Sabtu, 07 Desember 2019


Cegah Stunting , KKP Gelar Gemarikan di Garut

09 Agu 2019, 16:32 WIB

Mengkonsumsi ikan mampu mengatasi gizi buruk. Karena itu, KKP mengajak masyarakat di daerah yang saat konsumsi ikannya masih rendah diharapkan bisa meningkatkan konsumsi ikannya. | Sumber Foto:HUMAS KKP

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Garut-- Program Gerakan Makan Ikan (Gemarikan) hingga saat ini terus dikumandangkan  Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di sejumlah daerah yang ditengarai konsumsi ikannya masih rendah.  Kali ini, sosialisasi Gemarikan digencarkan di Kabupaten Garut, Jawa Barat yang konsumsi ikannya rendah dan angka stuntingnya masih tinggi.

Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Ekologi dan Sumber Daya Laut, Aryo Hanggono mengatakan peningkatan konsumsi ikan ini menjadi penting karena kandungan gizi pada ikan mampu mengatasi masalah hambatan pertumbuhan (stunting) yang melanda di beberapa daerah di Indonesia.

“Saat ini baru 3 Provinsi di Indonesia yang lepas dari masalah stunting. Mengingat Provinsi Jawa Barat belum terlepas dari masalah stunting, maka kegiatan Safari Gemarikan  di sini dilaksanakan berkolaborasi dengan berbagai pihak,” kata Aryo, saat kunjungan kerja bersama  dengan perwakilan dari Kementerian Pertanian (Kementan), anggota Komisi XI DPR RI dan anggota IV BPK RI di Situ Bagendit,  Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Jumat (9/8).

Aryo Hanggono mengungkapkan,  mengkonsumsi ikan mampu mengatasi gizi buruk. Karena itu, KKP mengajak masyarakat  di daerah yang saat konsumsi ikannya masih rendah diharapkan bisa meningkatkan konsumsi ikannya. “Salah satu daerah yang konsumsi ikannya masih rendah adalah di Garut. Karena itu, kami mohon masyarakat mulai berpaling ke ikan yang banyak gizinya dan menyehatkan,” papar Aryo.

Data KKP menyebutkan, angka  konsumsi ikan Kabupaten Garut  pada tahun 2018 hanya sebesar 20,70 kg/kapita (setara ikan utuh segar). Artinya, konsumsi ikan di Kabupaten Garut masih di bawah angka konsumsi ikan Provinsi Jawa Barat 29,64 kg/kapita. Jumlah ini bahkan jauh di bawah angka konsumsi ikan nasional yang sebesar 50,69 kg/kapita. 

Menurut Aryo, kondisi yang hampir sama bukan hanya terjadi  di Garut. “Masih banyak daerah yang tingkat konsumsinya rendah. Makanya kami akan lakukan sosialisasi Gemarikan di sejumlah daerah yang konsumsi ikannya masih rendah,” ujarnya.

Aryo juga mengatakan, ikan menjadi salah satu bagian penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan nasional. Oleh karena itu, ketersediaan ikan  harus cukup, baik diperoleh dari perikanan tangkap maupun hasil budidaya.

Guna menjaga ketersediaan ikan, KKP juga melakukan  restocking. Salah satu cara yang dilakukan adalah  dengan  menebar benih ikan nilem di Situ Bagendit ini. Ikan yang ditebar di Situ Bagendit ini nantinya bisa dimanfaatkan masyarakat sekitar sebagai sumber ikan air tawar yang berkelanjutan.

Mencerdaskan Anak

Dalam kesempatan yang sama,  Bupati Garut, Rudy Gunawan mengungkapkan, ikan menjadi bagian penting dari upaya mencerdaskan dan meningkatkan gizi anak-anak Garut yang saat ini jumlah mencapai 400 ribu jiwa dari total jumlah 2,7 juta penduduk Garut. “Bila ini (upaya peningkatan konsumsi ikan) terus dilaksanakan maka akan tercipta generasi emas pada tahun 2045 mendatang,” kata Rudy.

Selain terus melakukan sosialisasi Gemarikan di Garut, Rudy juga mengapresiasi sejumlah program bantuan pemerintah pusat untuk mengatasi angka kemiskinan  di Garut. Tercatat, angka kemiskinan di Garut saat ini sudah turun sebesar 2% , yaitu dari 11,27%  pada tahun (2017) menjadi 9,27%  pada tahun (2018). Kontribusi bantuan yang diberikan pemerintah pusat di Garut sangat besar terutama untuk menurunkan angka kemiskinan,” kata Rudy.

Anggota IV BPK RI, H. Rizal Djalil mengatakan,  KKP dan Kementan merupakan kementerian yang mempunyai daya ungkit yang signifikan untuk mendongkrak kesejahteraan rakyat. “Kami siap mengawal agar setiap bantuan yang diberikan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Rizal Djalil.

Dalam kesempatan tersebut,  KKP memberikan bantuan sebesar  Rp44,6 miliar. Rinciannya adalah Rp41,2 miliar untuk pengembangan perikanan tangkap, Rp 777 juta di bidang perikanan budidaya, Rp1,4 miliar untuk penguatan daya saing, Rp142 juta untuk riset dan pengembangan sumber daya manusia, dan Rp 150 juta bantuan permodalan melalui  Badan Layanan Umum Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (BLU LPMUKP).

KKP juga memberikan bantuan langsung ke masyarakat berupa kapal kurang dari 5 GT dan alat penangkapan ikan gillnet. Bantuan ini diharapkan bisa mendukung peningkatan produksi perikanan tangkap dengan mengutamakan kelestarian sumber daya ikan melalui penggunaan alat penangkapan ikan yang ramah lingkungan. Selain itu KKP juga memberi bantuan sarana distribusi dan sistem rantai dingin untuk mempertahankan mutu kesegaran dalam bentuk kendaraan berpendingin, chest freezer, dan ice flake machine.

BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018