Saturday, 16 January 2021


Tingkatkan Produksi Garam, KKP Luncurkan Inovasi PTAL

22 Dec 2020, 08:53 WIBEditor : Indarto

Inovasi teknologi tingkatkan produksi garam rakyat | Sumber Foto:Dok. Humas BRSDM

Melalui inovasi teknologi produksi garam yang sederhana dan tidak padat modal diharapkan mampu terjangkau oleh petani garam.

 

 

JAKARTA (10/12) – Seiring bertambahnya jumlah penduduk dan industri, kebutuhan garam konsumsi dan industri terus meningkat. Sayangnya, untuk memenuhi kebutuhan garam sekitar 40 persennya masih impor dari Australia dan India.

 

Kebutuhan garam konsumsi sebanyak 812.132 ton, dan garam industri sebanyak 3.609.812 ton. Nah, untuk memenuhi kebutuhan garam tersebut diperlukan beragam inovasi teknologi. Melalui inovasi teknologi produksi garam yang sederhana dan tidak padat modal diharapkan mampu terjangkau oleh petani garam. Dengan begitu, inovasi teknologi inilah kedepannya dapat memenuhi kebutuhan garam di dalam negeri, dan bisa mewujudkan swasembada garam. 

 

Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) komitmen untuk mengembangkan inovasi pembuatan garam rakyat yang tak padat modal. Melalui Instalasi Pengembangan Sumber Daya Air Laut Pamekasan, Loka Riset Sumber Daya dan Kerentanan Pesisir, Pusat Riset Kelautan berupaya mengembangkan  dan meningkatkan produksi garam nasional serta peningkatan kualitas garam konsumsi dan industri.

 

Kepala BRSDM KP, Sjarief Widjaja mengatakan, petani atau petambak garam bisa memanfaatkan paket inovasi teknologi pengolahan garam sistem rekristal. Launching penerapan teknologi adaptif lokasi (PTAL) paket inovasi teknologi pengolahan garam sistem rekristal untuk menghasilkan olahan garam berkualitas telah dilaunching Selasa (8/12) lalu.

 

“ Uji lokasi PTAL 2020 terlaksana di 2 titik uji  produksi di Desa Pademawu Barat, 1 titik di Desa Bunder, dan 1 titik inti di pondok pesantren di Bangkalan,” kata Sjarief, di Jakata , Selasa (22/12).

 

Menurut Sjarief,  hasil uji produksi skala plasma PTAL di bawah binaan IPSAL Pamekasan ini, bisa menghasilkan 156 kilogram per hari. Artinya, kalau 20 hari kerja bisa mencapai 3 ton sebulan.

 

“ Coba bayangkan kalau bisa menghasilkan 3.000 ton setahun,petani garam tentu sejahtera karena dari harga bahan baku garam krosok Rp 300- Rp 550 per Kg setelah mendapat sentuhan inovasi teknologi PTAL Garam ini menjadi seharga Rp 4.900 per Kg,” papar Sjarief.

 

Sjarief mengatakan, dengan produksi yang dihasilkan, petambak garam  dapat memenuhi kebutuhan garam Madura, dengan rata-rata kebutuhan garam per orang per tahun pada 4 Kg

 

“ Untuk meningkatkan perekonomian, pihaknya juga berharap dapat dibangun koperasi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), dengan pembagian kelompok masyarakat yang bekerja di tambak, kelompok yang membuat produk, hingga kelompok pemasaran,” katanya.

 

Sjarief juga berharap, selain memproduksi garam konsumsi, petambak bisa juga membuat garam untuk kebugaran, seperti garam spa, refleksi, hingga nantinya dapat menjadi lokasi wisata. Artinya,  tempat pengolahan garam ini menjadi wisata edukasi, agar masyarakat dapat mengetahui bagaimana prosesnya.

 

Agar dapat dijual di pasaran, hingga ke supermarket, diharapkan produksi garam Pamekasan dapat didaftarkan ke BPOM. Kemudian,  memiliki sertifikasi dari Kementerian Kesehatan, Surat Izin Edar dari Kementerian Perdagangan, serta membuat kemasan dan brand yang menarik. 

 

"Mengenai pembiayaan, KKP memiliki dana pinjaman Badan Layanan Umum (BLU) Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP) berbiaya rendah, dengan bunga 3 persen per tahun," papar Sjarief.

 

Sjarief berharap, hasil inovasi teknologi ini bermanfaat dan dapat diadopsi dan dikembangkan oleh pemerintah daerah dan masyarakat luas demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama para petani garam di Indonesia. Inovasi teknologi ini diharapkan  mampu meningkatkan produktivitas serta kualitas garam yang dihasilkan sehingga dapat bernilai tinggi di pasaran.

 

Kepala Pusat Riset Kelautan dan Perikanan, I Nyoman Radiarta mengatakan, kegiatan PTAL TA. 2020 ini merupakan lanjutan kegiatan PTAL 2019 dengan kegiatan prioritasnya berupa melengkapi instrumen parsial alat PTAL garam serta scale down produksi menjadi produksi untuk skala rumah tangga (plasma). 

 

Skala produksi ini diharapkan kedepan akan berkembang menjadi contoh produksi garam rekristal berkonsep plasma-inti. Plasma oleh rumah tangga dan Inti oleh badan usaha yang mempunyai legalitas produksi di bidang garam konsumsi beryodium.

 

“ Pada skala plasma, tantangan modal yang kecil dan metode produksi yang sederhana menjadi titik prioritas. Sedangkan pada titik uji produksi skala IKM, peralatan lebih lengkap untuk mengejar volume produksi dan syarat menuju legalitas menjadi tujuan utamanya," kata Nyoman.

 

Menurut Nyoman, sistem rekristal garam ini dilakukan dengan memanfaatkan kalori dari sampah, maka terdapat 2 keuntungan, yaitu: 1) adanya hasil produksi garam rekristal, 2) berkurangnya volume sampah di TPA sehingga tidak perlu lagi adanya proses penimbunan dan pembukaan lokasi baru untuk membuang sampah.

 

Kegiatan Penerapan Teknologi Adaptif Lokasi (PTAL) Hasil Kelautan berupa Inovasi Produksi Garam Rekristal bertujuan untuk menghasilkan proses produksi garam yang efisien dan terjangkau, meningkatkan nilai jual garam K-3, serta memanfaatkan permasalahan sampah menjadi kalori untuk proses produksi garam sistem rekristal dengan mengembangkan alat yang mendukung seperti mesin press sampah untuk mendukung kegiatan produksi garam.

 

Pada uji produksi garam rekristal PTAL Garam ini, pemanfaatan fragmen sampah dikombinasi dengan sistem mekanis dengan penambahan alat diskmill, alat peniris (spinner), mesin press sampah, dioksin reducer, serta alat pengering berputar (rotary dryer)  yang memanfaatkan sisa panas yang ada pada cerobong.

 

 Kami berharap, titik produksi garam rekristal skala plasma yang ada di Desa Pademawu Barat ini menjadi pemantik budaya produksi garam krosok yang berkembang menjadi budaya mengolah garam, memperluas lapangan kerja dan mendekatkan pasar garam krosok di sentra produksinya," jelas Nyoman.

 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018