Wednesday, 21 October 2026


Trash Barrier, Hadang Sampah Agar Tak Mengalir ke Laut

07 Dec 2022, 08:39 WIBEditor : Gesha Yuliani Nattasya

Trash Barrier di Sungai Citarum

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menghadang sampah dari aliran sungai agar tak sampai ke lautan. Salah satunya dengan trash barrier yang diprakarsai Citarum Repair dari Greeneration Foundation. 

Sebuah benda berwarna kemerahan seperti pelampung yang berderet, terlihat mengapung di Daerah Aliran Sungai Citarum yang bermuara di Laut Jawa. Alat itu disebut trash boom atau trash barrier.

Teknologi trash barrier umum digunakan di berbagai tempat di luar negeri, terutama di daerah-daerah dengan perairan seperti pantai, sungai, danau, atau daerah-daerah yang memiliki banyak ssampah Trash barrier dapat membantu mengendalikan aliran air di sekitar wilayah tersebut dan mencegah limbah atau sampah dari masuk ke dalam air, sehingga dapat membantu menjaga kebersihan lingkungan. Trash barrier juga dapat digunakan untuk mencegah kerusakan lingkungan akibat sampah yang masuk ke dalam air, seperti kerusakan ekosistem dan gangguan kesehatan manusia.

Di Indonesia, teknologi ini tergolong baru dan belum umum digunakan. Padahal, Indonesia punya setidaknya 5.590 aliran sungai utama yang sebagian besar bermuara ke lautan.

Secara tradisional, trash barrier bisa dibuat dari jaring bahkan jerigen yang dirangkai memanjang. Biasanya, trash barrier terbuat dari bahan-bahan yang tahan terhadap air dan iklim, dan terpasang di sepanjang pantai atau di sekitar bersih sungai untuk mencegah limbah masuk ke dalam air.

Citarum Repair dari Greeneration Foundation pun mencoba memanfaatkan alat tersebut dan menggunakannya di Sungai Citarum untuk menangkap dan menghadang sampah menuju muara dan lautan. Alat ini juga digunakan untuk menangkap eceng gondok agar bisa dimanfaatkan untuk bahan kerajinan tangan masyarakat sekitar.

Alat ini mudah untuk dipasang serta dioperasikan selama 24 jam non stop untuk menangkap sampah. Trash barrier yang terbuat dari besi dan baja juga tahan korosi dan kokoh, jika dibandingkan penangkap tradisional.

Alat dipasang melintang dari tepi sungai ke tepi sungai lainnya. Setelah dipasang, alat akan berfungsi otomatis menangkap sampah yang hanyut melewatinya. Pemasangan alat bisa dilakukan di muara sungai untuk mencegah sampah masuk ke lautan. Namun, perlu juga memperhatikan lokasi bantaran yang terjangkau moda transportasi agar proses pengangkutan sampah bisa dilakukan dengan mudah.

Trash Barrier yang dipasang oleh Citarum Repair di Sungai Citarum memiliki panjang 30 meter dan dilengkapi dengan sistem conveyor untuk mengangkut sampah yang sudah terjebak, dengan memanfaatkan tenaga surya. Sampah akan diarahkan menggunakan jaring ke mulut conveyor. Setelah itu mesin akan bergerak untuk memindahkan sampah ke darat.

Data dari Greeneration Foundation, sejak digunakan Desember 2021 silam, trash barrier sudah menangkap lebih dari 150 ton sampah. Berat tersebut setara dengan berat 40 ekor Gajah Sumatera. Sampah tersebut dikelola lebih lanjut bersama industri daur ulang.

Itu pun hanya dari satu bagian Sungai Citarum yang didapatkan. Bisa dibayangkan berapa banyak sampah yang bisa didapatkan dari luasan Sungai Citarum yang merupakan sungai terpanjang di Jawa Barat dan menjadi sumber air minum untuk masyarakat di Jakarta, Bekasi, Karawang, Purwakarta, dan Bandung ini?

Pengelolaan sampah sejak dari aliran sungai menjadi penting bagi pengelolaan sampah dari lautan. Sebab sungai selama ini jadi jembatan yang mengalirkan sampah yang dihasilkan di daratan ke laut. Menariknya, kebanyakan sungai yang membawa banyak sampah adalah sungai-sungai kecil yang berada di sekitar pemukiman padat penduduk, bukan dari sungai-sungai besar.

 

 

Reporter : Gesha
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018