Saturday, 16 January 2021


Budidaya Abalon, Tumpuan Ekonomi Masyarakat Pesisir

23 Dec 2020, 12:39 WIBEditor : Indarto

Komoditas abalon | Sumber Foto:Dok. Humas DJPB

Pengembangan budidaya abalone masih sangat potensial dilakukan di Indonesia mengingat perairan lautnya masih sangat luas dan cocok.

 

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Kerang abalon merupakan salah satu komoditas budidaya laut bernilai ekonomi tinggi. Meski budidaya abalon belum banyak dikembangkan masyarakat, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus melakukan inovasi teknologi budidaya untuk meningkatkan produksi abalon.

 

Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Produksi Induk Udang Unggul dan Kekerangan (BPUI2K) Karangasem Bali telah berhasil mengembangkan teknik pembenihan dan budidaya kerang abalon. 

 

Melalui inovasi teknologi tersebut, Gastropoda laut bernama latin Haliotis sp ini akan mampu memberikan peranan penting bagi perekonomian masyarakat pesisir. Budidaya abalon  tidak hanya untuk dimakan atau dijual di pasar lokal, namun bisa diekspor ke beberapa negara seperti Asia, Eropa dan Amerika Serikat.

 

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, pengembangan budidaya abalone masih sangat potensial dilakukan di Indonesia mengingat perairan lautnya masih sangat luas dan cocok. Budidaya abalon dapat memberikan alternatif atau tambahan penghasilan bagi masyarakat sekaligus memberikan dampak positif secara ekologi.

 

“ Dengan budidaya, tidak terjadi lagi eksploitasi sumberdaya abalon di alam,” ujar Slamet, di Jakarta, Rabu (23/12).

 

Slamet mengungkapkan, pengembangan budidaya abalon perlu diperhatikan kelayakan lokasi untuk budidayanya berdasarkan kondisi fisik perairan, kondisi kimia dan akses ke lokasi budidaya. Abalon akan berkembang dengan baik di perairan terlindung. Kemudian aksesibilitas juga perlu diperhatikan seperti lokasi budidaya mudah dijangkau dan keamanan terjamin.

 

 Dan perlu dicatat perairan harus bebas dari pencemaran, buangan industri, limbah pertanian ataupun limbah rumah tangga,” jelasnya.

 

Menurut Slamet, budidaya kerang abalon dapat meningkatan pendapatan ekonomi masyarakat pesisir, khususnya pembudidaya dan nelayan. Mengingat, budidaya abalon dapat dilakukan dengan sistem karamba jaring apung, jaring tancap, atau menggunakan keranjang-keranjang plastik yang telah diberi shelter atau bahan pelindung.

 

 “UPT kami akan terus berinovasi dalam pengembangan budidaya abalon termasuk didalam tahap pembenihan, pendederan dan pembesarannya. Kami ingin teknologinya benar-benar dapat diaplikasikan ke masyarakat,” kata Slamet.

 

Budidaya abalon akan semakin diminati masyarakat mengingat teknologi budidaya abalon tergolong ramah lingkungan dan tidak mencemari karena tidak menggunakan bahan kimia, hanya menggunakan mikroalga maupun makroalga sebagai pakan pada proses budidayanya. 

 

Kepala BPUI2K Karangasem, Winarno mengatakan, pemijahan abalon di BPUI2K dilakukan setiap bulan dengan metode penjenuhan oksigen. Dalam satu periode pemijahan dapat dihasilkan 2 – 3 juta trochophore.

 

Pemeliharaan induk abalon di BPUI2K Karangasem dilakukan dalam dalam bak fiber volume 1.500 liter yang diberi shelter (pelindung) dengan memakai sistim air mengalir. Setiap bak diisi 150 ekor induk abalon dan diberi pakan berupa rumput laut secara adlibitum (selalu tersedia). Pemeliharaan induk abalon dilakukan sampai matang gonad dan siap dipijahkan. 

 

Menurut Winarno, pemeliharaan larva dilakukan pada bak beton yang diberi sirkulasi air dan aerasi dengan pengaturan kecil. Pemberian pakan berupa bentik diatom. Larva abalon dipelihara selama 2 bulan hingga larva berubah menjadi benih berukuran 1 cm.

 

Grading dilakukan untuk menyeragamkan ukuran serta menghindari dari persaingan makanan. Grading abalon dilakukan setiap bulan selama 4 kali yaitu ukuran 2 cm (3 bulan), 3 cm (4 bulan), 4 cm (5 bulan) dan 5 cm (> 6 bulan).

 

Manajemen pakan dilakukan sesuai umur abalone yang dipelihara. Untuk umur 1 bulan diberikan pakan berupa plankton jenis diatom dosis 1 juta sel per ml. Kemudian pakan berupa rumput laut jenis ulva dan gracilaria diberikan pada umur  2 bulan hingga diatas 7 bulan dengan metode ad libitum (pemberian pakan secara berlebih).

 

 Winarno menambahkan, hasil produksi benih abalon yang berasal dari BPIU2K Karangasem didistribusikan ke beberapa daerah seperti Bali, Pulau Seribu, Bogor, Yogyakarta serta daerah lainnya di Indonesia. Penggunaan benih abalon yang dulunya hanya terbatas untuk kegiatan penelitian dan menunjang kegiatan restocking tetapi sekarang sudah dapat dibudidayakan oleh kelompok nelayan atau pembudidaya.

 

“ Dengan memanfaatkan sistem jaring tancap maupun karamba jaring apung, masyarakat bisa melakukan budidaya abalone,” pungkas Winarno. 

 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018