Saturday, 19 September 2020


Bentang (18)

29 Aug 2020, 11:09 WIB

Novel Memed Gunawan | Sumber Foto:Ahmad Soim

Kita telah dijajah oleh keinginan, dan semua keinginan itu adalah kenikmatan. Sementara untuk mengejarnya kita diajari untuk tidak menyertakan kepedihan dalam perjuangan. Itu yang membuat kita bingung.

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Iya Kang. Suasana ini yang harus diciptakan di rumah. Sebenarnya apa yang salah telah kita lakukan sehingga keadaan di rumah selalu terasa tegang?” kata Murniasih.

Marbun tercenung. Badannya disandarkan di kursi malas. Matanya masih menerawang. Malam sudah larut, anak-anak sudah masuk ke kamarnya. Hanya Wulan yang mendapat satu kamar berukuran 3x3 meter sendirian, sedangkan 7 anak laki-laki lainnya menempati 3 kamar yang berukuran besar.

“Mengapa?” tanya Marbun.

“Kita telah bercita-cita memperoleh sesuatu yang selalu kesenangan duniawi barangkali, Kang. Kita berangan-angan agar kita berkecukupan harta, berpendidikan tinggi, bisa mandiri dalam kehidupan, terbebas dari segala macam kesulitan,” kata Murniasih.

Marbun masih diam, hanya kepalanya yang mengangguk-angguk.

BACA JUGA:

Bentang (17)

Gila atau Hebat (16)

Indahnya Tekad (15)

Perjuangan Lanjutan (10)

Perjuangan Marbun (9)

Memed Gunawan dan 13 Karya Buku Novel dan Puisinya

 

 “Lalu kita menyalahkan diri sendiri dan menyatakan kegagalan ketika kita belum mencapainya. Itulah yang membuat kita kecewa.”

“Kang, kita telah dijajah oleh keinginan, dan semua keinginan itu adalah adonan kenikmatan. Sementara untuk mengejarnya kita diajari untuk tidak menyertakan kepedihan ketidakberhasilan sebagai pengalaman yang bermanfaat. Itu yang membuat kita bingung. Kita takut akan kegagalan, apalagi kalau kegagalan itu berulang. Kita segera menyimpulkan bahwa jalan yang kita lewati adalah jalan sesat dan salah. Padahal kita harus mencoba terus, karena gagal adalah bagian dari perjalanan dan pengalaman, bukan berarti kita tidak bisa meraih cita-cita itu,” Murniasih bicara panjang.

“Kita harus yakin bahwa cita-cita itu benar dan kita bisa meraihnya asal berusaha. Keyakinan itu sangat diperlukan.”

“Ya, kamu benar. Kita hanya ditugaskan untuk berusaha. Keberhasilan itu belum tentu milik kita.”

“Tapi tanpa berusaha dia tidak akan datang dengan sendirinya, Kang.”

BACA JUGA:

Membuang Puing (14)

Konsultasi Lagi (13)

Perjuangan Lanjutan (12)

Perjuangan Lanjutan (11)

“Benar sekali. Bahkan kalau tidak berhasil pun, tanpa disadari, kita memperoleh pelajaran kalau sudah mencobanya.”

Malam semakin larut. Embun turun memudarkan cahaya lampu halaman. Tapi harapan di hati Marbun mulai terang, menghilangkan keraguan yang selama ini mengurung dirinya. 

 (Bersambung ke Titik Imaginer)

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018