Thursday, 22 October 2026


Terumbu Karang Bali Terancam, IPB Kenalkan Inovasi Substrat Semen di Bondalem

02 Oct 2026, 09:32 WIBEditor : Gesha

IPB kenalkan terumbu buatan substrat semen untuk pulihkan ekosistem laut dan wisata Bondalem Bali.

TABLOIDSINARTANI.COM, Buleleng – Menghadapi tantangan pemulihan ekosistem pesisir, IPB University mengenalkan inovasi terumbu buatan berbahan substrat semen di Bondalem.

Ancaman terhadap ekosistem terumbu karang di Bali Utara mendorong IPB University menghadirkan inovasi baru untuk membantu pemulihan kawasan pesisir. 

Melalui program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) 2026, IPB memperkenalkan terumbu buatan berbahan substrat semen kepada masyarakat Desa Bondalem, Kabupaten Buleleng, Bali.

Inovasi tersebut diperkenalkan dalam kegiatan sosialisasi yang digelar Sabtu, 12 September 2026. 

Kegiatan ini menyasar masyarakat lokal yang selama ini telah terlibat dalam konservasi terumbu karang dan wisata bahari.

Meski kawasan konservasi perairan daerah (KKPD) Bondalem memiliki tutupan karang hidup yang tergolong baik, yakni lebih dari 60 persen, kondisi di luar kawasan pesisir tersebut menghadapi persoalan berbeda.

Area pesisir luar banyak didominasi dasar berpasir atau sandy bottom dan pecahan karang (rubble) yang tidak stabil. 

Kondisi tersebut, ditambah arus serta limpasan sedimentasi dari daratan ketika musim hujan, membuat larva karang atau planula sulit menempel secara alami.

Di titik inilah terumbu buatan berbahan substrat semen yang diperkenalkan IPB University diharapkan bisa memainkan peran.

Struktur buatan tersebut dirancang untuk menyediakan permukaan dan ruang yang lebih sesuai bagi pembentukan koloni biota laut, khususnya biota sesil dan biota kriptik.

Sebanyak 25 anggota kelompok masyarakat lokal mengikuti sosialisasi yang digelar tim Dospulkam IPB University melalui Lembaga Pengembangan Agromaritim dan Akselerasi Innopreneurship (LPA2I).

Tim dipimpin Dr. Ir. Nyoman Metta N. Natih, M.Si., dari Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan (ITK), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University.

Anggota tim lainnya yakni Dr. Beginer Subhan, S.Pi., M.Si., Nadya Cakasana, S.Kel., M.Si., dari Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, serta Dr. Inna Puspa Ayu, S.Pi., M.Si., dari Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK IPB University.

Dalam kegiatan tersebut, masyarakat Bondalem tidak hanya dikenalkan pada konsep terumbu buatan. 

Tim IPB juga memberikan pemahaman mengenai bagaimana struktur khusus dapat digunakan untuk menyediakan habitat bagi berbagai biota laut.

Salah satu inovasi yang diperkenalkan berupa settlement plate dan rak berbahan substrat semen. 

Modul tersebut dibuat dengan rongga dan permukaan yang kasar sehingga diharapkan lebih ramah terhadap penempelan serta pertumbuhan biota laut.

Masyarakat juga mendapat penjelasan mengenai proses pembuatannya, mulai dari pencampuran semen dan pasir, teknik pencetakan modul, hingga proses pengondisian sebelum struktur ditempatkan di dasar perairan.

Pendekatan ini melengkapi metode konservasi yang selama ini telah dikenal masyarakat, termasuk transplantasi karang.

Melalui teknologi tersebut, masyarakat diharapkan tidak hanya berfokus pada pemindahan atau penanaman karang, tetapi juga memahami pentingnya menyediakan struktur habitat yang kompleks untuk mendukung kehidupan berbagai organisme laut.

Ketua Tim Dospulkam IPB University Dr. Ir. Nyoman Metta N. Natih, M.Si., mengatakan program tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta tingkat adopsi inovasi masyarakat pesisir, terutama dalam pemulihan ekosistem terumbu karang.

Menurutnya, pemanfaatan substrat semen sebagai media terumbu buatan diharapkan dapat menciptakan struktur habitat yang lebih stabil dan kompleks.

