Thursday, 06 August 2020


Memed Gunawan dan 12 Karya Buku Novel dan Puisinya

10 Jul 2020, 11:04 WIBEditor : Ahmad Soim

Memed Gunawan dan Beberapa karya Bukunya | Sumber Foto:Ahmad Soim

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Dilahirkan di Kuningan, Jawa Barat, tanggal 15 Pebruari 1948, Memed Gunawan lulus dari Fakultas Pertanian, Insititut Pertanian Bogor (IPB) jurusan Statistika Pertanian  pada tahun 1974, kemudian  mendapat beasiswa dari Pemerintah Indonesia untuk belajar di University of  Minnesota,  Amerika Serikat.  Gelar MSc dan PhD di bidang Agricultural and Applied Economics diperolehnya pada tahun 1988. 

Setelah bekerja sebagai Peneliti di Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Pertanian  sejak tahun 1975, kemudian pada tahun 1989 pindah berturut-turut ke Biro Perencanaan, Departemen Pertanian; Kantor Menko Perindustrian dan Perdagangan; Badan Agribisnis dan terakhir menjabat Sekretaris Jenderal Departemen Pertanian dari tahun 2001 sampai dengan 2005.  Sejak bulan Oktober tahun 2005 Memed Gunawan diangkat menjadi FAO-UN  (Food and Agriculture Organisation – United Nation)  Representative di Pakistan dan kemudian pindah ke Lesotho, Afrika pada bulan Desember 2007 sampai dengan tahun 2009.

Memed menikah dengan Sylvia Muthalib, seorang dokter lulusan Universitas Pajajaran, Bandung dan dikaruniai dua anak: Ryaldi Pratama dan Bayu Madendra serta lima orang cucu: Alyssa, Radya, Myiesha, Nana dan Zieven.

Kegemarannya  menulis sudah dimulai sejak di SMA lalu berlanjut pada saat mahasiswa.  Dia menangani Majalah Mahasiswa Fakultas Pertanian IPB dan menulis beberapa cerita pendek di Majalah berbahasa Sunda, Mangle. 

Catatannya dalam bentuk puisi telah diterbitkan dalam dua buku puisi:  “Ladang Berselimut Kabut”, “Setangkai Padi Seisi Negeri” pada tahun 2004, dan “Perjalanan Nurani ke Tanah Merdeka” pada tahun 2012.. Novel yang pernah ditulisnya adalah “Kaktus Berbunga” dan “Jalan Prahara” (2009), “Catatan Paimin: Manusia-Manusia Yang Terlupakan”, “Debat Kusir Para Birokrat”, “Garuda Berduka: Kisah Manusia Resah” dan “Ilalang Di Tanah Afrika” (2010). Pada awal tahun 2011 diterbitkan enam novelnya sekali gus, masing-masing berjudul “Hujan Putih di Serambi Cinta”, “Bong: Anak-Anak Langit”, “Menantang Takdir: Perempuan Pencari Cinta”, “Namaku NIO”, “Mengelas Cinta di Bengkel Tua”, dan “Buih Rindu dari Saudi”. Novel yang sedang Anda hadapi adalah karyanya yang ke duabelas yang ditulis pada bulan Juli 2011.

Buku-buku berikut bisa diperoleh dengan langsung pesan ke penulis melalui email memedhusen@yahoo.com atau SMS ke nomor HP 0811967855

 NOVEL KAKTUS BERBUNGA ....kemiskinan bukan untuk diratapi lalu dijalani dengan pasrah sehingga merasa kehilangan martabat dan harga diri. Setiap langkah kehidupan seseorang, siapa pun, tanpa kecuali, harus disertai keyakinan dan kepercayaan diri, disertai doa tiada henti, karena itulah hakekat kehidupan…..

 ….Ajie memandang masa depannya dengan kepala tegak tanpa ditakuti kepedihan masa lalu dan kemiskinan yang memerangkapnya…..

….Aku sangat keras secara fisik, tetapi cita-citaku dan yang ingin kutunjukkan kepada dunia adalah kelembutan dan keindahan….seperti bunga dan buah kaktus…. 

NOVEL JALAN PRAHARA…cinta orangtua tak mengenal waktu dan rasa takut, jadi ketika Johan berpikir tentang bencana narkoba menimpa anaknya, semua akan diperanginya sampai dia menang walaupun raganya hancur….

 …aku melarikan diri dari kenyataan hidup dengan terus menerus mencari kesenangan palsu. Yang kujalani adalah kebohongan dan kepura-puraan yang dibayar oleh penderitaan orang lain yang mencintaiku…

…yang kutebar adalah kebencian, kemunafikan, kebohongan dan kejahatan. Di hadapanku tidak ada dunia lain, kecuali bayangan dan fatamorgana kebahagiaan, tipuan yang sebenarnya aku sadari sendiri… 

NOVEL CATATAN PAIMIN, MANUSIA MANUSIA YANG TERLUPAKAN …ada fatamorgana yang membutakan hati dan mata. Ketika kemajuan hanya diukur oleh hal yang sifatnya fisik, manusianya dibangun dengan ukuran angka dan sertifikat, upaya manusia yang tidak memperoleh penghargaan, terkesampingkan oleh kepentingan keuntungan semata, keinginan yang tidak pernah didengar oleh orang-orang yang dipercaya untuk mengurusnya, dan kerusakan besar yang tidak dipedulikan…

 …desa dan manusianya tidak terjangkau oleh kemajuan yang memanusiakan manusia….

 BUKU DEBAT KUSIR PARA BIROKRAT di mana-mana kepentingan selalu muncul dari seorang manusia yang paling sederhana sekali pun.  Interest pribadi selalu ada di dalam pikiran manusia dalam setiap langkahnya, karena mereka adalah manusia. Itulah manusiawi…..

 ….maka terdapat perbedaan yang sangat jauh tentang harapan, pemikiran dan keinginan yang ada di kepala orang desa yang lugu dan dianggap bodoh, dengan para cerdik pandai yang berpendidikan tinggi, dan pejabat atau birokrat yang berkuasa dan menentukan. Ini mungkin gejala umum yang terjadi di bagian dunia mana pun…

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018