penting sistem ini dapat memperbaiki kesuburan dan tekstur tanah.
 
Disamping menguntungkan secara produksi, sistem minapadi juga bisa dikembangkan sebagai kawasan agrowisata (mina-tour, wisata berbasis perikanan), sebagai tempat belajar (edukasi) tentang perikanan budidaya ke masyarakat. Model ini sudah dikembangkan di Bali, Sukabumi, Yogyakarta, Magelang dan beberapa wilayah lain.
 
“Saya kira juga dapat dikembangakan di Kabupaten Pringsewu. Mengingat, konsep wisata back to nature / kembali ke alam semakin digemari. Banyak manfaat dari sistem Minapadi ini, makanya dunia menjadikan Indonesia sebagai rujukan,”  tutur Slamet.
 
Slamet juga berharap, para pembudidaya memanfaatkan dengan baik bantuan-bantuan yang telah diberikan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah (propinsi/kabupaten/kota). Pastinya, kalau ada masalah di lapangan,  ada dinas, Unit Pelaksana Teknis DJPB dalam hal ini Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam, serta para penyuluh yang siap melakukan pendampingan teknis, pelayanan konsultasi ke pembudidaya.
 
Menurut Slamet, dinas juga agar dapat mengalokasikan pendanaan APBD yang berimbang ke sub sektor perikanan budidaya. Sehingga apa yang dilakukan dapat memberikan hasil dan manfaat bagi masyarakat.
 
“Prinsipnya kami selalu hadir dan berupaya untuk terjun langsung ke lapangan untuk memastikan bahwa para pembudidaya masih produktif dan menggali kendala-kendala yang ada di masyarakat untuk dapat dicarikan solusinya, agar produkstifitas perikanan budidaya akan lebih baik dari masa ke masa. Untuk merealisasikan itu semua tentu perlu dukungan dan peran aktif dari daerah,” papar Slamet.
 
Kepala BPBAT Sungai Gelam, Boyun Handoyo menjelaskan,  kegiatan minapadi di Kabupaten Pringsewu merupakan program bantuan DJPB tahun 2019 yang sampai sekarang masih berlangsung. Kegiatan minapadi ini dipadukan dengan kegiatan pariwisata.
 
“Keberhasilan program minapadi di Kabupaten Pringsewu ini memang harus ada kerjasama dan kemauan yang kuat dari segenap pihak, baik pemerintah pusat, daerah, BUMN maupun stakeholder terkait,” papar Boyun.
 
Dalam kegiatan tersebut, BPBAT Sungai Gelam memberikan bantuan benih kepada Pokdakan yang terkena musibah banjir di Kabupaten Pringsewu sebanyak 150 ribu ekor ikan nila.
 
Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Tunas Harapan, Kabupaten Pringsewu, Sukardi mengatakan, bantuan minapadi 2019 dari BPBAT Sungai Gelam, sangat membantu pembudidaya.
 
“Apalagi setelah kami menerima bantuan ada wabah Corona, jadi kami masih bisa berproduksi karena bantuan ini. Alhamdulillah program  bantuan ini sangat membantu kami. Kami masih bisa bertahan dan berproduksi meski ada wabah Corona,”  kata Sukardi.
 
Sukardi juga mengaku, bantuan pendampingan dari dinas dan balai juga sangat bermanfaat, sehingga  pembudidaya hingga saat ini masih bisa melakukan usaha budidaya ikan dengan baik dan benar dan hasilnya juga memuaskan.
 
“Saya sangat berterimakasih atas bantuan dari pusat maupun pendampingan dari daerah sehingga ekonomi kami baik kelompok dan masyarakat pada umumnya bisa berjalan meski ada corona,” pungkas Sukardi
Reporter : Humas Ditjen Perikanan Budidaya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018