Tuesday, 27 October 2020


Penuhi Pangan dan Tambah Kocek Keluarga, KWT Jawai Optimalkan Pekarangan

24 Aug 2020, 14:21 WIBEditor : Yulianto

KWT Jawai manfaatkan pekarangan untuk kebutuhan pangan keluarga dan menambahkan pendapatan | Sumber Foto:BBPP Ketindan

TABLOIDSINARTANI.COM, Sambas---Pemanfaatan lahan pekarangan kini menjadi fokus perhatian pemerintah saat pendemi Covid-19. Pemanfaatan sumberdaya di sekitar lingkungan untuk pemenuhan gizi dilakukan dengan memberdayakan wanita tani. Hal ini penting agar sumber pangan secara berkelanjutan tetap terjaga, bahkan bisa menambah pendapatan keluarga.

Senyum Pauziah nampak tersungging melihat tanaman sayuran di pekarangannya tumbuh subur, bahkan tanaman cabainya sudah mulai berbuah. Anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Serai Wangi II Desa Sentebang Kecamatan Jawai mengaku senang bisa menanam dan memanen sayuran dari pekarangan rumahnya.

Bersama beberapa anggota lainnya, Pauziah memang sudah lama memanfaatkan pekarangan rumah untuk menambah penghasilan keluarga. Bahkan hasil panen ubi jalar bisa dijual sebagai makanan pengganti nasi yang sehat, sehingga uangnya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan lainnya.

Paling tidak kami tak perlu mengeluarkan biaya untuk sekedar memakan sayur segar yang sehat dan memasak lauk-pauk, karna sudah tersedia dipekarangan rumah masing-masing,” tuturnya.

Di tengah pandemi Covid-19, sektor pertanian memang tidak boleh berhenti. Bahkan peran penyuluh pertanian melalui Kostratani justru menjadi sangat penting untuk meningkatkan produksi pertanian.

Koordinator Penyuluh Pertanian Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas, Darma Irawan mengatakan, untuk mewujudkan program Kostratani, salah satunya melalui pemanfaatan lahan pekarangan. Bahkan setiap jengkal tanah harus ditanami tanaman yang bisa berproduksi dengan cepat. Jenisnya pun harus bermacam-macam agar kecukupan gizi bisa beragam,” ujarnya.

Menurut Darma, setiap pelaku pertanian, baik antara penyuluh dan petani harus mewujudkan ketahanan pangan keluarga. Dengan demikian, kerawanan pangan bisa diminimalisir sedini mungkin. Apalagi yang ditanam adalah sumber pangan lokal pengganti nasi, seperti keladi, ubi jalar dan singkong.

Pemanfaatan setiap lahan pekarangan yang ada, wanita tani dapat menanam jenis obat-obatan dan sayuran. Jenisnya adalah tanaman rempah rumah tangga seperti  jahe, kunyit, temulawak, lengkuas, serai.

Sedangkan sayuran yang ditanam adalah cabe rawit, bayam, kangkung, kacang panjang, gambas, sawi dll. Selain itu petani juga menanam ubi jalar, ubi kayu dan talas. “Optimalisasi pekarangan rumah ini tentu akan menjaga kecukupan pangan keluarga yang artinya sama dengan menjaga pangan nasional,” katanya.

Dengan menanam sayuran di pekarangan, menurut Darma, masyarakat tidak perlu lagi membeli sayuran karena sudah tersedia dan kapan saja bisa dipetik. Bahkan lebih segar dan yang pasti aman untuk dikonsumsi, karena tanpa penggunaan bahan kimia. Sehingga asupan gizi yang masuk ke dalam tubuh juga baik dan bisa membuat imunitas tubuh menjadi kuat,” katanya.

Kepala Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian, Dedi Nursyamsi mengatakan, penyuluh dan petani bekerja dalam mempertahankan ketersediaan pangan didaerah. Mereka adalah pahlawan pangan di tengah pandemi Covid-19 untuk memastikan hasil yang berkali lipat.

“Untuk mendukung program Kostratani, petani harus terus didorong agar dapat melakukan hilirisasi kegiatan usaha taninya baik secara onfarm maupun outfarm. Pertanian merupakan garda terdepan dalam pencegahan infeksi Covid-19 ini,” tegas Dedi.

Sementara itu dalam berbagai kesempatan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, upaya membangun ketahan pangan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Semua sektor harus mengambil peran. Pemerintah, peneliti, praktisi, pakar pertanian, insan pertanian, penyuluh dan petani harus bersinergi.

“Kita harus memastikan bahwa pertanian tidak boleh terhenti didalam memenuhi kebutuhan pangan 267 juta jiwa penduduk di Indonesia. Bekerjalah dengan semangat mewujudkan kemandirian pangan, saatnya kita menjadi pahlawan bagi bangsa Indonesia,” tutur SYL.

Reporter : Darma Irawan/ Yeniarta (BBPP KETINDAN)
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018