Sabtu, 17 Agustus 2019


Daya Beli Pembudidaya Ikan Terus Membaik

14 Jun 2019, 16:39 WIBEditor : Gesha

Selain NTPi-nya naik, secara nasional pendapatan pembudidaya ikan juga mengalami kenaikan dari sebelumnya Rp 3,03 juta menjadi Rp 3,3 juta/bulan pada tahun 2019, atau naik 8,9 %. | Sumber Foto:HUMAS DITJEN BUDIDAYA

Jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya terjadi peningkatan sebesar 0,49 %, dari 114,38 (April 2019) menjadi 114,94 (Mei 2019).

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta ---- Daya beli pembudidaya ikan selama dua bulan terakhir mengalami peningkatan signifikan. Indikator kenaikan daya beli pembudidaya ikan tersebut dapat dilihat dari angka nilai tukar pembudidaya ikan (NTPi) dua bulan terakhir masih stabil diatas 100. Bahkan, kenaikan angka NTPi tersebut juga didorong oleh nilai tambah profit usaha budidaya yang terus membaik.

Direktur Jenderal (Dirjen) Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto mengatakan, hingga Mei 2019 angka  NTPi memperlihatkan kecenderungan tumbuh positif. Membaiknya angka NTPi ini menunjukkan trend perbaikan daya beli masyarakat pembudidaya sejak tahun 2018 lalu dan berlanjut sampai Mei 2019.

“Kita patut bersyukur , meskipun disisi lain ada kecenderungan kenaikan inflasi terhadap barang konsumsi jelang dan beberapa waktu pasca lebaran. Namun, dengan naiknya NTPi ini, kita berharap masyarakat pembudidaya tidak terpengaruh besar oleh dampak inflasi yang biasa terjadi di hari raya lebaran,” kata Slamet Soebjakto, di Jakarta, Jumat (14/6).

Merujuk data yang dirillis Badan Pusat Statistik (BPS), Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) Mei 2019 tumbuh 1,09 % dibandingkan bulan yang sama tahun 2018, yaitu dari 100,89 (Mei 2018) menjadi 101,99 (Mei 2019).

Artinya daya beli pembudidaya ikan pada Mei tahun 2019 mengalami perbaikan dibandingkan bulan yang sama tahun 2018. Sementara itu jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya terjadi peningkatan sebesar 0,23 %, yaitu dari 101,76 (April 2019) menjadi 101,99 (Mei 2019).

 

Slamet Soebjakto mengatakan, naiknya NTPi pada Mei 2019 terjadi karena indeks harga yang diterima pembudidaya (IT) naik sebesar 0,67 %, lebih besar dari kenaikan indeks harga yang dibayar pembudidaya (IB) sebesar 0,44 %.

Nah, kenaikan IT disebabkan oleh naiknya harga sebagian jenis komoditas, khususnya ikan mas dan ikan nilem. Sementara kenaikan IB disebabkan oleh naiknya indeks kelompok konsumsi rumah tangga (KRT) sebesar 0,57 ?n indeks kelompok biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) sebesar 0,18 %.

Sedangkan nilai tukar usaha pembudidaya ikan (NTUPi) Mei 2019 tumbuh 1,43 % dibandingkan bulan yang sama tahun 2018, yaitu dari 113,32 (Mei 2018) menjadi 114,94  (Mei 2019).

Sementara itu jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya terjadi peningkatan sebesar 0,49 %,  dari 114,38 (April 2019) menjadi 114,94 (Mei 2019).

Menurut Slamet, berbagai dukungan langsung kepada pembudidaya ikan tampaknya memberikan dampak positif pada perbaikan struktur ekonomi masyarakat.

Selain NTPi-nya naik, secara nasional pendapatan pembudidaya ikan juga mengalami kenaikan dari sebelumnya Rp 3,03 juta menjadi Rp 3,3 juta/bulan pada tahun 2019, atau naik 8,9 %.

Naiknya daya beli pembudidaya ikan tersebut lanjut Slamet, akan berdampak terhadap menguatnya fondasi pembudidaya  ikan di tanah air. Hal itu bisa dilihat dari menggeliatnya usaha budidaya ikan di sejumlah daerah.

“Penguatan kapasitas usaha juga membaik. Hal ini tak lepas dari keberhasilan pembudidaya ikan untuk melakukan efisiensi produksi. Sehingga,  profit pembudidaya pun bertambah,” papar Slamet.

Implementasi APPIK

Guna mendorong efisiensi produksi dan mendongkrak kesejahteraan pembudidaya ikan,  Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah mengaplikasi sejumlah program unggulan.

Diantaranya, dukungan pakan mandiri, pengembangan usaha budidaya sistem bioflok, pengembangan minapadi, asuransi perikanan untuk pembudidaya ikan kecil (APPIK), dukungan input produksi (induk dan benih), rehabilitasi kawasan budidaya, pengembangan budidaya rumput laut dan dukungan langsung lainnya.

Menurut Slamet,  program APPIK yang telah diimplemtasi KKP sejak tahun 2017 lalu telah berpengaruh nyata terhadap aktivitas usaha budidaya karena mampu memberikan jaminan usaha, motivasi dan semangat bagi para pembudidaya.

Tercatat, hingga tahun 2018 cover asuransi APPIK telah mencapai 13.520 ha. “Kalau pada tahun 2017 program APPIK diperuntukkan bagi usaha budidaya udang, maka sejak tahun 2018 juga telah mengcover komoditas lainnya yaitu patin, nila salin, nila tawar, dan bandeng baik dengan metode monokultur atau polikultur untuk komoditas air payau,” kata Slamet.

Sedangkan untuk nilai premi untuk udang sebesar Rp 225 ribu/ha/tahun dengan maksimum pertanggungan sebesar Rp 7,5 juta/ha/tahun. Untuk ikan patin per tahunnya sebesar Rp 90 ribu/ 250 m2 kolam dengan maksimum pertanggungan sebesar Rp 3 juta/tahun/250 m2.

Nilai premi untuk ikan nila air tawar per tahunnya sebesar Rp 135 ribu/200 m2 kolam dengan maksimum pertanggungan sebesar Rp 4,5 juta/tahun/200 m2.

Slamet juga mengatakan, untuk nila payau preminya Rp 150 ribu/ha/ tahun dengan nilai pertanggungan maksimum sebesar Rp 5 juta/ha/ tahun. Komoditas lainnya yaitu bandeng premi per tahunnya hanya sebesar Rp 90 ribu/ha, dan polikultur Rp 225 ribu/ha dengan maksimum pertanggungan Rp 3 juta dan 7,5 juta/ha.

“Saat ini sudah masuk Juni 2019/ Karena itu, kepada seluruh satker lingkup DJPB untuk segera mempercepat realisasi program-program prioritas yang sudah ditetapkan. Saya yakin, ini akan menjadi faktor pengungkit yang cukup signifikan untuk terus meningkatkan nilai NTPi maupun NTUPi,” pungkas Slamet. 

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018