Wednesday, 21 October 2026


Bermodalkan Rp 10 Ribu, KWT Bina Pertani Sukses Garap Pekarangan

11 Jun 2020, 19:41 WIBEditor : Yulianto

Ketua KWT Bina Pertani, Widarmi

TABLOIDSINARTANI.COM, Lampung Tengah---Dengan hanya bermodalkan uang sebesar Rp 10 ribu, kalangan ibu rumah tangga di Kampung Liman Benawi, Kecamatan Trimurjo, Kabupaten Lampung Tengah, kini sukses membangun rumah pangan lestari. Bahkan emak-emak di kampung tersebut tak lagi tergantung suami untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Jauh hari sebelum pandemi Covid-19 melanda negeri ini, tepatnya 9 November 2012, Ibu-ibu di Kampung Liman Benawi berinisiatif membentuk Kelompok Wanita Tani (KWT) yang diberi nama Bina Pertani.  Pembentukan KWT bertujuan untuk mengisi waktu luang mereka agar lebih produktif.

“Mereka yang memang sudah memiliki kemampuan bertani yang baik karena terbiasa membantu suami di ladang, kami ajak membuat kegiatan dengan menanam sayuran di pekarangan,” kata Penyuluh Pertanian yang bertugas membina Kampung Liman Benawi, Retno Sawitri.

Retno mengatakan, bermodal swadaya dengan iuran sebesar Rp 10.000 masing- masing anggota KWT dibelikan sarana untuk menanam sayuran di pekarangan. Diantaranya, bibit sayuran seperti, selada, bayam, sawi dan polybag sebagai wadah media tanamnya. “Untuk bibit cabe, tomat, rampai, terong mereka bisa menyediakannya sendiri,” katanya.

Dengan keterbatasan modal untuk membeli polibag, ungkap Retno, membuat kalangan ibu rumah tangga berfikir keras. Akhirnya, diperoleh ide menggunakan barang bekas seperti kemasan minyak, gelas air mineral dan juga kantong bekas semen untuk tempat penanaman. “Bermodal semangat, ibu-ibu semakin giat menanam sayuran di pekarangan rumah mereka,” ujarnya. 

Untuk pemasaran, menurut Retno, mereka menjual hasil sayurannya langsung ke pasar terdekat. Sebagian lagi yang sudah memiliki pelanggan yang datang membeli di rumah masing-masing. “Keadaan ini berlangsung fluktuatif. Keterbatasan modal, perubahan perilaku pasar juga sarana produksi menyebabkan kegiatan para ibu ini timbul tenggelam,” paparnya.

Galang kekuatan bersama

Sementara itu Ketua KWT Bina Pertani, Widarmi mengatakan, keinginan mereka sederhana yakni ingin menggalang kekuatan dalam usaha bersama atas dasar tolong menolong. Karena itu, usaha yang selama ini mereka jalankan dapat dipertahankan dan ditingkatkan secara kontinue, sehingga bisa memperoleh penghasilan yang layak, terukur, periodik dan berkesinambungan.

KWT Bina Pertani kini beranggotakan 45 orang dengan jenis usaha yaitu budidaya tanaman hortikultura dan biofarmaka. Kegiatan penunjang lainnya yaitu membuat kerajinan gantungan bunga/sayur, tabungan, melukis di caping dan pembuatan jus pakcoy.

“Ke depan, kami bercita- cita untuk mengembangkan pemasaran produk kami, memiliki showroom produk dan mengembangkan pertanian organik yang sehat dan aman bagi kesehatan untuk produk sayuran kami,” tutur Widarmi.

Kegiatan KWT Bina Pertanian menjadi salah satu bagian program Kementerian Pertanian yakni Pekarangan Pangan Lestari (P2L). Program itu berlangsung sejak tahun 2010 dengan nama Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL).

Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mendukung program pemerintah untuk penanganan daerah prioritas intervensi stunting dan penanganan prioritas daerah rentan rawan pangan atau pemantapan daerah tahan pangan.

Salah satu kegiatannya melalui pemanfaatan lahan pekarangan, lahan tidur dan lahan kosong yang tidak produktif. Lahan tersebut diharapkan dapat memenuhi pangan dan gizi rumah tangga. Ke depannya berorientasi pasar untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga.

P2L sendiri merupakan kegiatan yang dilaksanakan kelompok masyarakat secara bersama-sama dalam mengusahakan lahan pekarangan sebagai sumber pangan secara berkelanjutan. Tujuannya untuk meningkatkan ketersediaan, aksesibilitas dan pemanfaatan, serta pendapatan.

Seperti diketahui di tengah pandemi Covid 19 dan kebijakan pemerintah yang memberlakukan New Normal, memaksa setiap orang selain tinggal di rumah dan menjaga jarak juga mengikuti seluruh protokol kesehatan demi memutus mata rantai penyebaran virus.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) berkali-kali menegaskan pentingnya mempercepat tanam dan memanfaatkan setiap jengkal lahan kosong untuk ditanami tanaman yang cepat panen di masa pandemi Covid-19.

"Dalam menghadapi krisis yang ada, pertanian menjadi pilihan untuk bisa survive. Karena itu, mari kita menggalakkan pertanian, tidak perlu dengan lahan besar. Di family farming atau lahan-lahan Keluarga di sekitar rumah kita menjadi sangat penting," ujar SYL.

Sementara itu Kepala Bada Penyuluhan dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian, Dedi Nursyamsi juga menegaskan, sektor pertanian mempunyai peranan yang sangat penting, apalagi saat wabah Covid- 19. “Sektor yang lain mungkin terhenti dengan adanya Covid 19, namun sector pangan harus tetap berjalan, karena seluruh rakyat Indonesia membutuhkan pangan,” katanya.

 

Reporter : Seftiana
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018