“Kami berharap melalui pemanfaatan substrat semen sebagai media terumbu buatan, perairan lokal tidak hanya memiliki struktur habitat yang lebih stabil dan kompleks, tetapi juga mempunyai keanekaragaman biota laut serta nilai tambah ekotourism yang lebih baik,” ujarnya.

Inovasi tersebut, kata dia, bukan teknologi yang muncul secara tiba-tiba. 

Teknologi telah dikembangkan melalui penelitian terapan akademisi IPB University dan menunjukkan hasil positif dalam memicu kolonisasi serta penempelan biota sesil dan kriptik.

Hasil penelitian tersebut kemudian dibawa lebih dekat kepada masyarakat melalui program Dospulkam.

Dengan begitu, kegiatan ini menjadi jembatan antara hasil riset perguruan tinggi dengan kebutuhan konservasi di tingkat masyarakat pesisir.

Tak hanya berbicara soal ekologi, terumbu buatan juga memiliki peluang untuk mendukung pengembangan wisata bahari di Bali Utara.

Struktur terumbu buatan yang ditempatkan di area berpasir berpotensi membentuk titik penyelaman baru atau dive site. 

Kehadiran lokasi tersebut diharapkan dapat menambah pilihan atraksi bawah laut bagi wisatawan dan penyelam.

Pada saat yang sama, keberadaan titik penyelaman tambahan berpotensi membantu mengurangi konsentrasi aktivitas penyelaman di kawasan karang alami yang sensitif.

Artinya, konservasi dan pariwisata bahari bisa berjalan beriringan. 

Kawasan yang sebelumnya berupa dasar berpasir dapat diarahkan menjadi habitat baru, sementara wisatawan memperoleh alternatif lokasi untuk menikmati ekosistem bawah laut.

Dalam pelaksanaan Dospulkam 2026, IPB University menggandeng Bondalem Eco Dive.

Kelompok masyarakat lokal ini aktif dalam konservasi terumbu karang dan pengembangan wisata bahari di Desa Bondalem.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat transfer pengetahuan dan teknologi tepat guna mengenai pemanfaatan terumbu buatan berbahan substrat semen.

Masyarakat Bondalem sebenarnya telah memiliki pengalaman dalam kegiatan konservasi, terutama melalui transplantasi karang. 

Namun, pemahaman mengenai pemanfaatan struktur khusus sebagai media pembentukan habitat baru masih terus diperluas.

Melalui diskusi interaktif, anggota Bondalem Eco Dive mendapat edukasi mengenai fungsi ekologis kompleksitas struktur terumbu buatan.

Struktur yang memiliki rongga, celah, serta permukaan kasar dapat menyediakan ruang bagi biota kriptik sekaligus menjadi media penempelan bagi biota sesil.

Dekan FPIK IPB University Dr. Beginer Subhan, S.Pi., M.Si., menegaskan bahwa penerapan hasil riset ke tingkat masyarakat menjadi bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam menjaga ekosistem laut.

“FPIK IPB University berkomitmen untuk tidak hanya melahirkan riset di atas kertas, tetapi juga mendorong hilirisasi inovasi yang dapat diadopsi langsung oleh masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, penguatan teknologi substrat semen diharapkan dapat membantu pemulihan ekosistem pesisir Bondalem sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat lokal.

Dengan demikian, inovasi yang dikembangkan di lingkungan kampus tidak berhenti sebagai hasil penelitian. 

Teknologi tersebut diarahkan agar bisa digunakan masyarakat untuk menjawab persoalan nyata di lapangan.

Sosialisasi yang dilakukan pada September 2026 menjadi tahap awal dari rangkaian kegiatan pemulihan ekosistem laut di Bondalem.

Setelah modul terumbu buatan selesai dipersiapkan, struktur tersebut akan ditempatkan di dasar perairan.

Tahap berikutnya adalah monitoring secara berkala.

Pemantauan dilakukan untuk melihat perkembangan rekrutmen biota laut sekaligus mengevaluasi manfaat struktur buatan terhadap ekosistem.

Langkah tersebut menjadi penting karena keberhasilan terumbu buatan tidak hanya ditentukan dari pemasangannya. 

Perkembangan koloni biota dan kondisi struktur di dalam perairan perlu dipantau dari waktu ke waktu.

Lewat kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat lokal, IPB University berharap inovasi substrat semen dapat menjadi salah satu pilihan teknologi dalam pemulihan ekosistem pesisir Bondalem.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018